KEBIJAKAN MENENTUKAN PILIHAN

DALAM NOVEL SALAH PILIH

KARYA NUR SUTAN ISKANDAR

 

I.                   PENDAHULUAN

Salah Pilih merupakan sebuah novel yang mengisahkan seorang lelaki yang salah dalam memilih jodoh. Selain mengisahkan seorang lelaki tersebut, novel ini juga menggambarkan tentang kehidupan di daerah Minangkabau yang ketat dengan adatnya, dimana seorang lelaki yang sepesukuan dengan sang perempuan tidak boleh melangsungkan pernikahan.

Novel ini berlatar tempat sebagian besar di daerah Minangkabau, yaitu Maninjau, Sungaibatang, Bayur, dan Bukittinggi. Sebagian juga mengambil latar tempat di Pulau Jawa. Tempat-tempat dimana masih kental dengan adat di daerahnya, sehingga mempengaruhi kehidupan yang diangkat dalam cerita ini.

Dengan terciptanya sebuah karya sastra maka kita  dapat membaca kehidupan dan memperbaiki kehidupan kita. Misalkan dengan novel salah pilih ini kita dapat mengambil sebuha pelajaran bahwa dalam menentuka sebuah pilihan harus secara bijak dan pemikiran yang matang tentang resiko yang nantinya akan dihadapi, sehingga adanya novel ini menambah dan memperkaya khazanah dunia sastra, khususnya di Indonesia.

II.                SISTEMATIKA

Di sebuah daerah di Minangkabau, tinggal sebuah keluarga. Seorang ibu yang bernama Mariati, saudara perempuannya, dan seorang anak perempuan terdapat dalam keluarga tersebut. Anak perempuan itu bernama Asnah, ia adalah anak angkat dari Mariati. Asnah adalah seorang gadis yang cantik, baik, sopan, lembut, serta taat dan patuh terhadap Mariati, walaupun Mariati hanyalah ibu angkatnya. Kebaikan hati Asnah itu pulalah yang membuat Mariati teramat sangat sayang terhadap Asnah.

Setiap kali perlu sesuatu, Mariati lebih senang dilayani oleh Asnah daripada oleh Sitti Maliah. Siti Maliah adalah seorang wanita yang sebaya dengan ibu Mariati yang biasa membantu menyiapkan hidangan untuk ibu Mariati dan keluarga. Kadang-kadang Sitti Maliah merasa iri terhadap Asnah. Walaupun begitu, Sitti Maliah tetap senang dan sayang terhadap Asnah karena memang perangai gadis tersebut benar-benar baik. Selain Asnah, Mariati juga mempunyai seorang anak laki-laki bernama Asri. Asri sama pula sayangnya terhadap Asnah sebagaimana dia menyayangi adik kandungnya. Namun, seiring berjalannya waktu, berubah pulalah perasaan Asnah terhadap Asri. Semula perasaannya terhadap Asri hanya sebatas perasaan sayang terhadap seorang saudara, namun perasaan itu berubah menjadi perasaan cinta.

Hingga tiba saat Asri tamat dari sekolahnya, dan Mariati menyuruh Asri tinggal dan bekerja di kampung halamannya saja. Sebenarnya keinginan Mariati tadi sangat bertentangan dengan keinginan hati Asri, karena ia sangat ingin meneruskan sekolahnya ke sekolah setingkat SMA atau ke sekolah kedokteran, namun sebagai seorang anak yang berbakti kepada ibunya, akhirnya ia mengikuti keinginan ibunya tersebut. Hingga suatu saat merasa bahwa Asri sudah cukup umur bahkan bisa dibilang sudah matang untuk menikah.

Asri menyetujui saja keinginan ibunya tersebut, tetapi dia masih bingung dalam mencari calon istri untuk dirinya. Asnah begitu kaget ketika ia mendengar bahwa Asri akan segera menikah. Sebernanya Asri dan Asnah boleh saja menikah, tetapi adat istiadat yang berlaku saat itu, mereka tidak boleh menikah, karena dianggap masih sepesukuan yang berasal dari satu kaum. Lalu dipilihlah wanita di Negerinya yang belum menikah. Akhirnya Asri menemukan seorang gadis yang cocok untuk menjadi pendampingnya. Gadis itu adalah Saniah. Keinginannya melamar saniah bukanlah tanpa alasan. Asri lebih dahulu tertarik kepada kakak Saniah, yaitu Rusiah. Rusiah adalah seorang perempuan yang baik hatinya, dan lembut perangainya. Namun ketika Asri bersekolah di Bukittinggi, ternyata Rusiah dikawinkan dengan seorang laki-laki bernama Sutan Sinaro. Jadi Asri memutuskan untuk meminang Saniah karena dianggapnya bahwa Saniah pun tak akan jauh beda dengan kakaknya, baik rupa ataupun perangainya.

Sampai suatu saat Asri bersama-sama ibunya memutuskan untuk bertamu ke rumah keluarga Saniah. Keluarga itu adalah keluarga orang terpandang, keluarga seorang bangsawan kaya dan terpelajar. Walaupun ibu gadis tersebut memiliki perangai yang kaku dan cenderung angkuh, namun Asri yakin bahwa Saniah tentunya berbeda dengan ibunya. Lalu, tak berapa lama, Asri memutuskan memilih Saniah sebagai calon istrinya. Mereka berdua melaksanakan acara pertunangan terlebih dahulu. Saat pertunangan, Saniah benar-benar menampakkan perangai yang sangat baik, ia pun hormat terhadap seluruh keluarga Asri. Perangai demikian itu membuat Asri semakin yakin dengan pilihannya itu. Tak lama, dilangsungkanlah upacara perkawinan Asri dengan Saniah yang sangat meriah.

Setelah menikah, mereka berdua lalu pindah ke Rumah Gedang milik keluarga Asri. Dari situ diketuahuilah bahwa perangai Saniah tidaklah seelok yang dia perlihatkan pada saat sebelum menikah. Saniah begitu memandang rendah terhadap Asnah hanya karena Asnah adalah seorang anak angkat. Dia merasa bahwa tidak sepatutnya Asnah disejajarkan dengan dirinya yang berasal dari kaum terpandang. Ternyata, perangai Saniah begitu angkuh, Saniah begitu sering berkata menyindir, bersikap bengis, bahkan mencaci maki yang begitu menyakitkan hati Asnah. Bahkan terhadap mertuanya pun, dia bersikap yang kurang sopan. Namun Asnah adalah seorang gadis tegar dan sabar, dia tak pernah membalas perlakuan buruk dari iparnya itu. Bahkan sekarang dia berani melawan terhadap suaminya, sering juga ia berkata-kata kasar terhadap suaminya. Sehingga dapat dilihat kalau adat Saniah tak jauh bedanya dengan ibunya, Rangkayo Saleah. Hingga membuat kesabaran Asri semakin berkurang dan akhirnya Asri membiarkan Saniah pulang ke rumah orang tuanya.

Hingga suatu hari Rangkayo Saleah mendapat kabar bahwa anak laki-lakinya, Kaharuddin akan menikah dengan seorang perempuan anak seorang saudagar batik di kota Padang, tak tertahankan lagilah amarahnya. Dianggapnya oleh Rangkayo Saleah bahwa Kaharuddin akan menikah dengan seorang perempuan yang tak tentu asal-usulnya. Sementara Dt. Indomo merasa setuju saja anaknya menikah dengan siapapun asal perempuan yang disukainya itu terpelajar, sehat, orang baik-baik dan bersopan santun. Kaya, miskin, bangsawan, berbeda negeri, dan sebagainya tidaklah dipandang sebagai alasan.

Namun Rangkayo Saleah tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak menyetujui pernikahan Kaharuddin. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke Padang mendatangi Kaharuddin bersama Saniah. Akan tetapi, nasib malang menimpa Saniah dan ibunya. Mobil yang mereka tumpangi masuk jurang. Rangkayo Saleah meninggal di tempat kejadian, sementara Saniah yang masih bernafas segera diselamatkan orang-orang dan dibawa ke rumah sakit. Namun karena kecelakaan yang dialaminya begitu parah, akhirnya Saniah pun meninggal dunia setelah sempat bertemu dan meminta maaf kepada suaminya.

Setelah beberapa lama Saniah meninggal, begitu banyak lamaran datang kepada Asri. Namun dia tak ingin salah pilih lagi. Dan ia memutuskan kalaupun ia hendak menikah lagi, ia hanya akan menikah dengan orang yang sudah sangat dikenal oleh dirinya dan dapat menjadi kawan yang selalu ada dalam susah, sedih, senang dan gembira, yaitu Asnah. Namun saat itu Asnah tinggal bersama Mariah, saudara perempuan Mariati yang tinggal di Bayur. Lalu Asri mendatanginya sekalian minta izin kepada Mariah untuk menikahi Asnah.

Para penghulu adat dan masyarakat pun sangat kaget mendengar keputusan Asri, karena, Asri dan Asnah sudah dianggap sebagai saudara sepesukuan. Walaupun Asri tidak setuju pada pendapat orang-orang, karena baginya Asnah hanyalah saudara angkat yang dibesarkan bersama-sama dengannya dan tidak ada ikatan darah dengannya. Namun, pikiran orang-orang berlainan dengannya. Dan adat pun mengatakan bahwa jika ada saudara sepesukuan yang melangsungkan perkawinan, maka mereka tidak akan diakui lagi sebagai warga Minangkabau. Dan Asri, daripada ia harus mengikuti adat yang bertentangan dengan hati nuraninya dan harus kehilangan orang yang dicintainya, ia pun memutuskan untuk membawa Asnah pergi meninggalkalkan Minangkabau. Dan ia pun rela melepaskan pekerjaannya sebagai seorang Sutan Bendahara. Mereka memutuskan untuk pergi ke Jawa.

Awalnya, kehidupan mereka di sana tidak begitu berkecukupan. Mereka pun banyak dijauhi oleh orang-orang sekampung mereka yang kebetulan sama-sama berniaga di Jawa. Namun karena usaha keras dan kesabarah hati mereka, akhirnya Asri mendapatkan pekerjaan yang layak. Dan yang terpenting, Asri mendapatkan kebahagian bersama Asnah.

Selang berapa lama, Asri dan Asnah mendapatkan surat dari para penghulu negri untuk segera pulang ke kampung halamannya. Karena penduduk kampung sadar telah kehilangan orang pintar yang mempunyai cita-cita yang besar untuk kemajuan negrinya. Seiiring kemajuan zaman, pengetahuan penduduk negri pun sudah terbuka lebar dan mereka lebih bisa menanggapi sesuatu hal dengan cara yang masuk akal. Akhirnya, Asri dan Asnah pulang kembali ke kampung halamannya. Mereka disambut dengan suka cita oleh para penduduk di sana. Asri diberikan kedudukan sebagai Engku Sutan Bendahara. Mereka sangat dihormati oleh penduduk dan hidup berbahagia.

III.             PEMBAHASAN TEORI

Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung menilai karya satra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya (Pradopo, 1994).

Kebijakan dalam menentukan sebuah pilihan adalah sebuah keharusan, bagaimana kita mempertimbangkan sesuatu dengan matang. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir dalam perkembangan kehidupan yang dituntut untuk serba cepat memang memaksa kita untuk dengan cepat memutuskan sesuatu hal sehingga kita selalu menganmbil keputusan tanpa perhitungan yang tepat dan kita menyesal pada akhirnya.

Dalam perkembangan jaman yang sangat pesat memang ada sebuah anggapan bahawa adat yang berlau sudah ketinggalan jaman atau kuno sehingga kita mulai sedikit demi sedikit meninggalkan  sehingga menimbulkan pudarnya adat yang sebenarnya mempunyai nilai-nilai sosial yang sangat baik, namun dengan rasa keingintauan dan perkembangan yang cepat sehingga terasa adat istiadat menghambat jalannya perkembangan jaman. Namun sebenarnya kita tidak boleh melupakan adat istiadat, bahwa sebenarnya adat istiadat adalah sebuah alat pembatas sosial yang membatasi dan menjadi sebuah pegangan agar kita mempunyai struktur sosial yang mendukung pada tiap bagian-bagian tersebut.

IV.             HASIL ANALISIS

Jika dikaji dengan pendekatan pragmatik, maka novel Salah Pilih ini menceritakan seorang yang salah dalam mencari jodoh, dan kita harus berhati-hati dalam menentukan jodoh kita.

Beberapa pesan yang dapat saya tangkap seperti berikut: pesan Moral a)walaupun sudah berpendidikan tinggi, hendaknya janganlah lupa pada adat negeri sendiri, b) janganlah menilai seseorang hanya dari rupa dan harta saja, karena belum tentu seorang yang bagus rupa dan banyak harta, bagus pula perilaku dan akhlaknya, c) jangan suka membeda-bedakan orang karena hartanya, karena banyak orang yang miskin harta tetapi memiliki kekayaan jiwa, d) menurut pada perintah dan nasihat orang tua itu wajib hukumnya, tetapi jika perintah orang tua itu menuntun pada jalan yang salah, sebaiknya sebisa mungkin harus bisa menolaknya, e) larangan dalam Adat istiadat memang harus dipatuhi, namun jika agama saja membenarkan dan tidak melarangnya, sebaiknya kita berpegang teguh kepada hukum yang lebih tinggi nilainya yaitu hukum agama, f) sesuatu yang menurut orang banyak itu salah, belum tentu itu merupakan suatu kesalahan. Karena pada dasarnya, kebenaran itu bukan dilihat dari berapa banyak orang yang mempercayainya, tetapi atas dasar apa sesuatu itu dapat disebut sesuatu yang benar.

            Ditinjau dari segi penulisannya, dalam penulisan novel ini sebagian besar menggunakan bahasa melayu yang di dalamnya terdapat sebagian kata yang kurang dapat dipahami dalam bahasa Indonesia dan tidak sesuai dengan EYD karena masih menggunakan ejaan dan dalam penyuntinganpun masih terkesan hanya menyalin saja di dalam cetakan-cetakan sebelumnya, namun cetakan terbaru sudah di sesuaikan dengan struktur dan ejaan yang baku, selain itu terdapat beberapa peribahasa di dalamnya. Namun sebagian orang justru menganggap kesulitan dalam memahami karya ini merupakan suatu keistimewaan dan keindahan dari karya sastra.

DAFTAR PUSTAKA

Iskandar, Nur Sutan. 1928. Salah Pilih. Jakarta: Balai Pustaka

Nurgiyantoro, Burhan. 2009. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.