Judul buku      : Tebaran Mega

Pengarang       : Sutan Takdir Alisjahbana

Penerbit           : Dian Rakyat

Tahun Terbit    : Cetakan Pertama, 1935

Tebal Buku      : 45 Halaman

Resensi            : Edwin Ihsani

Buku kumpulan puisi Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul Tebaran Mega ditulis dalam masa dua tahun 1935 – 1936. Hidup adalah sebuah anugerah yang sangat besar untuk kita, jika kita hanya mengeluh maka itu bukan  cara mensyukuri hidup. Hidup adalah berkah seperti puisi yang berjudul Nikmat Hidup berikut:

Nikmat Hidup

Api menyal didalam kalbu,

Ganas membakar tiada beragak.

Hangus badan rasa seluruh,

Kepada penuh bersambung.

Malam mata tiada terpicing,

Gelisah duduk sepanjang hari.

Rasa dicambuk rasa didera,

Jiwa ‘ngembara tiada sentosa.

Ya Allah, ya Tuhanku

Biarlah api nyala di kalbu,

Biarlah badan hangus tertunu.

Api jangan engkau padamkan,

Mata jangan engkau picakan,

Jiwa jangan engkau lelapkan.

 

Dalam puisi di atas penulis ingin mengungkapkan bahwa tiada pertolongan sempurna kecuali pertolongan dari Allah.swt yang tergambar dalam baris Ya Allah, ya Tuhanku/Biarlah api nyala di kalbu,/Biarlah badan hangus tertunu./Api jangan engkau padamkan, /Mata jangan engkau picakan,/Jiwa jangan engkau lelapkan.

 

Selain puisi di atas ada juga puisi yang senada yaitu puisi yang berjudul Nikmat Semata berikut:

Ketika aku tiba di puncak, bertudung lagnit cerah terbentang, dan meninjau ke lembah yang jauh tertinggal di bawah, segarlah rasanya kembali darahku mengalir.

Kabut yang tebal menghambat pandangan menjelma sutera halus tempat suria menekatkan emasnya.

Air deras yang tadi kurenangi, menjernih dan kudengarlah bunyinya menderu sebagai lagu yang merdu.

Cahaya suram – menyeram di bawah pohan berganti kegembiraan hijau muda bersenda dalam sinar kuning gemerlapan.

Dan insaflah aku, bahwa tebing yang sempit membatasi ialah jalan aku naik memuncak.

Segala di dalam lembah kilauan dan rayuan ria.

Dari tempat yang tinggi, dalam nafasMu yang segar dan sinarMu yang jernih, wahai Tuhanku, sekaliannya nikmat semata.

Penulis ingin mengungkapkan  bahwasanya dia melupakan nikmat yang di berikan yaitu kehidupan, ia merasa bersalah karena selama ini melupakannya seperti dalam bait Dan insaflah aku, bahwa tebing yang sempit membatasi ialah jalan aku naik memuncak./Segala di dalam lembah kilauan dan rayuan ria./Dari tempat yang tinggi, dalam nafasMu yang segar dan sinarMu yang jernih, wahai Tuhanku, sekaliannya nikmat semata.

Dalam buku kumpulan puisi yang berjudul Tebaran Mega menggambarkan bahwa penulis ingin menyampaikan nilai-nilai yang seharusnya bisa kita ambi dan gali melalui pengalaman dan penyadaran diri.