TOLERANSI  DALAM NOVEL BELENGGU

KARYA ARMJIN PANE

 

       I.            PENDAHULUAN

Novel Belenggu yang pertama kali muncul di Majalah Pujangga Baru No. 7 ini sebenarnya ditulis Armijn Pane pada tahun 1938. Para pengamat sastra Indonesia selalu menempatkan novel ini sebagai novel terpenting yang terbit sebelum perang. Sejak kemunculan pertama, tahun 1940, novel Belenggu banyak memperoleh berbagai tanggapan dan pujian. Semua novel ini ditolak oleh Penerbit Balai Pustaka karena isinya dianggap tidak sesuai dengan kebijaksanaan Balai Pustaka. Baru pada tahun 1940, Penerbit Dian Rakyat milik Sutan Takdir Alisjahbana menerbitkan novel ini, ternyata mendapat sambutan luas berbagai kalangan.

Novel ini juga dipandang sebagai novel pertama Indonesia yang menampilkan gaya arus kesadaran. Pada tahun 1969, novel ini memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah Indonesia. Belenggu sendiri merupakan sebuah pemberontakan dari apa yang dianggap tabu padahal itu kenyataan realitas sosial. Selain realita yang terjadi dalam rumah tangga, juga realita yang berkembang di jalanan. Novel Belenggu menceritakan tentang kehidupan rumah tangga yang tidak lagi harmonis. Penuh dengan kemisteriusan. Cerita yang disuguhkan mengandung nilai-nilai budaya, etika dan moral yang dapat mempengaruhi pembacanya. Penokohan juga sangat baik karena memberikan karakter-karakter yang pasti dan tidak berbelit-belit. Menggunakan setting budaya Jawa yang sangat khas di masa lalu. Kental dengan seni dan etikanya.

Novel Belenggu mempunyai daya tarik tersendiri karena menampilkan permasalahan perempuan yang berkaitan dengan pandangan masyarakat pada tahun 1940-an yang secara tidak langsung merugikan kaum perempuan. Pandangan tersebut berasal dari paham masyarakat yang menganggap kekuasaan sepenuhnya berada di tangan laki-laki. Topik mengenai perempuan, terutama yang membahas masalah gender beserta bias-biasnya adalah hal yang tetap menarik untuk dibicarakan sampai saat ini. Kalangan perempuan yang telah mengenyam pendidikan modern merasa perlu dan berhak untuk menyuarakan ketidakadilan yang dialaminya. Sedangkan adat dan tradisi yang telah mengakar menganggap pemikiran ini bisa menghancurkan tatanan yang selama ini telah dinilai berjalan baik. Belenggu merupakan salah satu novel yang cukup menarik untuk diteliti. Hal ini dikarenakan novel ini merupakan novel yang pernah ditolak oleh Balai Pustaka. Kemudian adanya asumsi dalam masyarakat pada masa itu bahwa seseorang yang berpendidikan tinggi tidak akan mengalami kegagalan dalam membina rumah tangga. Akan tetapi, Armijn membalikkan asumsi tersebut dengan menceritakan apa yang terjadi pada pasangan dokter Sukartono dan Sumartini, yang keharmonisan rumah tangga mereka akhirnya kandas. Pandangan Armijn yang meletakkan perempuan mampu tampil di sektor publik dan tidak hanya bekerja di lingkungan rumah tangga saja. Pandangan tersebut sangat bertentangan dengan konvensi masyarakat yang menempatkan posisi perempuan sebagai orang yang lemah dan tidak pantas menempati posisi sosial di atas laki-laki.

    II.            SISTEMATIKA

Ada tiga tokoh utama yang menjadi pusat cerita novel Belenggu. Yang pertama adalah dokter Sukartono (Tono), seorang dokter yang sangat mencintai pekerjaannya dan memiliki kepedulian kemanusiaan yang cukup tinggi sehingga dia dikenal sebagai dokter dermawan dan penolong. Tokoh kedua adalah Sumartini (Tini), istri Tono. Ia seorang perempuan modern yang tak ingin terkungkung dalam belenggu kehidupan domestik keluarga dan memiliki banyak aktivitas sosial di luar rumah. Di sisi yang lain, ia merasa diabaikan oleh suaminya yang waktunya banyak tersita mengurusi pasien. Tokoh ketiga adalah Nyonya Eni, alias Siti Rohayah (Yah), alias Siti Hayati. Yah adalah perempuan korban kawin paksa yang frustrasi, kemudian hidup sebagai perempuan panggilan, tetapi ia juga gemar membaca. Yah adalah teman lama Tono yang secara diam-diam mencintainya. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa ketiga tokoh utama novel ini berasal dari kelompok sosial dan berinteraksi dalam ketegangan perselingkuhan yang digambarkan sejak bagian pembuka novel ini.

Disini integritas seorang Tono adalah dia menjunjung tinggi pekerjaannya. Dia bekerja disiplin tanpa kenal lelah demi pasiennya. Dia juga seorang dokter yang dermawan karena sering membebaskan bayaran bagi pasiennya yang tidak mampu. Ternyata pengabdian Tono pada pekerjaanya telah membuat dia lupa pada kehidupan rumah tangganya. Akhirnya, dia bertengkar dengan istrinya hingga akhirnya dia berselingkuh dengan Yah teman sekolahnya dulu. Tono dan Tini akhirnya bercerai, dan Tono bertambah sedih ketika mengetahui bahwa Yah juga meninggalkan dia. Integritas seorang Tini adalah dia merasa tidak baik untuk menjadi seorang istri, dia menginginkan Yah yang menggantikan dirinya. Integritas seorang Yah adalah dia sangat mencintai Tono, Tono adalah harapan dimana cita-citanya akan kembali untuk menjadi wanita yang baik.

Di dalam hidup, banyak hal yang sering sulit untuk diterka benar salah atau baik buruknya. Bahkan ketika kita memilih pasangan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Tidak mudah memahami dan mengerti  dua hati dan dua pemikiran yang berbeda. Tampilan dan yang tampak di luar, terkadang jauh berbeda dengan apa yang tersembunyi di dalam sebuah diri.

Ada beberapa masalah yang terjadi oleh para tokoh dalam novel Belenggu. Masalah pertama yang terjadi pada tokoh Tini adalah dia merasa diabaikan dan beranggapan bahwa suaminya lebih mencintai pekerjaan daripada dirinya, seakan tidak pernah ada waktu komunikasi dalam rumah tangga. Hari-hari mereka sering dilalui dengan pertengkaran. Tini merasa tidak memiliki hak di hadapan Tono. Itulah yang memicu pertengakaran di antara mereka, sepertinya tiada hari yang dilalui tanpa pertengkaran. Masalah kedua masih terjadi pada tokoh Tini, dia mengetahui tentang perselingkuhan suaminya dengan Yah, Tini pun marah dan jengkel, kemudian pergi ke hotel tempat Rohayah menginap untuk memberikan caci maki dan menumpahkan amarahnya. Setibanya di hotel, perasaan marah Tini luluh oleh kelembutan hati dan keramahan Yah. Setelah pulang dari hotel tempat Yah menginap, Tini berintrospeksi diri. Dia merasa telah berlaku kasar pada suaminya dan tidak bisa memberikan rasa kasih sayang seperti yang diinginkan suaminya. Dia lalu memutuskan untuk berpisah dengan Tono. Masalah kedua yang terjadi pada tokoh Yah adalah dia dipaksa kawin dengan laki-laki pilihan orangtuanya, laki-laki itu lebih tua darinya. Yah akhirnya tidak tahan dan melarikan diri ke Jakarta, hingga akhirnya dia menjadi wanita panggilan dari hotel ke hotel.

Masalah ketiga yang terjadi pada tokoh Tono adalah dia berselingkuh dengan Yah, Yah dapat memberikan banyak kasih sayang yang sangat dibutuhkan oleh Dokter Sukartono yang selama ini tidak diperoleh dari istrinya. Dokter Sukartono tidak pernah merasakan ketentraman dan selalu bertengkar dengan istrinya, oleh karena itu dia sering mengunjungi Yah. Dia mulai merasakan hotel tempat Yah menginap sebagai rumahnya yang kedua. Setelah perselingkuhannya diketahui oleh Tini, Tini pun meminta bercerai dari Tono. Permintaan tersebut dengan berat hati dipenuhi oleh Dokter Sukartono. Bagaimanapun, dia tidak mengharapkan terjadinya perceraian. Dokter Sukartono meminta maaf pada istrinya dan berjanji untuk mengubah sikapnya. Namun, keputusan istrinya sudah bulat. Dokter Sukartono tak mampu menahannya. Akhirnya mereka bercerai. Betapa sedih hati Dokter Sukartono akibat perceraian tersebut. Hatinya bertambah sedih saat Yah juga pergi. Yah hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengabarkan jika dia mencintai Dokter Sukartono. Dia akan meninggalkan tanah air selama-lamanya dan pergi ke Calidonia.

 III.            PEMBAHASAN TEORI

            Dalam pembahasan ini, sedikit akan dijelaskan beberapa teori-teori pendukung dalam menganalisis novel Belenggu. Teori pendukung dalam pembahasan teori disini adalah feminisme. Adapun pengertian feminisme, diantaranya :

  • Menurut Dzuharyatin ( dalam Bainar, 1998: 16-17 )

Feminisme adalah sebuah ideologi yang berangkat dari suatu kesadaran akan suatu penindasan dan pemerasan terhadap wanita dalam masyarakat.

  •   Menurut Rosemary Tong dalam bukunya yang berjudul Feminist Tough

Feminisme adalah ideologi yang menyebabkan terjadinya penindasan kaum wanita.

 

  •  Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Feminisme adalah teori-teori yang mempertanyakan pola hubungan kekuasaan laki-laki dan perempuan.

  • Menurut Farid Achmad Okbah, M.Ag.   

Feminisme adalah idiologi yang dikembangkan oleh kalangan Eropa Barat dalam rangka memperjuangkan persamaan antara dua jenis manusia: laki-laki dan perempuan

  • Menurut Dr. Mansour Fakih

 Feminisme adalah  konsep gender yakni suatu sifat yang melekat pada lawan laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural.

  • Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua, cetakan keempat (1995)

 Feminisme adalah Gerakan wanita yang menuntut persamaan hak

 sepenuhnya antara kaum wanita dan pria.

  • Menurut Goefe

Feminisme adalah teori persamaan antara laki-laki dan wanita dibidang politik, ekonomi, dan sosial, atau  yang terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan kaum wanita.

Dengan demikian secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa feminisme adalah ideologi yang menyebabkan terjadinya penindasan, pemerasan kaum wanita, teori-teori yang mempertanyakan pola hubungan kekuasaan laki-laki dan perempuan.

Dari beberapa pengertian diatas, bahwa dalam novel Belenggu feminisme yang diperlihatkan adalah Tini sibuk dengan organisasi kewanitaannya dan segala macam kongres kewanitaan. Sumartini merasa telah disepelekan dan merasa bosan karena selalu ditinggalkan suaminya yang selalu sibuk menolong pasien-pasiennya. Dia merasa dirinya telah dilupakan dan merasa bahwa derajatnya sebagai seorang perempuan telah diinjak-injak sebagai seorang istri. Karena suaminya tidak mampu memenuhi hak sebagai seorang istri.

 IV.            HASIL ANALISIS

Dalam menganalisis novel Belenggu ini, menggunakan pendekatan feminisme. Pendekatan feminisme adalah salah satu kajian karya sastra yang mendasarkan pada pandangan feminisme yang menginginkan adanya keadilan dalam memandang eksistensi perempuan, baik sebagai penulis maupun dalam karya sastra-karya sastranya.

Menurut Tini, sebagai istri, perempuan juga berhak untuk “menyenangkan pikiran, menggembirakan hati” karena dia “manusia juga yang berkemauan sendiri”. Tini mengibaratkan istri yang hanya tinggal di rumah sebagai “barang simpanan, berbedak dan berpakaian bersih, sekali setahun dijemur diluar”. Tini menolak situasi yang demikian. Dia menegaskan, “Kami lain, kami bimbing nasib kami sendiri, tiada hendak menanti rahmat laki-laki” (Belenggu. hlm. 53).

Dalam dialog melalui surat dengan sahabatnya bernama Tati, Tini menemukan pertanyaan-pertanyaan kritis serupa. “Yu, Yu, benarkah kita perempuan, baru boleh dikatakan benar-benar cinta, kalau kesenangannya saja yang kita ingat, kalau kita tiada ingat akan diri kita, kalau kesukaan kita cuma memelihara dia? Kalau tiada perasaan yang demikian, benarkah kita belum benar-benar kasih akan dia? Aku bingung, yu, bukankah kita berhak juga hidup sendiri? Bukankah kita ada juga kemauan kita? Mestikah kita matikan kemauan kita itu? Entahlah, yu, aku belum dapat berbuat begitu” (Belenggu. hlm. 71).

Dari kedua hal diatas, sangat jelas terlihat bahwa pikiran-pikiran Tini dan berbagai gagasan yang ditampilkan dalam novel ini dapat dikatakan cukup maju untuk sebuah pandangan beraroma feminisme di zamannya. Sumartini merasa telah disepelekan dan merasa bosan karena selalu ditinggalkan suaminya yang selalu sibuk menolong pasien-pasiennya. Dia merasa dirinya telah dilupakan dan merasa bahwa derajatnya sebagai seorang perempuan telah diinjak-injak sebagai seorang istri. Karena suaminya tidak mampu memenuhi hak sebagai seorang istri.

DAFTAR PUSTAKA

Pane, Armijn. 2008. Belenggu. Jakarta : PT. Dian Rakyat.

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta : Pustaka.

Website . http://cahsasindo.blogspot.com . diakses pada tanggal 1 Mei 2011, pukul 21.00 wib.