Judul buku     : Rintihan Rintik Hujan

Pengarang    : Diandra Mayang

Penerbit        : Graha Literata

Tahun terbit  : Cetakan Pertama, 2008

Tebal buku    : viii + 92 halaman

 Resensi        : Edwin Ihsani

            Dalam buku kumpulan puisi Rintihan Rintik Hujan yang di tulis oleh Diandra Mayang, saya melihat penulis mengekspresikan perasaan yang dialaminya sebagai seorang remaja, di dalam buku kumpulan puisinya ini, banyak puisi yang mengisahkan tentang perasaan kasih dan sayang, selain itu juga ada beberapa puisi yang lepas dari tema kasihsayang semisal kritik atau sindiran. Seperti halnya puisi yang berjudul Arti, dalam bait berikut :

Disaat tibanya sang fajar/disambut rumput-rumput yang berembun/menatap sangar/lapangan basket yang kian mengeras/dan tambah keras/seperti suara guru yang frustasi/kepala yang habis sabar

Dibalik pintu kayumu/dibalik tembok putihmu/aku mendengar keluh/kesah/peluh/gelisah

Dari bait di atas sudah jelas tergambar sindiran seorang guru yang sedang mengajar, penulis menggambarkan perasaan teman-teman yang sedang belajar, yang gelisah dan resah karena pagi-pagi sudah dihadapkan dengan perasaan yang tidak mengenakkan. Dan lebih jelas digambarkan dalam bait berikut :

Bila isi sekolah hanyalah gumam dan teriakan marah/maka alumni-alumni itu tak ada yang masuk surga/dan begitulah kita

Coba kau ambil hati seseorang tanpa hatimu/coba kau ajar kepala-kepala bodoh tanpa hatimu

Bila peraturan tak ada. Hukuman dan sanksi tak ada./atau mereka ada. Tapi tak ada yang peduli/dan kau sakit hati. Dan kau sakiti kami./dan apa, APA artinya kau disini??

Dalam bait-bait di atas adalah bagaimana perasaan penulis tentang kejadian yang terjadi, rasa marah dan kesal kepada suasana yang tercipta dan diciptakan  oleh seorang guru yang urang berniat untuk mengajar.

            Selain itu beberapa puisi yang terdapat dalam buku kumpulan puisi ini adalah hasrat yang dimiliki oleh seorang remaja pada umumnya, seperti halnya puisi yang berjudul Dibalik Kata-Kata, yang digambarkan seperti berikut :

Hati yang lemah takkan bisa menculikku/jiwa pembohong takkan bisa memperdayaiku/hidup, cinta yang tak terbalas/air mata, sia-sia mencerca

Ada tamparan di balik kata-kata/melucut ke balik sukma

Merah bukan lagi lambing cinta/biru tak lagi warna keindahan semata/merah untuk darah daan aku yang terluka/biru untuk dinginnya tetes air mata

Dalam bait-bait di atas, penulis ingin menggambarkan perasaannya terhadap seseorang yang di kaguminya, namun apa yang ia rasakan tidak terbalas dan ia  merasa kecewa, begitulah perasaan seorang remaja pada umumnya yang sedang dilanda virus-virus cinta. Selain itu bait-bait yang hampir sama  juga terdapat dalam puisi yang berjudul Menanti, dalam bait berikut :

Karena kau datang tanpa alasan/karena kau pulang tanpa jawaban

Hiks..diriku hanya tatapan mata kesepian/antrian panjang, penuh lelah serta penat/kuterobos sungai yang berbatu/dan kuyup kena hujan/aww, aku hanya bisa menanti

Perasaan yang sedang gundah dalam menanti seseorang yang sangat di cintai, yang semua itu diperjelas dalam bait terakhir :

Mawar tanpa duri warna merah jambu merekah/ditengah ramainya hujatan tangan wanita/itulah kau; walau aku di belakang kerumunan/tersanjung; terpaksa menelan senyuman..

Dalam bait ini ia merasa sangat rindu ingin dekat dengannya namun di kelilingi oleh kerumunan orang banyak sehingga ia hanya bisa tersenyum.

            Dalam buku ini Diandra Mayang ingin membagi perasaan yang dialaminya, dengan semangat dan perasaan seorang remaja pada saat itu, sehingga buku ini menarik untuk dibaca oleh remaja dan cocok dengan perasaan remaja apalagi yang sedang dilanda rasa rindu atau sedang kasmaran.