Tag

,

Judul buku : Teh Poci dan Kamar Kecil

Pengarang : Bode Riswandi dkk

Penerbit : Bukupop

Tahun terbit : Cetakan Pertama, Juli 2009

Tebal buku : vii + 111 halaman

Resensi : Edwin Ihsani

 

Pandangan akan sebuah kemanusian dan juga kesewenang-wenangan terlihat dalam buku antologi puisi yang berjudul Teh Poci dan Kamar Kecil, yaitu dalam puisi yang berjudul Danga Bay, Malaysia, berikut :

Danga Bay, Malaysia

 

Seperti menemui jalan pintas ke arahmu, dua selokan

Sebelum daun-daun senja melebarkan tulang-tulangnya,

Aku akan sampai pada gelombangmu. Tentang kapal layar

Dan laut berwarna bulan aku terpejam menikmati aroma kepedihan

Kau menarikku dalam keasinan, dan keasinan menarikku sampai tawar.

 

Aku terpejam menikmati hujan, sambil kufasihkan

Sebuah kota kecil yang memiliki langit paling kusam.

Pikiranku bergulingan sepanjang waktu terowongan

Dan waktu tak pernah berhenti memintal setiap selokan

 

Penulis ingin menyampaikan perasaan prihatinnya melihat kehidupan masyarakat yang merantau ke negeri seberang hanya untuk menyambung hidup namun bukan lebih baik hidupnya namun sebaliknya. Seperti dalam baris kalimat Dan laut berwarna bulan aku terpejam menikmati aroma kepedihan/Kau menarikku dalam keasinan, dan keasinan menarikku sampai tawar. penulis ingin berbagi mengenai pandangannya tentang permasalahan itu, dan mengungkapakan kota yang penulis maksudakan dalam baris kalimat berikut Sebuah kota kecil yang memiliki langit paling kusam.

Terlepas dari puisi di atas, puisi tidaklah bisa terlepas dari latar belakang penulis menulis puisi tersebut, seperti halnya puisi yang berjudul Alamat, berikut :

 

Alamat

 

Cinta telah membuatkan

Alamat untukmu,

Maka datanglah

 

Poskan jiwamu dari rantau

sebelum hati ini

Pindah rumah sejauhnya

 

Puisi di atas menggambarkan bahwa, jika kita mempunyai perasaan kepada orang lain maka haruslah kita sampaikan agar orang tersebut mengerti dan mengetahui bagaimana sebenarnya perasaaan kita, agar jika suatu saat nanti orang yang kita sayangi pergi kita tidak merasa bersalah dengan perasaan kita sendiri.

Kita tahu bahwa puisi adalah sebuah ungkapan perasaan, ide, gagasan yang di ungkapkan dengan cara yang berbeda yaitu dengan mengepentingkan nilai keindahan di atas makna yang akan di ungkapkan, sepertihalnya puisi yang berjudul Teh Poci dan Kamar Kecil yang juga menjadi judul buku ini, berikut :

Aku tuangkan teh. Sajakmu kurendam./merembes ke dalam cangkir menjadi abu, jika kita lihat dalam kalimat disamping, bagaimana bisa sajak yang di rendam merembes menjadi abu.

Terlihat dalam baris kata berikut Kran sengaja kuputar deras, dan aku merenang dalam cangir, bagaimana bisa kita berenang dalam cangkir, itu adalah salah satu contoh bahwa puisi Teh Poci dan kamar kecil mengedepankan nilai estetis di atas makna yang di sampaikan, seperti dalam bait berikut :

Amat manis gula pasir sajakmu, lidah amat ngilu/mengecap langit lindap./ini cuaca turun dari keningku./tang-tiang hujan di berdirikan. Tempurungku dikebalkan/alamat tafsir para pencari rahim dari hutan belukar./dan kamar kecil kamarmu masih abu-abu.

Selain puisi di atas, ada beberapa puisi yang lain misalkan Pembakaran-Pembakaran, Episode Ke-23, Akolade dan sebgainya.