Bagaimana tentang hari ini, hari ini tidak hujan ataupun mendung sama sekali.”terkadang ketakutan itu perlu, ataukah hanya sebuah ilusi yang sangat tidak di gemari ?”.

****

Akhir-akhir ini bulan terasa panas, dan udara sedikit mencekik leherku, mungkin perlu membuka kancing baju di sela-sela leher agar aku bisa sedikit lega dan dapat sedikit meluruskan kaki. Saat itu ada sebuah bidak catur yang tergeletak tak ter urus di menja. Aku merapikannya, mencoba menyusun satu demi satu pion-pionnya. Terasa sebuah hal yang aneh, di bagian pion putih hanya ada raja dan tak berratu.

Aku mencoba mencari, mungkin hanya terselip di antara tumpukan koran. Namun lama mencari tak ada dimana rimbanya, ahh entahlah. Namun saat aku memalingkan muka dan  melihat ke arah kaki meja, benar di sanalah pion tersebut. Terganjal dan terjepit di selala-sela.

Aku berpikir lagi kenapa tulisanku akhir-akhir ini selalu sama tentang ketakutan, entah bagaimana aku memulainya, aku hanya mencari sebuah kata pembuka, namun tetap saja bermuara pada hal yang sama “kekalutan”. Lalu aku kembali menata, aku membayangkan ada lawan main di depanku. Mencoba berpikir keras, namun tetap saja tak berjalan satu langkahpun pion di depanku ….

***

Suara menyeruak dengan perlahan, “cukuplah pandai kau mencari sebuah jalan keluar sendiri ?” sahut Senleise.

“mungkin satu hari tak cukup untuk menabuh genderang agar perajurit itu maju ..”, dengan menunjuk ke bidak catur d depanku.

“aku akan coba membantumu.”, ujarnya dengan tegas.

Bagaimana sebuah pion kecil bisa berjalan tanpa ada yang mengawal, ini seakan menjadi sebuah ketakutan akan sebuah kematian. Dalam sebuah film perangpun tak akan pernah ada seorang pion maju sendiri tanpa ada sebuah perlindungan, sebuah baju besi untuk sekedar yakin bahwa tubuhnya tak akan tergores oleh panah ataupun pedang.

Senleise tak mau mengalah dengan bidak pion caturnya. Namun dia hanya diam, dan aku semakin bingung apa yang akan dia lakukan. Aku hanya merasa was-was karena Ratu tak terhalang satupun pion karena memang aku berjalan dalam keadaan terjepit dan Sen tak mau mengalah.

Takhayal aku juga ikut berpikir, menjelaskan bagaimana aku bisa mencari jalan keluar ..

saat tubuh ini berpeluh

dengan dingin tanah rimba,

berairlah embun karena kehangatan tubuh,

mencerna semua alam  yang terkubur dalam;

jasad yang menjadi kaku karena sepi.

bunga yang mekar karena indah

memakasa serah,

menggeliat dalam hening trah,

melantun ngarai berdawai;

rawa yang terkubur gelap;

dewa yang tak kunjung lelap,

awan terlanjur kedap;

dimana ratu tersekap

terbuat lunglai tubuh sungai.

“Bangunlah dari lamunanmu, aku sudah berjalan” ujar Sen.

yahh, aku hanya melihat satu pion berjalan dengan berbagai macam kemungkinan. Aku hanya merasa resah sekarang, saat aku ingin melanjutkan permainan diselanya dengan berkata ..

“Bagaimana tentang hari ini, hari ini tidak hujan ataupun mendung sama sekali, terkadang ketakutan itu perlu, ataukah hanya sebuah ilusi yang sangat tidak di gemari ?” ujar Senleise di malam itu.

Dan ternyata aku bercengkrama di kota Tross tempat ia tinggal.

if I can get into your heart?