Rintik-rintik air mengalir dalam sela udara sore itu. Biasanya ada beberapa orang yang lewat, namun sore itu begitu dingin.Tak ada rak yang besar, hanya buku yang berserakan dimana-mana, tak ada tanda kehidupan manusia bergerak di luar. Sore itu aku sedang bingun mencari sebuah buku usang yang susah untuk aku dapat. Buku usang yang aku simpan.

      Cerita | buku ini aku dapat sekitar dua tahun yang lalu, mencari dari ujung kota, sampai ujung yang lainnya. Hanya ada satu dan aku temukan di pasar buku loakan dengan harga Rp. 6000. Namun ini bukan cerita tentang buku. Ini cerita tentang seorang anak kecil yang bermain layang-layang di depan kampus di tanah lapang.

      “ada sebuah anak sedang bermain layang-layang dengan temannya, sore itu memang sedang kencang angin berhembus. Ramai dengan berbagai layang-layang yang ada di atas sana. Seorang anak terlihat gusar di antara teman yang lainnya. Ia gusar, dan angin menelan satu keindahan langit senja sore itu.

udara menjadi hangat yang semula dingin, ia diam dalam dengungan angin di telinga. lalu ia pergi tanpa sepatah katapun.”

seorang yang sudah tak diharapkan dalam sebuah pengertian adalah berjalan dengan kepala tegak, tersenyum, dan katakan aku kehilangan layang-layang. Biarkan ia terbang entah kemana, dan aku akan mencari kebahagiaan yang lain. layang itu tak berbohong, hanya mungkin aku yang tak dapat memiliki indahnya layang itu dalam setiap langit senja.