AHH

“ada yang belum kesampaian selama aku di sini…”

“lha e’mang mau kemana..?”

“aku pengen ke pantai Depok, pengen tau seperti apa pantainya.”

“oh..

         Mulailah sebuah percakapan yang akan buatku masuk dalam sebuah kertas-kertas harapan yang kosong berserakan di lantai hati yang dingin ini. Saat itulah aku mulai rasakan ada sesuatu yang buatku terus memandangi kemerlip lampu-lampu yang ada di bawah sana, indahnya seperti hari ini yang begitu berwarna. Terus saja aku pandangi dan tak aku hiraukan apa yang ia rasakan, cukuplah semua kecewa yang aku rasakan hilang dan lenyap saat itu juga.

          Malam yang dingin tak aku rasakan, seperti hilang terbawa hangatnya pembicaraan ini. Lalu-lalang orang dan kendaraan yang melintas di depanku menghiasi pemandangan malam ini, ramai seperti rasa senang dalam pinggir hati yang retak. Semakin lama aku mulai mengenal seperti apa dirimu dan semakin aku kagumi sekuat apa pesonamu.

       Aku akui manakala pesonamu kan buat semuanya dengan mudah tunduk dalam genggaman kata indahmu, kau kan mudah tuk bisa kuasai semuanya, namun ada sesuatu yang halagi itu karna yang kau bawa ada dan kan terus ada dari pertama kau lihat terangnya cahaya lampu. Sadarlah aku saat kau mulai bertanya,

 “berapa kali kamu kesini..?”

“emh….mungkin 1,2,3 engga aku hitung tuh.”, sambil tersenyum tuk hadirkan suasana yang berbeda agar tak hanya suara kendaraan yang melintas saja yang terdengar di telinga kami.

 “oh..kalau aku baru pertama ini kesini..”, dengan menolehkan wajahnya melihat kemerlip lampu-lapu kota yang ada di bawah sana, membenarkan posisi duduknya, dan akupun mengikuti agar aku bisa pandangi wajahnya dari sisi pandanganku.

 “kamu baru sekali ini..? Ya….ampun..”, sebenarnya kau sudah tau sejak wal namun aku berlagak tak mengerti agar dapat merubah lagaknya berbicara.

 “wah ngejek nih ceritanya.”

 “enggak lah, cuma heran aja..”, semakin lama aku suka gaya bicaranya yang mungkin untuk sebagian orang, sifatnya manja, namun aku suka itu.

          Baru aku sadar malam ini terasa dingin tapi tak aku hiraukan, aku tak tau dia rasakan itu atau tidak, aku lihat raut wajah yang ceria tersirat dengan jelas dan aku tak ingin semuanya itu hilang dengan cepatnya hanya karena datangnya dingin malam itu.

 “wah sepertinya aku ga bisa tidur nih ntar malam.”

“lah e’mang kenapa..?”

“gara-gara tadi itu.., aku kan penakut !!”, wajahnya yang manja sepontan keluar bersama rangkaian kata-kata dari bibir manisnya dan saat dia mengatakan itu, mengingatkanku dengan seseorang yang jauh di sana.

“wah kasihan..”

“wah harus tanggungjawab kamu, harus temenin aku sms sampai tidur nanti, enggak boleh tidur dulu..”

“wah sial nih.”, aku coba tuk memancingny tuk keluarkan kelakuan-kelakuan manjanya.

 “ya itu resiko kamu lah, siapa suruh tadi liat itu..”

“ya kan bagus tuh.”

“memang bagus tapi aku takut..”,dengan nada manja tetapi itulah pesona yang keluar daat pertama aku kenal dia, disini di jembatan kota ini. tak henti aku terus pandangi, dan tak bosan untuk terus pandangi hingga malam menjadi sunyi.

“iya..iya..maaf.”

          Dan suasana seketika menjadi ramai, kami pun tertawa bersama. Malam itu disaksikan oleh beribu-ribu kemerlap lampu kota dan berjuta-juta bintang dengan wajah cantik rembulan di sisihnya. Ditepi jembatan ini aku duduk, didepanku seorang yang aku harapkan dapat hilangkan kabut hitam yang selimuti rumah jiwa ini dengan lilin kecil yang terangi teras-teras yang penuh dengan buku-buku kenangan hitam dan putih kehidupan dengan segelas kopi hitam agar tetap terjaga bersamaku.

          Teramat indah untuk di lupakan dan terasa sesal untuk di kenang. Malam ini gerimis datang temani aku yang duduk di pinggir jembatan ini, dengan setangkai bunga mawar yang ada di tanganku yang tak sempat aku berikan kepadamu sebelum kebodohanku sesatkan  pikiranku tuk ukir kenangan di dinding merah hatimu, tulusku biarkan hujan yang turun hilangkan rasa sesalku dan dinginnya air bangkitkan rasa perih luka,dan goreskan pena hitam ini ke dalam buku-buku tua ini.

 “wah sudah kesampaian ke sini, tinggal ke pantai nih.”

“memang mau kesana sama siapa..?”

“ya siapa aja lah yang penting kesana.”

Raut mukanya berubah menjadi berharap yang sangat, sepertinya dia inginkan sebuah kenangan yang dulu terulang kembali mengingatkan sejuta warna-warna indah yang pernah ada.

 “memang kapan..?”

“lha itu yang enggak tau aku.”

“sabar aja lah ya.”

“sebisaku kan sabar.”, dengan menundukkan kepala dan bangkitkan kembali seperti tak terjadi apa-apa namun raut wajhnyayang sontak berubah mebuatku yakin akan kenangan yang sangat indah terbawa oleh jauhnya pandangan di garis horizon waktu lalu.

          Kata-katamu saat itu menyeretku ke masa lalu saat aku di tepi kota, keluarkan semua masalahku di bawah pohon dan aku dapatkan getaran jiwaku kembali saat dia berusaha terangkan jalan fikiranku dengan getaran-betaran suara yang selama lebih dari beberapa tahun aku coba kenali siapa dirinya.

          Aku coba  tuk hadirkan suasan yang berbeda untuk diriku dan mungkin dirinya dan buat ini sebuah hari yang berkesan dalam malam-malam yang berakhir dengan bangunnya mentari, bulan yang ada di atas kita tersenyum temani dan lihat kami disini bingung dengan berbagai macam perasaan yang bercampur dalam satu kawah yaitu grogi.

 “eh…gimana kuliahnya asik..?”, aku coba menahannya agar tetap disini.

“ya….lumayan lah.”

 “enak ya, jurusan kamu kan luas tuh, ada kuliah di luar kelas donk.”

“iya lah, bulan besok ke Dieng, jalan-jalan gitu..enak kan ?”, mencoba tuk membuatku iri, tapi memang seperti itulah sifat yang sedikit mulai kelihatan dari dirinya, dia hadirkan sebuah suasana yang mebuat rangkaian kata-kata ini terus tersambung entah samapai kemana jika diukur dengan jari-jemari.

 “wah enak ya, kalau aku kebanyakan di kelas, rumit banget materi-materinya, kalu kamu kan cuma sperti itu-itu aja standar.”

“sipa suruh milih jurusan itu.”

“iya kan udah pilihan, tapi asik juga sih, palah keren lah kalau bisa seperti mereka-mereka yang jadi sejarah..”, sedikit beralasan.

 “wah berarti pinter tuh kalau soal rayu-merayu..?hehe”, dia mulai mencoba memancingku dengan pertanyaan pertanyaan yang membuatku tetap bisa hidupkan suasanya malam itu.

 “ya enggak terlalu lah, dikit kok..”(agak malu)

“dikit enggak bisanya dan banyak bisanya..”

“tau aja kamu..”(tertawa terbahak-bahak)

 Dan seketika semua berbeda dan tanpa sadar aku terbuai dengan adanya. Malam itu berbeda setelah beberapa malam aku lalui dengan mimpi buruk karena terlalu paksakan diri menentang waktu yang  berjalan dengan tangan kecilku ini.

         Terus dan terus aku mulai mencari sesuatu yang bisa menahannya tetap disini agar aku bisa pandangi pesonanya yang buatku tetap bisa berjalan berdampingan dengan waktu yang tak lelah dan berhenti tuk istirahat walaupun sejenak. Malam yang indah menjadi terlalu indah saat aku duduk dan rasakan dinginnya jembatan ini sendiri.

         Sebisa mungkin aku coba kembali sandarkan harapanku tapi semuanya telah terbawa air yang mengalir dalam genggaman sang waktu, dan sekarang hanya angin yang bisa membawa harapanku, biarkan terbang dan tak akan kembali. Jeritan tanpa suara jiwa yang terluka telah hasilkan sebuah rangkaian kata-kata yang akan kusuratkan kepada tuhanku tuk bawanya ke perut bumi agar terbakar dan tak kembali. Sandarkan bahuku dan rasakan tangisan awan menghapiri wajahku, rasakan dinginnya dan hilangkan panas dalam kepalaku yang terlalu berat bawa hitamnnya tembaga cinta.

          Mungkin air yang mengalir turun di jalan ini bergunjing tentang kebodohanku, dan riak air yang jatuh bersorak dengan kerasnya seperti setan yang bujuk rayunya dengan mudah dilakukan adam. Malam yang dingin bekukan hati yang lukan dan perihkan sayatan yang mengngangah. Tangisan malam telah reda, dan malam pun telah memakai selimut kabutnya, gelapakan malam dengan rasa dinginnya. Dan bergantian pedagang keliling menjajakan kehangatan dagangannya. Dan terlau banyak makna di malam ini, mengukir sejarah di kening waktu yang telah berlalu.

          Hitam dan putih masa lalu besarkan jiwa ini, berikan pelajaran dalam memaknai kehidupan dengan pemikiran dalam sebuah langkah pasti. Satu harapku yang akan aku lepaskan di malam ini dan biarkan terbang bersama kunang-kunang yang membuat kabut dingin malam ini terang dan indah, aku lukiskan gambaran wajahmu dalam kertas harapan agar kau tak lupakan namaku walaupun untuk satu waktu agar tak tergilas oleh waktu yang berjalan.

          Saat aku beranjak aku kan bisa lihat sketsa wajahmu dan saat aku berjalan aku kan dapat ingat dalam buku tua itu. Aku tutup buku ini dan aku simpan dalam susunan rapi buku-buku tua dalam lemari putih kenangan dalam ruang jiwa. Mulailah aku berdiri, pandangikotaku yang terang dengan cahayanya walaupun gelap kehidupan didalamnya beserta pemikiran-pemikirannya dan aku tak peduli itu, bunga ini aku letakkan di jembatan ini tuk bayangmu yang sudah lalu, dan beranjak pergi dengan dan tanpa penyesalan yang membayangi.

 Waktu yang berjalan tak lagi bisa menunggu walaipun sedetik ku berhenti, dan malam diseret waktu tuk terus berjalan tanpa hiraukan apapun siapapun, dan terlalu singkat aku rasakan tuk pandangi pesonanya, kita harus kembali ke tempat kita sebagaimana mestinya. Dimana hangat adanya dan berbagai kain telah menunggu rebahan tubuh yang tak peduli akan sebuah hangatnya namun selalu dibutuhkan.

 “wah dah malam nih, dah mulai dingin, enggak terasa dah hampir tengah malam..”

“iya nih.”

“beneran nih harus nemenin sms ntar..”

“iya lah, harus nemenin aku sampai nanti…”

Dan beranjak pergi dari tempat ini, tempat pertama kali keinginnannya saat berada di kotaku ini, dan pertama kalinya berwarna cerah saat warna gelap selimuti. Setelah itu aku hanya lihat dirimu dari belakang pergi dan jauh berjalan di kegelapan malam. Kendaraanku pun temani dan bawa aku kembali dengan pelan menikmati singkatnya jalan ini tuk hari ini.

          Tak aku bayangkan, sesatnya fikiranku buat semua yang terucap menjadi rancu. Aku hanya bisa lukiskan gambaran wajahmu dalam goresan pensilku dan ikat dalam bayanganmu, dan seperti kata terakhirmu dalam kertas harapku “…sampai nanti…”(jika kau ingat aku, kau kan sebut namaku)***

03 Mei 2010

EI