Judul buku      : Malaikat Hutan Bakau

Pengarang      : Ahamad Syam’ani, Dwi Putri Ananda, Eza Thabry Husano,dkk

Penerbit          : Tahura Media

Tahun terbit    : Cetakan Pertama, Oktober 2008

Tebal buku      : xii +90 halaman

Resensi          : Edwin Ihsani

 

Puisi tidaklah bisa berdiri sendiri jika itu menyangkut sebuah antologi puisi, semua pastilah mempunyai sebuah alur cerita, seperti halnya buku Malaikat Hutan Bakau ini. Dalam buku ini menceritakan tentang sebuah perjalanan hidup, yang di dalamnya mempunyai banyak kejadian yang mempengaruhi jiwa para penuisnya, misalkan dalam judul puisi Perjalanan, berikut:

Perjalanan

 

Pada burung-burung yang menulis sunyi batu

Kusimpan sayapku:

Sehelai perjalanan yang tak terpeta

Si mana-mana

Tetapi telah kubaca

Setiap belantara yang menolaknya

 

Sebelum kau tiba

Pada nyala api tubuhmu sendiri

Aku bayangkan sayapku menjelma puisi

Yang membasuhi sungai-sungai

Yang mengalir dari batinmu

 

Terbanglah bersama angin, katamu

Sebelum ia kehilangan ingatan

Pada pohon-pohon yang berubah

Jadi air dan batu pada esok hari

 

Dimana penulis ingin memberikan gambaran bahwa kita harus tetap menjalani hidup ini dan mematuhi peraturan-peraturan dalam hidup ini seperti dalam baris kata sehelai perjalanan yang tak terpeta/di mana-mana/tetapi telah kubaca/setiap belantara yang menolaknya, berusaha dalam hidup memang selalu benyak sebuah halangan dan rintangan sehingga kita harus tetap semangat dan tanpa putus asa seperti dalam kalimat terbanglah bersama angin, katamu.

Sejalan dengan puisi di atas, dan mempunyai tema yang sama dalam puisi yang berjudul Hidupku, berikut:

Hidupku

 

Ibarat lembaran buku yang tak terbaca

Enggan dilihat

Enggan di mengerti

Tak mengenal isi

Tak berarti

Terbuang di antara ratusan lembar yang lain….

 

Seandainya hidup adalah sebuah kanvas

Aku ingin menjadi pelukis hidupku

Hanya akan kuwarnai dengan warna kebahagiaan

Kasih sayang dan kedamaian

Namun selalu saja guratansuram

Merusak lukisan hidupku

 

Penulis ingin mengungkapkan seandainya hidup adalah sebuah kanvas/aku ingin menjadi pelukis hidupku/hanya akan kuwarnai dengan warna kebahagiaan, namun hidup selalu ada warna yang berbeda seperti sedih, kagum, senang, ria dan sebagainya sehingga hidup penuh dengan sebuah kejadian dan fenomena yang berbeda-beda, dan juga masa lalu yang kelam akan selalu menjadi sebuah hal yang akan mengingatkan kita tentang diri kita dan menjadikan itu sebagai pelajaran hidup.

Selain puisi di atas masih banyak lagi yang lainnya, misalkan: Kematian Hanya Menyisakan Nama, Ada Saatnya, Meriahnya Kematian, Ekstase Hidup, Cerita Malam, dan masih banyak yang lainya, semuanya mengisahkan tentang perjalanan hidup dan semuanya terkait datu dengan yang lainnya, dan juga banyak nilai kehidupan yang bisa kita ambil dari buku ini.