KESABARAN DAN KETEKUNAN DALAM NOVEL KEMARAU

KARYA A.A NAVIS

       I.            PENDAHULUAN

            Kita seharusnya bersyukur telah memiliki sebuah pekerjaan, dan maka dari itu kita seharusnya tekun, dan sabar dalam mengerjakan pekerjaan kita. Dalam novel Kemarau ini digambarkan dengan jelas oleh A.A Navis mengenai ketekunan dan kesabaran dalam menjalani pekerjaan.

            A.A Navis adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesiayang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami. Navis ‘Sang Pencemooh’ adalah sosok yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi, agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para koruptor. Pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan tapi jika dikasih memilih ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu resikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu.

            Dalam novel ini penulis ingin memberikan berbagai macam pesan. Menarik jika dibaca bahwa cerita ini berkisah tentang gambaran masyarakat di daerah Minangkabau pada waktu itu. Sangat menarik jika kina memabca dan mengapresiasi buku karya AA Navis karena didalamnya terdapat kritik sosial tentang berbagai nilai-nilai kehidupan yang sudah mulai pudar.

    II.            SISTEMATIKA

Musim kemarau yang panjang yang melanda di negara ini membuat para petani berputus asa. Hal ini disebabkan oleh keadaan sawah dan ladang mereka yang kering karena tidak ada air hingga panasnya sangat menyengat tubuh. Dengan keadaan yang seperti ini membuat para petani tidak sanggup lagi untuk menggarap sawah mereka apalagi untuk mengairinya. Sedangkan yang mampu mereka saat ini hanyalah bermalas-malasan dan asyik bermain dengan kartu saja. Tetapi hal itu tidak dilakukan oleh semua petani. Salah satu orang yang tidak melakukan hal itu adalah Sutan Duano. Meskipun dalam keadaan kemarau dan kering, ia tetap semangat dan berusaha untuk mengairi sawahnya tetap tumbuh subur. Tanpa menghiraukan rasa panas yang membakar tubuhnya, Sutan Duano tetap bekerja keras. Hingga Sutan Duano berharap agar petani lain bersedia mengikuti caranya itu. Untuk meyakinkan teman-temannya ia juga sempat memberikan ceramah kepada ibu-ibu pengajian di surau mereka. Tetapi tak satupun petani yang mau menghiraukan ceramahnya apalagi mengikuti langkah-langkah yang disarankannya.

Hingga suatu hari ada seorang anak kecil yang berumur kurang lebih dua belas tahun bernama Acin. Ia rajin membantu Sutan Duano untuk mengairi sawahnya. Melihat semua yang dilakukan Sutan Duano dan Acin, penduduk desa bukannya mencontoh atau meniru apa yang mereka lakukan tetapi penduduk desa justru mempergunjingkan dan menyebarkan fitnah tentang Sutan Duano bahwa dia mencoba mendekati dan mencari perhatian Gundam, yang tak lain adalah Ibu Acin yang saat itu ia berstatus sebagai janda yang mempercayai gunjingan itu. Tetapi Sutan Duano tetap bersikap tenang dan ia tetap tidak menanggapinya meskipun gunjingan tentang dirinya semakin memanaskan hati dan telinga Sutan Duano.

Pada suatu hari Sutan Duano menerima telegram dari Masri, yaitu anak Sutan Duano yang sudah dua puluh tahun disia-siakannya. Ia dimintanya ke Surabaya. Dalam hati Sutan Duano ingin mengunjungi anak semata wayangnya namun di sisi lain ia tidak mau meninggalkan bocah kecil yang masih membutuhkan bimbingannya. Setelah di pertimbangkan, akhirnya Sutan Duano memutuskan untuk pergi ke Surabaya mengunjungi anak-anaknya Masri. Setelah Sutan Duano pergi, penduduk desa merasa kehilangan dia, karena mereka telah membuktikan bahwa semua saran yang diajarkan olehnya telah dijalankan penduduk desa dan menuahkan hasil. Penduduk desa menyesali perbuatannya yang pernah salah sangka terhadap Sutan Duano.

Akhirnya Sutan Duano berangkat ke Surabaya. Namun sesampainya di Surabaya hati Sutan Duano hancur ketika bertemu dengan mertua anaknya. Mertua anaknya itu ternyata adalah Iyah, mantan istrinya yang tak lain adalah Ibu Masri. Hal itu membuat Sutan Duano marah pada mantan istrinya karena telah menikahkan dua orang bersaudara. Saking marahnya ia mengancam akan memberitahukan hal itu pada Masri dan Arni. Namun Iyah tidak setuju hingga ia terpaksa mencegah Sutan Duano dengan memukul kepala mantan suaminya dengan sepotong kayu. Namun Arni datang dan menghalanginya hingga Sutan Duano bisa diselamatkan, Iyah yang melihat mantan suaminya bersimpah darah merasa menyesal kemudian ia memberitahukannya kepada Arni, bahwa Sutan Duano adalah mantan suaminya. Arini sungguh terkejut mendengar pernyataan itu. Kemudian ia menceritakan pada Masri suaminya dan mereka pun sepakat untuk bercerai. Karena penyakit yang sudah lama dideritanya, tak lama kemudian Iyah meninggal dunia.

Sutan Duano pun kembali ke desa lalu menikah dengan Gundam, seorang wania yang sudah lama dikabarkan oleh penduduk desa akan dinikahi Sutan Duano sebelum ia berangkat ke Surabaya. Akhirnya mereka hidup bersama di sebuah desa dengan bahagia.

 III.            PEMBAHASAN TEORI

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pragmatik. Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung nenilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya (Pradopo, 1994). Karena karya satra tidak lepas dari sebuah pelajaran dan permasalahan kehidupan. Sehingga sering sekali karya sastra disebut dengan realitas yang difiksikan dengan mengambil berbagai nilai atau pelajaran yang ada.

Beberapa teori penduku yaitu Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra berupaya memahami hubungan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Dalam pendekatan ini karya sastra dianggap sebagai tiruan alam atau kehidupan (Abrams, 1981). Untuk dapat menerapkan pendekatan mimetik dalam mengkaji dan memahami karya sastra, dibutuhkan data-data yang berhubungan dengan realitas (kenyataan) yang ada di luar karya sastra, yaitu kenyataan yang dipandang sebagai latar belakang atau sumber penciptaan karya satra yang akan dikaji.

Dalam pembahasan teori mengenai novel Kemarau ada beberapa teori pendukung dalam analisis ini. Yaitu moral itu sendiri, moral yang sangat mendasari pada kandungan isi sebuah novel baik dari segi sikap, tingkah laku dan ceritanya. Istilah Moral berasal dari bahasa latin. Moral merupakan sesuatu yang ingin disampaiakan oleh pengarang kepada pembaca, yang merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra dan makna yang disarankan lewat cerita (Nurgiyantoro,2003:321).

 IV.            HASIL ANALISIS

Novel ini menggambarkan tentang kehidupan masyarakat Minangkabau yang mempelajari ilmu agama secara setengah-setengah mereka hanya menyerah pada nasib. Kapasrahan masyarakat itu digambarkan dengan hanya bermain kartu saat musim kemarau. Hal yang mereka lakukan itu untuk mengisi waktu luang dan untuk mengatasi kesulitan hidup mereka hanya menyerah pada nasib dengan berdoa. Kita sama-sama tahu bahwa berdoa tanpa usaha tidak akan membuahkan hasil.

Kelakuan masyarakat Minangkabau seperti itu dipertentangkan dengan tindakan salah seorang masyarakat Minangkabau juga yang digambarkan melalui tokoh utamanya yaitu Sutan Duano. Tokoh ini memahami ajaran agama Islam dengan baik. Sehingga sewaktu dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Minangkabau yang juga bekerja sebagai petani hanya bermalas-malasan pada saat musim kemarau. Sutan duano ini tetap bekerja dengan sabar dan teun dengan mengari sawahnya walaupun musim kemarau. Walaupun itu ditentang dan di cemooh oleh masyarakat sekitar.

Tetapi seorang laki-laki yang sudah lumayan tua itu justru berusaha meyakinkan para petani untuk tetap mengairi sawahnya walaupun kemarau. Memang awalnya pendapat atau saran Sutan Duano sempat ditolak bahkan tidak digubris oleh sebagian masyarakat Minangkabau. Namun, setelah dipikir-pikir dan melihat kesuksesan yang didapat oleh Sutan Duano, akhirnya masyarakat Minangkabau menjadi sadar dan menerima saran dari Sutan Duano. Bahkan mereka juga menjalankan sarannya dengan mengairi sawahnya meskipun kemarau.

Dalam kenyataan yang sebenarnya, masih banyak masayarakat yang masih di daerah terpencil yang hanya mengandalkan satu musim saja, yaitu musim penghujan. Pada saat musim kemarau datang mereka hanya bersantai-santai dan tidak melakukan apa-apa. Keadaan seperti itulah yang menggugah AA Navis yang dikenal sebagai pengkritik untuk membahas masalah tersebut, dan dalam novel ini masayarakat Minangkabau lah yang dijadikan latar cerita ini.

DAFTAR PUSTAKA

Nurgiantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

A. A. Navis. 1992. Kemarau. Jakarta: Grasindo