KEBULATAN TEKAD DALAM NOVEL AYAT-AYAT CINTA

KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY


I.     PENDAHULUAN

Novel Ayat-ayat Cinta ini merupakan novel religi yang sangat bagus karena novel ini mengangkat tema tentang norma kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan perilaku remaja. Novel ini termasuk salah satu novel fenomenal yang disambut baik oleh pembaca. Hal ini terbukti dari penjualan novel ini yang menembus level best seller. Di samping novel Ayat-ayat Cinta ini sangat menarik karena banyak terdapat informasi baru, novel ini juga mampu menyuguhkan diri menjadi novel budaya, novel politik, novel religi, novel etika, novel bahasa, novel fikih, dan novel dakwah sehingga sangat menarik untuk dibaca.

Kita akan mudah jika melihat realitas tentang percintaan. Namun dalam sebuah fenomena sekarang sudah sangat mudah seorang jatuh cinta, dan mudah pula seseorang patah cinta atau kecewa. Memang tidaklah hal yang baru jika kita membaca tentang novel ini. Namun yang kita lihat adalah bagaimana penulis membuat sesuatu permasalahan itu dapat menjadikan suasana nyata.

    II.            SISTEMATIKA

Dalam novel Ayat – Ayat Cinta menceritakan Seorang mahasiswa S2 universitas Al Azhar yang berasal dari Indonesia itu ialah Fahri bin Abdullah Shiddiq. Di Mesir Fahri nama panggilan tinggal bersama Rudi, Syaiful, Hamdi dan Mishbah di Flat sederhana. Di flat itu mereka berkenalan dengan keluarga Girgis dan Maria lah salah satunya. Maria adalah gadis Kristen yang mampu menghafal surat Maryam dan Al Maidah. Maria dan Fahri semakin akrab begitu pula dengan Rudi, Syaiful, Hamdi dan Misbah,karena mereka saling tolong menolong dalam hal pendidikan. Suatu ketika Fahri pergi tallaqi dengan naik metro seperti biasanya. Di metro ia mengenal seorang gadis bercadar bernama Aisyah.

Aisyah adalah gadis yang membela tiga orang bule yang naik metro untuk mendapatkan tempat duduk, akan tetapi sempat terjadi pertengkaran karena ada seorang penumpang metro yang sangat membenci bule yang menggangga bangsanya seorang teroris. Tetapi Aisyah dan Fahri mampu meyakinkan penumpang itu dan berhasil merayunya agar mengizinkan bule itu duduk dan dapat mengatasi ketegangan yang terjadi didalam metro. Gadis bule itu bernama Allicia, ia sangat berterima kasih dengan Aisyah dan Fahri. Selain Aisyah dan Maria, Fahri juga mengenal seorang gadis yang juga mahasiswa Al Azhar dari Indonesia,yaitu Nurul.

Disini Nurul menaruh hati pada Fahri layaknya maria. Ketika malam tiba di bawah flat ada keributan yaitu si muka dingin Bahadur sedang menghajar anaknya yaitu Noura..Melihat kejadian itu Fahri dan Maria tidak tega hingga akhirnya mereka membantu Noura dengan menempatkannya di asrama bersama Nurul. Setelah itu Nurul juga sempat menulis surat untuk Fahri. Pada suatu hari ketika Fahri mengaji pada Syaikh Utsman, Fahri ditanya dan ditawari untuk menikah. Tak lama kemudian Fahri menyetujui tawaran Syaikh Ustman hingga Fahri diajak berkenalan dengan calon istrinya. Saat pertemuan pun tiba Fahri bertemu dengan calon istrinya yang ternyata adalah Aisyah yang keponakan Iqbal, orang Indonesia yang sangat dikenal oleh Fahri. Setelah perkenalan itu tak lama kemudian mereka menikah tanpa dihadiri orang tua Fahri. Mendengar berita itu Nurul kecewa karena sempat menyayangi Fahri dan yang paling kecewa lagi adalah Maria karena ia juga mencintai Fahri. Aisyah dan Fahri sangat bahagia mereka hidup bersama.

Ketika kebahagiaan itu terjadi cobaanpun menghadangnya. Begitu sayangnya kepada Fahri, orang tua Nurul meminta Fahri untuk menikahinya tetapi Fahri mampu menolaknya dengan halus. Tetapi cobaan berat menimpanya ketika Fahri ditangkap untuk dipenjara atas tuduhan memperkosa Noura. Fahri difitnah dan dijebak. Akhrinya setelah melalui persidangan Fahri sadar bahwa Marialah kunci saksi yang bisa memenangkan persidangan itu. Tetapi sayangnya saat itu Maria sedang koma karena ia ditabrak oleh orang suruhan Bahadur. Selain itu, ia menderita penyakit dan kecewa atas kegagalan cintanya dengan Fahri. Banyak cara untuk membangunkan Maria, tetapi tetap saja gagal bahkan mereka hampir putus asa. Tetapi Asiyah punya ide bahwa jalan satu-satunya adalah menikahkan dengan suaminya yaitu Fahri. Demi Fahri Aisyah merelakan suaminya menikah dengan Maria. Fahri akhirnya menikah dan pernikahan itu membuat Maria bangun untuk membantu Fahri bebas dari penjara. Apa yang diharapkan telah tercapai dan mencintainya. Karena penyakitnya yang parah itu, Maria sakit lagi bahkan lebih parah lagi. Ketika di rumah sakit Maria bermimpi setelah bangun dari mimpi itu Maria meminta Aisyah dan Fahri membantunya berwudhu dan mengajarinya sholat. Dengan penuh heran dan iba mereka menuruti kemauan Maria. Setelah itu Maria berbaring dengan suara lirih Maria mengucapkan kalimat syahadat lalu perlahan pandangan matanya meredup dan akhirnya tertutup rapat. Aisyah dan Fahri tak kuasa menahan air matanya melihat Maria yang telah menghadap Tuhan dengan menyungging senyum di bibir dan wajah bersih seakan diselimuti cahaya.

 III.            KAJIAN TEORI

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pragmatik. Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung nenilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya (Pradopo, 1994). Karena karya satra tidak lepas dari sebuah pelajaran dan permasalahan kehidupan. Sehingga sering sekali karya sastra disebut dengan realitas yang difiksikan dengan mengambil berbagai nilai atau pelajaran yang ada.

Penedekatan Sosiologi Sastra merupakan perkembangan dari pendekatan mimetik yang memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan (pengantar kajian sastra, wiyatmi, hlm:97). Dalam karya sastra tidak dapat kita pisahkan dengan kehidupan masyarakat yang ada, pada dasarnya penulis adalah bagian dari sebuah struktur masyarakat.

Dalam sebuah karya sastra memang mempunyai tujuan, dan berbagai macam tujuan itu pasti ada sebuah realitas yang menjadi dasar ekspresi pengarang menciptakan sebuah karya sastra, sehingga karya sastra tidak akan jauh antara sastrawan, karya sastra dan masyarakat.

 IV.            HASIL ANALISIS

Pendekatan sosiologi sastra dapat diterapkan dalam novel ini. Pendekatan ini dapat dilihat melalui sosiologi pengarang, sastra, pembaca serta dampak sosial karya sastra. Melalui sosiologi pengarang novel ini digambarkan multikultural budaya antara Indonesia dan Mesir. Penerapan sosiologi sastra dalam kaitannya dengan masalah sosial adalah mengaitakan novel Ayat-Ayat Cinta dengan realitas kehidupan yang nyata yang ada di masyarakat. Dimana hanya dengan cinta dan kelakuan yang baik seperti Fahri bisa membuat wanita-wanita menyukainya sampai melakukan apa saja hingga sakit seperti yang dialami oleh Maria, bahkan Noura yang membalas kebaikan Fahri malah menuduh Fahri memperkosanya agar Fahri menjadi ayah dari anak Noura. Serta Nurul yang selalu beroptimis dapat meminang Fahri, meskipun sikap Nurul tidak lazim karena umumnya laki-laki yang meminang perempuan.

Pendekatan sosiologi sastra dilihat dari aspek sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra melihat novel Ayat-Ayat Cinta sebagai suatu karya sastra yang tergolong menarik perhatian. Karena novel Ayat-Ayat Cinta menceritakan mengenai suatu masalah percintaan dan nuansa religius di dalamnya. Seperti Fahri yang mendapatkan cinta dari Aisha dengan cara yang religius. Di mana, Fahri di perkenalkan oleh paman Aisha melalui foto dan setelah menyetujui Fahri menyukainya maka mereka dinikahkan. Dan hal semacam ini jarang atau mungkin sudah tidak ada lagi.

Nilai moral dalam novel Ayat-ayat Cinta ini adalah novel ini penuh dengan nilai-nilai religius dan nilai universal yang dapat diterima oleh semua golongan. Meskipun novel ini sarat dengan pesan, bahkan disertai dalil-dalil dari Alquran dan Hadis, pesan-pesan itu sama sekali tidak mengganggu kenikmatan pembaca novel ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

El Shirazy, Habiburahman. 2008. Ayat-Ayat Cinta. Jakarta : Republika

Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gama Press

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta : Pustaka