Tag

TANAH LIYAN, LANGIT LIYAN

Oleh Capra “Capung” Punjung

         Pagi tadi aku kerumah paman, katanya tadi sore tergelincir di jalan seberang. Aku liat dia tak apa-apa hanya sedikit memar di kaki. Kasian paman. Paman punya dua ekor sapi, dan tiga ekor babi.  Satu ekor sapi itu punya ayah. Karena kami tak punya cukup ruang untuk membuat kandang di samping rumah.

            Sepulang dari paman aku langsung bergegas sembahyang, agar kami diberi penghidupan yang layak, keselamatan, dan kesejahteraan. Akhir-akhir ini banyak batu di depan rumah, kerikil tajam. Udara kotor pula, mungkin itu yang membuat burung enggan kicau-kicau di depan rumah. Kadang kicau kadang tak. Sepoi ini angin menghembus. Semoga mereda.

            Aku tak tau apa yang dimaksud paman agar aku berhati-hati. Yaah hati-hati tampaknya jelas menusuk otak untuk selalu waspada. Remaja di sini harus tau kemana arah mata harus tuju. Namun sore ini tampak normal, biasa saja. Biasa saja dalam beberapa menit kedepan. Setelah itu, entah.

            Sehabis sembahyang, aku bergegas tidur, ada ulangan matematika besok di sekolah. Terkadang bosan melihat angka-angka, tapi malam setiap malam aku selalu berhitung. Menghitung bintang ditambah ke bulan saat hati sedang cemas. Apa yang terjadi dengan memar paman. Memar yang tak wajar.

 Pukul 01.00

             Mamak berteriak keras. Keras sekali. Hingga membelalak mata, belum sempat berpikir, dadaku sudah sesak. Wangian ini beda, bunga yang terbakar. Mamak menyeretku keluar rumah, tak memberi kesempatanku bertanya. Sayang sekali buku matematikaku terbakar. Sedari bukit hanya liat, rumahku memerah, sedikit kuning lalu memerah, hingga tinggi. Aku tak hirup wangian itu lagi.

“mak, kenapa ?”

“entah, tak dengar kau tadi. Di seberang sudah merah, hanya karena hujan yang buat jalan basah dan licin, tadi pamanmu sudah merah bukan ?!”

            Bicara mamak sudah tak tertata lagi, aku tau. Memar paman, merah yang tak wajar. Selagi semua sibuk bicara, ada yang menangis, yang kalang kabutan, menjerit. Aku hanya ingin melihat paman. Tak liat paman disisni. Mungkin disana.

            Aku tak melihat bapak, bapak tak ada di sini. Dari sekian ribu sanak-saudara kemana bapak.

“nek, bapak mana ?”

“dia tinggal, pamanmu juga, kakak sepupumu Ngurah juga.”

“kenapa tinggal, apa rumah paman tak merah ?”

“mereka berjaga, mungkin sebentar lagi kesini.”

            Menunggu beberapa jam tak kembali. Aku sudah tak tau lagi apa yang dimaksud dengan rumus “alas x tinggi : 2” pikiranku hanya sampai pada kenapa merah ?, siapa?, mengapa?, seperti menganalisis berita waktu pelajaran bahasa indonesia. “Pak pulang. Atau aku susul ?!”.

 (***)

             Sudah beberapa hari ini bapak tak kelihatan, terakhir lusa bapak datang dengan mata sembab, dan sedikit memar di tangan. Sekarang aku masih bersama mamak dan keluarga lain. Aku dengar beberapa keluarga tak punya babi atau sapi lagi. Semua bicara dengan bahasa daerah, mamak bicara dengan cepat, sesekali menangis, sesekali marah. Kadang matanya sembab, kadang merah dan akhirnya kelelahan sendiri.

            Aku dengar juga besok bisa pulang kerumah, tetua adat sedang berkumpul. Bicara mengenai nasib nasib sanak semua disini.

“nek, kakek ikut berkumpul tidak ?”

“kakekmu ikut, ayahmu juga, kemarin sedang berunding.”

            Aku berjalan memecah kerumunan, mendengarkan berbagai macam cerita, berita. Aku duduk. Hanya duduk diam melihat sanak bicara.

            Mendengar bahwa bupati daerahku datang dari seberang. Menengok sanak disini, aku berharap beliau datang menjenguk, melihat bagaimana keadaan di sini. Atau mungkin mengajariku belajar matematika, setidaknya aku bisa ulangan susulan.

            Namun harapanku tak kunjung terwujud. Beliau sudah terlanjur pulang ke seberang. Yang aku dengar petuah beliau “ini tanah liyan, langit liyan, jadilah orang liyan.”. aku hanya dengar kalimat itu. Aku tak maksud. Maksud ?

“tanah liyan, langit liyan, jadilah orang liyan . jadilah orang liyan, patuhi aturang di tanah liyan, tanah ini. Hormati sanak saudara liyan di seberang.” Terang mamak.

“aku belum maksud mak ?”

“kalau kamu pulang, tak usah bertanya macam-macam, bantu mamak bersihkan rumah, siapkan wangian, dan rawat lagi pohon di depan rumah.”

“kamboja?”

“tentu saja, kita tanam lagi.”

            Mamak terlihat tenang setelah beliau tuan dari seberang datang kemari, kakek, ayah, paman dan ngurah juga menjemput kami dengan tenang. Tak ada raut marah, tak ada rau dendam. “mari pulang, mari bersih-bersih rumah” [*]