Judul buku   : Ibu, Maaf Aku Nakal

Pengarang   : Yanti Irawan

Penerbit       : Jaker

Tahun terbit : Cetakan I, Februari 2010

Tebal buku   : xiii + 78 halaman, 12 x 19.5 cm

Resensi        : Edwin Ihsani

Dalam puisi yang berjudul IBU, MAAF AKU NAKAL yang ditulis oleh Yanti Irawan banyak digambarkan tentang pengalaman-pengalaman yang sangat tidak mengenakkan dan berbagai kritik dan protes, selain itu juga pengalaman tentang kisah asmara dan pengalaman pribadi Yanti Irawan selaku penulis buku.

Kita lihat di dalam puisi Negosiasi Upah, di dalamnya menyinggung para pengusaha yang sering kali tidak terlalu mementingkan kesejahteraan buruh yang sewenang-wenang menggunakan jasa namun kurang memperhatikan kehidupan para buruh, ini terlihat dalam bait dibawah :

tapi bruh/masih banyak yang sama seperti budak/banyak pengusaha yang menolak bernegosiasi upah/dengan buruh

ia merasa prihatin karena mereka yang menjadi buruh itu mengabdikan hidupnya agar dapat bertahan hidup.

Selain puisi di atas ada lagi beberapa puisi yang berbau sindiran-sindiran yang secara tidak langsung, semisal Koalisi Minimalis Hasilnya Maksimalis, yang digambarkan seperti berikut :

di depan rumah rakyat/ada tukang ketoprak dan teh botol jualan berdampingan/tujuan sama harapan sama tak suka akal-akalan/hilangkan rasa lapar/hilangkan rasa haus/segala nyawa setelah itu tentram

coba saja koalisinya ikutan daftar partai

bisa saja koalisi ini memang pemilu/koalisi tukang ketoprak dan teh botol/lambangya sederhana piring dan botol/tak perlu AD ART yang bikin rumet/tak perlu banyak janji/slogannya “MARI KENYANG BERSAMA”

menurut apa yang saya tangkap dari puisi tersebut, penulis ingin mengkritisi para wakil rakyat yang banyak obral janji namun dalam pembuktianya seret jika tidak ada pelicinnya, dan mengapa penulis mengambil ilustrasi seperti itu, bahwasanya penulis ingin mengungkapkan jikalau semua itu sederhana dan jelas namun mempunyai hasil yang besar seperti judul puisi yang diberikan.

Selain kritik dan sindiran, penulis juga mengungkapkan perasaan pribadinya di dalam kehidupan penulis, semisal dalam puisi Aku Berharap itu Kau di dalam bait bait berikut :

ketukan pintu kuharap itu kau/sunyi lagi/halusinasi mempermainkan aku/yang rindukan kau/lelaki pilihan hati

semoga kau kembali minggu ini/seperti biasa/alunan uro-uro kesayanganku/lembut menyusup telingaku/aku tunggu ya

itu adalah perasaan penulis tentang kerinduaannya terhadap suami yang di cintainya. Selain itu beberapa puisi yang mengungkapkan perasaannya semisal dalam judul Ibu, Maaf Aku Nakal yang sebagai judul buku :

Hening. Sunyi/kadang ramai/semalaman/siang panas/tak ada mimpi hari ini/aku mulai ciptakan mimpi ini sendiri/seteguk saja kucoba/semua serasa ringan dan melayang/maaf, ibu/aku tadi malam minum double long island tea/aku mulai jenuh di sini/belajar sendiri terasa sunyi/aku ingin pulang

Bahwa penulis ingat akan ibunya yang jauh di rumah sana, dan mengingat akan kesalah atau merasakan bahwa dia merasa menjadi anak nakal selama ini, dan semua itu teringat di sela-sela kesibukannya yang membuat bosan.

Dalam buku kumpulan puisi ini banyak mengisahkan perjalanan batin penulis yang dialami selama ini yang banyak memuat pengalaman, sindiran-sindiran terhadap problematika.