Judul Buku      : Madah Kelana

Pengarang       : Sanusi Pane

Penerbit           : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Tahun Terbit    : 1978

Tebal               : 62 halaman

Resensi            : Edwin Ihsani

 

Dalam buku kumpulan sajak Madah Kelana ini terdiri dari 50 judul puisi oleh Sanusi Pane. Jika di artikan Madah berarti pujian/sanjungan, Kelana berarti pengembara, berarti madah kelana jika diartikan kurang lebih pujian seorang pengebara. Berikut  salah satu puisinya :

Kepada Bunda

 

Terkenang dihati mengarang sari,

Yang kupetik dengan berahi

Dalam kebun jantung hatiku,

Buat perhiasan Ibunda-Ratu    

Teratai

Dalam kebun di tanah airku

Tumbuh sekuntum bunga teratai:

Tersembunyi kembang indah permai,

Tidak terlihat orang yang lalu.

………

Dalam puisi di atas penulis ingin menyampaikan ucapan terimaksih kepada ibundanya, yang selalu sabar mendidik dan merawatnya seperti dalam bait berikut Terkenang dihati mengarang sari,/Yang kupetik dengan berahi/Dalam kebun jantung hatiku,karena ibu adalah sosok yang paling berjasa dalam separuh hidup kita, sehingga kita tidak boleh lancing dengan ibu kita.

Sanusi Pane adalah salah satu pengarang yang mempunyai jiwa romantisme yang kuat, seperti yang di gambarkan dalam bukunya Madah Kelana ini diantaranya: Angin, Rindu, Bagi Kekasih, Kemuning, dan Bercinta, seperti puisi dibawah berikut :

Angin

 

O, angin, bawa keluhku bersama kau,

Melalui pegunungan hijau,

Kepada Dinda,

Yang amat tercinta.

 

Bawa keluhku bersama kau.

                       

O, angin, bawa cintaku kepada dara

Cinta tidak ketara.

Kepada Melati,

Sijantung hati,

Bawa cintaku kepada dara,

 

Dalam puisi di atas, penulis ingin mengungkapkan hasratnya kepada orang yang dikasih lewat perantara angin, dimana angin sering di ibaratkan bisa menyejukkan hati, dan tergambar jelas dalam puisi diatas.

Selain tema romantis penulis juga menulis puisi yang mernuansa kebudayaan jawa hidu-budha seperti: Taj Mahal, Arjuna, Syiwa Nataraja, Arca, Candi Mendut, dan Candra. Beberapa puisi dalam buku ini banyak digunakan untuk mengungkapkan perasaan pemuda-pemudi saat ini secara langsung atau tidak langsung dan secara utuh atau hanya sekedar mengutip beberapa baris kalimatnya saja dikarenakan sajak-sajaknya yang cenderung romantis.