KULTUR BUDAYA JAWA DALAM NOVEL BEKISAR MERAH

KARYA AHMAD TOHARI

I.                        PENDAHULUAN

Bekisar merupakan sejenis ayam, hasil persilangan antara ayam hutan dengan ayam piaraan. Keberadaannya cukup langka dan memiliki banyak keistimewaan. Sejumlah  ayam dan unggas menghargainya demikian tinggi. Jauh lebih tinggi dari harga masing-masing induknya.Tetapi, novel ini tidak berbicara tentang bekisar dalam artian sesungguhnya.

Novel ini justru berkisah tentang kehidupan Karangsoga, kampung pembuat gula kelapa, dimana para lelaki memanjat kelapa untuk memperoleh nira yang dikumpulkan dalam pongkor bambu sementara para perempuan menunggu dirumah sembari bersiap memasak nira dalam tungku panas hingga menjadi gula.

Ahmad Tohari, dengan penguasaannya terhadap kultur Jawa bertutur dengan sangat baik tentang sistem kepercayaan dan nilai Jawa dalam masyarakat. Dalam novel ini, ia masih memunculkan masyarakat Jawa yang polos, lugu dan memegang teguh nilai luhur budaya Jawa. Dimana disana selalu ada panutan, rujukan dalam setiap masalah yang dihadapi warga.

    II.                        SISTEMATIKA

            Lasi, seorang  wanita Keturunan blasteran Jawa – Jepang ini dikisahkan sebagai perempuan paling cantik diantara sebayanya. Lasi yang berayah bekas serdadu Jepang selalu menjadi target para lelaki di desanya. Dalam kisah kecilnya, Lasi selalu menjadi olok-olok teman sekolahnya. Karena matanya yang sipit, berbeda dengan kebanyakan anak Karangsoga. Tetapi ada satu anak yang tidak  ikut menggoda Lasi, bernama Kanjat. Dua tahun lebih muda, namun pintar dan baik hati, di mata Lasi.

Menginjak usia dewasa, Lasi kemudian menikah. Ia menjadi istri Darsa, pemanjat yang memiliki dua belas pohon kelapa. Sekaligus juga keponakan Wiryaji, suami sambung ibunya. Kehidupan pasangan muda ini berbahagia, meskipun dalam jerat kemiskinan dan bayangan masa depan tidak menentu. Sampai tiga tahun pernikahan, mereka belum juga memiliki keturunan. Lasi sangat mengabdi pada Darsa, setiap pagi menjelang Lasi dengan sekuat tenaga membantu Darsa membuat gula merah, hasil olahan nira kelapa.

Suatu ketika Darsa jatuh dari pohon kelapa, tidak mati tetapi mengalami luka parah, terus menerus buang air kecil tanpa henti. Dengan sabar Lasi merawatnya. Bahkan sampai menggadaikan tanah pada tengkulak untuk menutup biaya pengobatan Darsa di Rumah Sakit. Meskipun Ia tahu konsekuensinya, harga gula produksinya akan dipermainkan dengan seenak hati oleh tengkulak. Tapi Darsa belum sembuh benar, terpaksa dibawa pulang karena ketiadaan biaya. Di dalam rumah Darsa selalu mengerang kesakitan serta memanggil-manggil nama Lasi untuk membersihkan ompol yang selalu membasahi kasurnya. Tak pelak, gairah kelaki-lakiannya juga terganggu.

 Darsa kemudian berobat pada dukun pijat, Bunek yang terkenal dapat menyembuhkan segala jenis penyakit yang berhubungan dengan alat vital pria. Perlahan tapi pasti, Ia kemudian sembuh. Hingga suatu pagi, Ia mendatangi istrinya bercerita bahwa Ia sudah tidak ngompol lagi. Sejenak kebahagian dirasakan pasangan muda ini. Gairah yang sekian lama terpendam dapat disalurkan. Darsa kembali utuh sebagai lelaki.

Tetapi disinilah justru permasalahan dan konflik mulai terbangun. Tidak berapa lama semenjak kesembuhan Darsa. Sipah, anak Bunek meminta pertanggungjawaban. Ia mengaku hamil oleh perbuatan Darsa. Lasi kemudian kalut, bercampur sedih dan jengkel karena suami yang dirawat dengan penuh kasih dan pengorbanan semasa sakit ternyata berbuat tidak semestinya dengan perempuan lain. Lasi kemudian lari ke Jakarta, menumpang truk Pardi, tetangganya mengantarkan gula kelapa.

Sebagaimana sopir kebanyakan, Pardi memiliki sejumlah rumah makan langganan sepanjang perjalanan menuju Jakarta. Ia juga punya ’pacar’ di tiap rumah makan yang disinggahi. Lasi kemudian dititipkan di salah satu rumah makan langganan Pardi untuk diambil kembali sepulang dari Jakarta. Lasi diperlakukan dengan sangat baik oleh pemilik rumah makan, Bu Koneng. Seolah menemukan kedamaian, Ia tidak mau kembali ke Karangsoga. Tetapi tidak ada kebaikan tanpa pamrih, apalagi di kota besar seperti Jakarta.

Petualangan Lasi berlanjut. Karena keluguannya, Ia tidak sadar kalau masuk dalam perangkap perdagangan perempuan. Lepas dari Bu Koneng, Ia kemudian dibawa oleh Bu Lanting, yang terkagum akan kecantikan Lasi. Sekali lagi, Bu Lanting adalah orang baik di mata Lasi, sementara Lasi berprinsip bahwa ketika menerima kebaikan seseorang, Ia seperti berhutang sehingga harus dibayar dengan kebaikan pula. Karena itu ia menurut saja ketika diajak ikut Bu Lanting ke rumahnya. Perempuan bermata sipit pada masa itu memang sedang tren, mengikuti Pemimpin Besar Revolusi yang memiliki istri bermata sipit.Oleh Bu Lanting, Lasi dipoles sedemikian rupa sehingga menjadi kian cantik. Ia juga dibiasakan dengan budaya kota, termasuk dalam hal berpakaian dan gaya hidup. Sampai dianggap siap, Ia kemudian dikenalkan dengan Handarbeni, lelaki tua yang sedang mencari perempuan bermata sipit untuk dijadikan istri, entah keberapa.

Lasi kemudian menikah dengan Handarbeni. Sebuah pernikahan pura-pura, tanpa makna. Sekedar prestise bagi Handarbeni. Dalam rangka mengurus surat cerai dari Darsa, Lasi kembali ke Karangsoga sebagai ’sosok berbeda’. Lasi yang sangat kaya dan kian cantik. Ia bercengkrama kembali dengan sebagian masa lalunya. Bertemu kembali dengan Kanjat yang sudah menjadi sarjana. Dua insan ini ternyata saling mencintai. Namun masing-masing harus menjalani takdirnya, Lasi kembali ke Jakarta dan menjalani pernikahan semu dengan Handarbeni. Sementara hatinya tetap untuk Kanjat. Dalam tidurnya, Lasi selalu berdoa akan segalanya. Segala cinta yang telah ia rasakan pada Kanjat.

Handarbeni mengetahui apa yang dirasakan oleh Lasi. kepada Kanjat. Perasaan Pak Handarbeni kepada Lasi tak berubah adanya, justru Handarbeni membiarkan Lasi pulang kembali ke KarangSoga agar menjalin hubungan lagi dengan Kanjat yang selama ini ia damba-dambakan.

 III.                        PEMBAHASAN TEORI

Dalam pembahasan teori mengenai Bekisar Merah ada beberapa teori pendukung dalam analisis ini. Yaitu moral itu sendiri, moral yang sangat mendasari pada kandungan isi sebuah novel baik dari segi sikap, tingkah laku dan ceritanya. Istilah Moral berasal dari bahasa latin. Moral merupakan sesuatu yang ingin disampaiakan oleh pengarang kepada pembaca, yang merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra dan makna yang disarankan lewat cerita (Nurgiyantoro,2003:321).

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pragmatik. Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung nenilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya (Pradopo, 1994). Karena karya satra tidak lepas dari sebuah pelajaran dan permasalahan kehidupan. Sehingga sering sekali karya sastra disebut dengan realitas yang difiksikan dengan mengambil berbagai nilai atau pelajaran yang ada.

IV.                        HASIL ANALISIS

Novel tersebut yang di gambarkan secara singkat dan para tokoh serta karakternya membuat novel ini seperti kisah yang terjadi sebenarnya antara masyarakat kota yang kaya yang inggin mendapatkan istri cantik sebagai hiasan dan kepuasan tersendiri, sedangkan masyarakat desa yang inggin bertahan hidup haruslah dengan bekerja keras. Berdasarkan penjabaran di atas maka novel ini bertemakan mengenai kehidupan. Dimana kehidupan masyarakat kota dan desa dalam bertahan hidup serta tingkah laku dan moralnya. Seperti para masyarakat desa Karangsogo yang mempunyai moral yang baik dengan bersosialisasi dengan tetangga dan saling tolong menolong seperti Lasi yang telah menikah dengan orang kaya namun tetap peduli akan desa kelahirannya khususnya masyarakat dan masyarakatnya pun mencari makan dengan kerja keras, tidak seperti Handarbeni, orang kota yang memiliki uang banyak tapi dengan menikahi Lasi sebagai istri pajangannya seolah-olah sebagai penghiasan ruangan dan merupakan kepuasan baginya.

Alur dalam novel tersebut ialah alur linier. Dimana terdapat eksposisi pengenalan tokoh dan karakternya yaitu Lasi dan Darsa sebagai suami istri yang harmonis. Namun pada penanjakan cerita atau interaksi tokoh yaitu ketika Darsa sedang menyadap pohon kelapa ia jatuh dan Lasi yang membiayainya. Dan konflik dalam novel ini terjadi dimana Darsa menghianti Lasi dengan meghamili Sipah anak Bunek yang telah menyembuhkannya dari penyakitnya. Dan Lasi pun pergi ke Jakarta menumpang truk Pardi. Dan akhirnya Lasi bertemu dengan Handarbeni dan menikah. Konflik yang paling inti ialah dimana Lasi merasakan pernikahan yang beda dan yang ganjil dengan Handarbeni. Dan Lasi membutuhkan pertolongan Kanjat untuk membantunya menyelesaikan permasalahannya.

Resolusi atau penyelasiannya novel Bekisar Merah ialah menggunakan plot terbuka, dimana penyelesaiaan cerita tidak jelas, dan memungkinkan pada pembaca untuk mengira-ngiranya. Dimana Lasi meenginginkan bantuan Kanjat namun Kanjat sibuk dengan kegatan kemasyarakat dalam upaya memperbaiki kehidupan para petani gula kelapa.  Maka Lasi harus bisa memutuskan sendiri tetap menjadi bekisar dalam kurungan kehidupan kota yang makmur tapi ganjil atau terbang untuk membangun kembali dunianya sendiri  yang sudah lantak. Lasi pun sangat kebingungan.

Latar dalam novel tersebut ialah tentang keseharian orang-orang kecil yang tinggal di pedesaan. Gambaran tentang pegunungan, hamparan sawah yang terbentang luas dan kicau burung. Serta warung kopi para supir truk berhenti dan kehidupan kota dan kehidupan orang kaya dalam kesehariaannya dan pergaulannya dalam bermasyarakat.

Adapun nilai moral yang terdapat dalam novel tersebut ialah jangan pernah mengecewakan atau menghianati kepercayaan seseorang seperti Darsa yang menghianati Lasi. Membantu sesama meskipun sudah menjadi kaya, seperti Lasi yang membantu warga desanya. Dan nilai moral orang kaya seperti Handarbeni jangan ditiru karena sangat tidak pantas karena menjadikan istri hanya sebagai penghiasa rumah dan kepuasannya sendiri.

Nilai yang bermanfaat bagi pembaca pada novel tersebut ialah jangan pernah mengecewakan dan menghianati kepercayaan orang lain, tidak sombong dan peduli terhadap orang yang kurang mampu serta membeli sesuatu yang hanya bermanfaaat saja, tidak mencari istri cantik sebagai kepuasan saja serta mau menolong meskipun diri sendiri mengalami suatu permasalahan yang sama-sama berat.

 DAFTAR PUSTAKA

Nurgiantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Wiyatmi, 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Tohari,Ahmad.1992.Bekisar Merah.Jakarta:Grasindo