Judul buku      : 79 Puisi Hajri

Pengarang       : Hajriansyah

Penerbit           : Tahura Media

Tahun terbit     : Cetakan Pertama, Juli 2010

Tebal buku      : vii +104 halaman

Resensi          : Edwin Ihsani

 

Dalam buku kumpulan puisi yang berjudul 79 Puisi Hajri yang ditulis oleh Hajriansyah erat kaitannya dengan banyaknya ide, gagasan, emosi, pengalaman yang ingin disampaikan oleh penulis, jika dilihat dengan perspektif pendekatan ekspresif dalam pengakajian karya sastra.

Dalam buku ini penulis ingin berbagi pengalaman, ide dan gagasan seperti halnya perasaan saying terhadap anaknya dalam puisi yang berjudul Puisi Wajahku berikut :

Sebait puisi ditulis anakku yang paling kecil/isinya kurang lebih seperti ini:/ayah, aku bisa menggambar wajahmu

Penulis ingin berbagi pengalaman dan perasaannya melalui puisi di atas, bahwasanya anak yang paling kecil itu melukis wajah ayahnya tanpa sepengetahuaannya kemudian memperlihatkannya dan mungkin itu adalah sebuah perasaan yang mengharukan yang dialami penulis sehingga terciptalah puisi tersebut.

Seperti halnya puisi di atas, nuansa yang sama terdapat dalam puisi yang berjudul Orange untuk Anakku, berikut :

“dan Ayah…,” kata anakku/beginilah anakku/hidup akan membawamu/seperti perahu yang telah sunyi

Kini, motor itu menderu/dan memojokkan harapan ayahmu/tapi jangan khawatir anakku/kutinggali sebuah warna untukmu/Orange: seindah sore menjelang malam

Penulis ingin menggambarkan bahwa hidup akan terus berjalan, dan tidak selamanya kita akan selalu bersama dengan orang yang kita sayangi dan kita harus menjalani hidup kita sendiri suatu saat nanti yang di ibaratkan dengan bait hidup akan membawamu/seperti perahu yang telah sunyi sehingga hanya sebuah ilmu yang akan mengantaran kita dalam kehidupan kita sehingga seperti bait /tapi jangan khawatir anakku/kutinggali sebuah warna untukmu/Orange: seindah sore menjelang malam yang diinginkan penulis.

Senada dengan pusi di atas, penulis ingin berbagi tentang perasaan yang dimilikinya, masih antara ayah dan anak, penulis ingin menggambarkan perasaan kepada ayahnya waktu itu, dalam puisi yang berjudul Ayah berikut :

Malam ini ramadhan datang/teringat lagi aku wajah ayah/di sana, di masa kecil, diajarinya aku berpuasa sebulan penuh/diajarinya aku sembahyang, dibawanya aku ke masjid,/di suruhnya aku azan

Maka mengumandang lagi suara itu:/takbir itu/shalawat itu;/kumandang yang membawaku ke ramadhan di masa kecilku

Shalawat bagimu/shalawat bagimu,ayahku

Dalam bait-bait di atas bahwasanya penulis ingin mengungkapkan perasaan rindu dan terimakasih terhadap ayahnya yang telah mendidiknya sewaktu kecil.

Terlepas dari puisi tersebut ada beberapa puisi yang mengandung nilai-nilai dalam kehidupan kita seperti puisi yang berjudul Dinding Kita Dinding Retak, berikut :

Tak dapat kita bendung

Jalan-jalan yang terus menggusur sungai

 

Tak dapat kita bendung

Orang-orang yang bermimpi indah

 

Tak dapat kita bendung

Perahu-perahu yang menjauh

 

Tak dapat kita bendung

Mimpi dan harapan yang memotong sejarah kota

 

Telah lama, semua berlalu

Dan tak dapat kita bendung semuanya

Karena dinding yang membenteng kita

Hanya selaput; telur yang retak

 

Jika yang ingin di ungkapkan penulis adalah sebuah iman dalam ajaran agama, maka penulis ingin menggambarkan bahwa banyak di antara kita yang mempunyai iman yang kurang kuat tuntuk mengkontrol diri kta sehingga retak karena tidak bisa membendung mimpi-mimpi dan hasrat yang menguasai diri kita.

Masih banyak lagi pengalaman, ide, gagasan yang dibagikan oleh penulis dalam buku kompulan puisi yang berjudl 79 Puisi Hajri ini, sehingga dapat menginspirasi kita.