Tag

,

LEPASNYA TOPENG KEMUNAFIKAN – NOVEL BILA MALAM BERTAMBAH MALAM

KARYA PUTU WIJAYA

I.            PENDAHULUAN

            Putu Wijaya adalah seorang sastrawan di Indonesia yang masih aktif dalam kegiatan kesastrawanannya khususnya dalam bidang darama teater. Kali ini kita akan membahas tentang salah satu karyanya yaitu novel Bila Malam Bertambah Malam. Dalam novel yang terlalu rumit ini bagaimana pencerita menggabungkn antara latar dengan bagaimana keadaan setiap tokohnya, namun disusun dengan rapi.

        Dalam novel ini menceritakan bagaimana dalam sebuah keluarga yang banyak sekali kepura-puraan. Dalam kepura-puraan itu sebenarnya setiap tokok mempunyai seuatu perasaan kepada tokoh lain. Kenapa saya sebut menarik, karena kepura-puraan atau kemunafikan telah banyak dilakukan di dalam kehidupan kita.

            Dalam keadaan masyarakat dan bangsa yang sudah sulit untuk saling memprcayai karena sebab kepura-puraan itu sendiri. Sehingga dalam novel ini sangat menggambarkan jelas bagaimana Putu Wijaya mampu mengangkat realitas kedalam cerita fiktif namun dalam keadaan yang sebenarnya novel ini berbeda tipis antara bagaimana novel ini disebut sebagai cerita fiktif atau realitas.

II.            SISTEMATIKA

Novel ini menceritakan seorang janda yang begitu membanggakan kebangsawanannya. Ia hidup di rumah peninggalan suaminya dengan dilayani dua pembantu: seorang lelaki tua bernama Wayan, dan seorang wanita muda bemama Nyoman Niti. Pada puncak pertengkaran dengan majikan, Wayan meninggalkan tempat ia mengabdi, setelah Nyoman pergi mendahuluinya. Akan tetapi, kepergiannya terhalang mendengar pertengkaran janda bangsawan itu dengan anaknya yang baru dating dari Pulau Jawa, Ngurah. Karena persoalan bedil yang dibawa Wayan, terbukalah rahasia keluarga itu. Wayan sebenarnya adalah ayah Ngurah, karena suami Gusti Biang, yaitu Gusti Ngurah Ketut Mantri, bukanlah lelaki sejati. Bahkan suami yang selalu dibanggakan sebagai pahlawan itu sebenarnya seorang pengkhianat, sebab ia adalah mata-mata Nica.

Dalam permasalahan keluarga Gusti Biang, sebenarnya ia mencintai wayan namun karena tidak ingin anaknya mengetahui bahwa ayah yang sebenarnya adalah seorang pembantinya, maka Gusti Biang mengungkapkan rasa cintanya kepada wayan dengan membentak-bentak dan memarahi wayan, namun dalam hatinya berbeda.

Permasalahan juga datang saat Ngurah anak Gusti Biang ingin menikahi Nyoman yang notabene adalah pembantunya sendiri. Gusti Biang menolak jika Ngurah ingin menikahi nyoman kecuali hanya dijadikan selir.

Setelah itu Ngurah yang tahu bahwa I Gusti Ngurah Ketut bukan ayah sebenarnya dan mengetahui bahwa sebenarnya adalah seorang mata-mata Nica maka Ngurahpun perlahan benci. Setelah Bedil yang dimiliki oleh Wayan mengenai I Gusti maka Ngurah pun tidak sedih karena I Gusti dianggapnya sebagai penghianat.

Ketika Wayan membuka rahasia keberadaan Ngurah: Wayanlah ayah kandung Ngurah, sebab suami Gusti Biang wangdu. Wayanlah yang selalu memenuhi tugas sebagai suami bagi istri-istri I Gusti Ngurah Ketut Mantri yang berjumlah lima belas.

Cerita berakhir dengan kebahagiaan bagi semua: pasangan Ngurah – Nyoman, dan pasangan tersembunyi Mirah – Wayan. Tenyata motivasi pengabdian dalam keluarga itu adalah agar ia selalu dapat menjaga orang yang dikasihinya, demikian pula motivasi Nyoman. Tanpa motivasi tersebut, mereka sudah lama tidak kuat berdiam di puri tua itu.

 III.            PEMBAHASAN TEORI

Penedekatan Sosiologi Sastra merupakan perkembangan dari pendekatan mimetik yang memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan (wiyatmi, 2003). Dalam karya sastra tidak dapat kita pisahkan dengan kehidupan masyarakat yang ada, pada dasarnya penulis adalah bagian dari sebuah struktur masyarakat.

Dalam sebuah karya sastra memang mempunyai tujuan, dan berbagai macam tujuan itu pasti ada sebuah realitas yang menjadi dasar ekspresi pengarang menciptakan sebuah karya sastra, sehingga karya sastra tidak akan jauh antara sastrawan, karya sastra dan masyarakat.

Selain itu beberapa pendekatan lain guna mendukung adalah Pendekatan psikologi sastra. Dalam penciptaan karya sastra  memang kadang-kadang ada teori psikologi tentu yang dianut pengarang secara sadar atau samar-samar, dan teori tersebut ternyata cocok untuk menjelaskan tokoh-tokoh dan situasi cerita (Wellek & Warren, 1990). Sehingga sangat dimunginkan kita menemukan pesan moral yang sangat jelas dengan menilai bagaimana tokoh dalam mengahdapi situasi yang ada.

 IV.            HASIL ANALISIS

Dalam keadaan sekarang topeng kemunafikan memang sudah banyak dipakai, baik di berbagai kalangan. Lebih disayangkan lagi jika dalam novel ini dibahas kemunafikan dalam rumah tangga Gusti Biang, namun dalam ralitasnya topeng kemunafikan dipakai oleh kalangan dan sebagian orang yang diatasnamakan kepentingan rakyat.

Dalam novel ini di ketahui bahwa kemunafikan Gusti Biang yang tidak mau mengungkapkan yang sebenarnya karena Wayan hanyalah seorang pembantu I Gusti Ngurah Ketut. dan bagaimana tersiksanya batin kedua tokoh yaitu Gusti Biang dan Wayan yang sama-sama memendam perasaannya. Selebihya adalah bagaimana Gusti Biang menutupi kebohongan I Gusti Ngurah Ketut yang selama ini adalah mata-mata Nica dari anaknya sendiri Ngurah.

Dalam novel ini dapat dilihat bagaimana seorang Putu Wijaya mengkonstrusi dan membikin sebuah alur cerita dengan rapi dan bagaimana penulis menjadikan psikologi tokoh digambarkan secara nyata dengan dialog yang singkat namun menghidupkan suasana dalam novel dan klimaks tersebut.

Jika kita melihat dalam kenyataan yang nyata, topeng-topeng ini sering dipakai demi menutupi kebohongan-kebohongan yang dilakukan. Tidak hanya dalam rumah tangga, namun dalam berbagai bidang dan yang paring sering adalah dalam masalah percintaan. Dimana seorang memanfaatkan berbagai situasi yang ada untuk sebuah kepentingan yang menguntungkan bagi sebagian pihak.

Putu Wijaya juga sukses membuat bagaimana alur itu menjadi sangat hidup dengan pertikaian yang sebenarnya sangat sederhana. Pertikaian yang muncul adalah masalah yang kompleks dan dapat atau sering kita jumpai dalam masyarakat kita. Dalam novel ini juga dapat diambil beberapa pesan moral yaitu dalam sebuah kejujuran memang sangatlah sulit untuk membuat situasi menjadi biasa. Terkadang kejujuran itu membutuhkan sebuah situasi yang jujur dan mampu menanggung segala resiko dengan baik dari segala perbuatan, sehingga topeng kemunafikan itu pun dapat disingkirkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Wiyatmi. 2006. Pengantar kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Putu Wijaya. 1971.Bila malam bertambah malam. Jakarta: Pustaka Jaya