Tag

, , , ,

Lah Rah Zah;

satu lagi misteri, dan berbgai macam yang mengikutinya. Saat denting yang menghanyutkan tak lagi merobek suasana, saat alunan tak lagi bisa tanangkan jiwa yang gundah, saat dimana rasa terpaut kepada yang maha kuasa, melihat betapa kerdil dan sombongnya manusia. saat ini aku sedang tak bisa tertawa, saat ini air menjadikan semua lebih terdramatisir, dan menjadikan tangis yang indah.

aku menangisi jiwaku yang lemah, kering, resah, mendesah di antara kepingan dunia yang sakit. terasa yang kecil dariku hilang terjepit.

 

saat ini aku hilang akan indah,

mengalun, terlena dalam dingin

menerbangkan butir-butir pasir,

dalam diamku

 

termat indah yang ada,

aku tak ingin mendahului-Nya,

terima aku apa yang diberinya,

entah lalu; sekarang; esok; lusa;

entah sedih; bahagia; kecewa;

 

tuhan beri sebuah keindahan;

dan terimalah,

satu jengkal tak akan terhanyut,

atau tolaklah, jika

yakin esok akan lebih indah ?

kau mendahului tuhan

maka terimalah,

 

***

sebuah rencana yang terbaring, bukan sekedar rencana. api yang membakar, bukanlah panas yang memanaskan; dingin yang mendinginkan; sejuk menyejukkan, maka berbaliklah dan merenunglah ..

***

 

Yogyakarta, Januari 2012 . aku masih sendiri