KESEIMBANGAN DALAM HIDUP PADA CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI

KARYA AA.NAVIS

  1. PENDAHULUAN

Surau pada hakikatnya adalah tempat untuk beribadah, seperti miniatur masjid yang biasanya terletak di daerah pedesaan dan hanya sedikit orang yang mau bersinggah ke dalaam surau. Dalam Cerpen karya AA.Navis berjudul  “ Robohnya Surau Kami” yang terdapat pada kumpulan cerpen dengan judul yang sama dengan judul cerpan yang saya pilih. Pemilihan cerpen karya A.A. Navis tersebut bukan tanpa pertimbangan atau alasan sebab cerpen ini memiliki keistimewaan (bagi saya) dibandingkan dengan cerpen A.A.Navis yang lain. Keistimewaannya yaitu terletak pada teknik penceritaan A.A.Navis yang tidak biasa pada saat itu. Tidak biasanya karena Navis menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di alam lain. Bahkan di sana terjadi dialog antara tokoh manusia dengan Sang Maha Pencipta yang menurut saya merupakan suatu hal yang sangat langka terjadi pada manusia awam yang lain. Hubungan manusia dengan TuhanNya yang begitu kentara terlihat adalah bagaimana manusia menempatkan dirinya sebagai makhluk yang sempurna ciptaan Tuhan dan cara beribadah dan pengabdian manusia pada Tuhan.

Hubungan manusia dengan Tuhan adalah bagaimana wujud pengabdian dan cara beribadah seorang manusia kepada Tuhan. Ibadah merupakan patokan untuk mencapai pengabdian yang suci pada Tuhan. Seseorang yang melakukan ibadah tanpa menghiraukan hubungan sosial kemasyarakatan maka akan menuju suatu hal yang kosong dan akan banyak merugikan dirinya sendiri. Cinta ilahiyyah tidak dapat menjadi hal yang pokok tanpa disertai dengan kecintaan terhadap alam semesta dan sesamanya.

Masyarakat menjadi sesuatu kelompok yang patut untuk dihormati bahkan dijaga dalam peradabannya. Dalam cerpen karya AA.Navis ini sangat gamblang terlihat bahwa kecintaan terhadap illahiyah dari seorang kakek pengikir pisau yang membuat ia egois dan tidak melihat lingkungan sekitar  tempat tinggalnya.

    II.            SISTEMATIKA

Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat, surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Orang itulah yang merawat dan menjaganya. Kelak orang ini disebut sebagai Garin.Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada yang paling pokok yang membuatnya bisa bertahan, yaitu dia masih mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue atau rokok.Kehidupan orang ini agaknya monoton. Dia hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Dia tidak ngotot bekerja karena dia hidup sendiri. Hasil kerjanya tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan.

Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Lalu, keduanya terlibat perbincangan yang mengasyikan. Akan tetapi, sepulangnya Ajo Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan kesal. Karena dia merasakan, apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya. Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhannya. Dalam sujudnya itu, dia tak pernah berpikir bahwa masyarakat sangat membutuhkan kayu untuk memasak, dan akhirnya kayu suraupun dijadikan kayu bakar.

Apakah semua yang dikerjakannya semuanya salah dan dibenci Tuhan ? Atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi dimata Tuhan dia itu lalai. Akhirnya, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka. Penjaga surau itu begitu memikirkan hal ini dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia tak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur. Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematiannya. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau dia tetap pergi bekerja.

 III.            PEMBAHASAN TEORI

Dalam pembahasan teori mengenai cerpen Robohnya Surau Kami ada beberapa teori pendukung dalam analisis ini. Yaitu moral itu sendiri, moral yang sangat mendasari pada kandungan isi sebuah novel baik dari segi sikap, tingkah laku dan ceritanya. Istilah Moral berasal dari bahasa latin. Moral merupakan sesuatu yang ingin disampaiakan oleh pengarang kepada pembaca, yang merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra dan makna yang disarankan lewat cerita (Nurgiyantoro,2003:321).

Untuk mendukung teori di atas ada beberapa teori pendukung yaitu pendekatan psikologi sastra. Dalam penciptaan karya sastra  memang kadang-kadang ada teori psikologi tentu yang dianut pengarang secara sadar atau samar-samar, dan teori tersebut ternyata cocok untuk menjelaskan tokoh-tokoh dan situasi cerita (Wellek & Warren, 1990). Sehingga sangat dimunginkan kita menemukan pesan moral yang sangat jelas dengan menilai bagaimana tokoh dalam mengahdapi situasi yang ada.

 IV.            HASIL ANALISIS

Cerpen karya A.A. Novis yang mengisahkan seorang kakek Garin, yang meninggal secara mengenaskan yaitu membunuh diri akibat dari mendengar cerita bualan seseorang yang sudah dikenalnya, ternyata cukup memikat siapapun yang membacanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan yang harus ada keseimbangan dengan alam dan lingkungan sekitar. Hal yang paling penting adalah seseorang dapat menempatkan diri pada kondisi lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Dalam cerpen ini sangat menonjol bagaimana psikologis tokoh kakek garin saat mendengar cerita bualan dari Ajo Sidi. Cerita itu membuat kakek Garin ingat akan masa lalunya sehingga ia merasa bersalah karena telah meningggalkan keluarganya dan hanya mementingkan urusan akhirat. Dalam keadaan ini kakek garin sangat ditonjolkan karena penulis ingin menunjukkan gagasannya bahwa hidup haruslah mempunyai keseimbangan antara dunia dan akhirat sehingga tercipta kehidupan yang berimbang.

Dalam karya sastra terdapat beberapa unsur intinsik yang berada di dalamnya. Dalam melakukan analisis ini, saya mengulas unsur penokohan, tema, alur, dan latar. Penokohan dalam cerpen ini yaitu: Ajosidi, mempunyai kepribadian suka mempengaruhi dan kakek yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain.

Tema dalam cerita ini adalah keagamaan.Alur yang digunakan adalah mundur, karena menceritakan akhir dulu baru awal. Latarnya adalah di sebuah surau yang terletak di desa yang terpencil dan jauh dari peradaban.

DAFTAR PUSTAKA

Nurgiantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Wiyatmi, 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Navis, A.A. 1956. Robohnya Surau Kami. Jakarta: Kompas