NOVEL LAYAR TERKEMBANG

KARYA SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA

I.    PENDAHULUAN

Layar Terkembang adalah novel besutan Sutan Takdir Alisyahbana yang keberadaannnya cukup terkenal di era Pujangga Baru. Banyaknya Romansa dan pengorbanan cinta yang membuat novel ini banyak diminati, khususnya remaja pada saat itu.  Sutan Takdir Alisjahbana lahir di Natal, Tapanuli 11 Februari 1908. Ia pernah bekerja sebagai redaktur kepala di Balai Pustaka pada tahun 1930. Keahliannya dalam mengarang novel, essai, pangarang tata bahasa, ahli filsafat dan politikus membuat dirinya dikenal pada zamannya. Dalam penulisannya ia selalu membahas tentang eksistensialisme suatu karya sastra. Layar Terkembang sering disebut sebagai salah satu puncak novel Pujangga Baru . Novel STA yang paling terkenal ialah Layar Terkembang, suatu novel bertendens yang sejelas-jelasnya.

Gender merupakan kajian tentang tingkah laku perempuan dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis. Ini disebabkan yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminim dalam budaya lain. Dengan kata lain, ciri maskulin atau feminim itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin. Di mana kaum wanita dan laki-laki derajatnya sama. Ketertinggalan perempuan mencerminkan masih adanya ketidakadilan dan ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia, hal ini dapat terlihat dari gambaran kondisi perempuan di Indonesia. Sesungguhnya perbedaan gender dengan  pemilahan sifat, peran, dan posisi tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan. Namun pada  kenyataannya perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan, bukan saja bagi kaum perempuan, tetapi juga bagi  kaum laki-laki. Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. Dengan keadilan gender berarti  tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki.

 II.  SISTEMATIKA

Layar terkembang adalah novel tipis, hanya 166 halaman. Romansa di dalamnya pun tak terlalu istimewa. Kisah cinta segitiga antara Yusuf, Maria, dan Tuti mudah ditebak akhirnya. Kematian Maria di akhir cerita bukanlah alasan bagi pembaca untuk berkaca-kaca. Tak ada pendalaman tokoh, plotnya pun amat sederhana. Tapi semua orang tahu, novel yang terbit pada 1936 ini memiliki peran penting dalam pembangunan karakter kebangsaan pada awal-awal pembentukan bangsa. Kisah cinta segitiga hanyalah sampiran untuk mendukung ide-ide tegas yang ingin ia sampaikan. Meski Takdir lebih dulu dikenal sebagai seorang sastrawan, banyak yang meyakini Takdir hanya menjadikan sastra sebagai sebuah media untuk menerangkan buah pikir dan filsafatnya agar lebih mudah diterima masyarakat.

 Ada seorang pemuda bernama Yusuf, seorang Mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Tuti dan Maria berjumpa dengannya di pasar ikan ketika sedang asyik melihat-lihat akuarium. Diam-diam Yusuf jatuh hati kepada Maria, gadis yang wajahnya selalu ceria dengan bibir yang selalu tersenyum itu memancarkan semangat hidup yang dinamis.

Saat Yusuf  hendak pergi ke sekolah, tanpa disangka-sangka, ia bertemu kembali dengan Tuti dan Maria di depan Hotel Des Indes. Dengan senang hati dia mengawani keduanya berjalan-jalan. Semenjak itu, pertemuan Yusuf dengan Maria menjadi kerap. Sedang Tuti sibuk oleh berbagai kegiatan organisasi. Tuti memiliki cita-cita memajukan kaumnya. Setelah memperoleh restu dari kedua orang tuanya di Martapura, Yusuf menyusul Maria ke Bandung. Di sanalah, di sekitar air terjun Dago, Yusuf menyatakan cintanya kepada Maria. Dan perjalanan cinta antara Yusuf dan Maria pun bermula, serupa kapal dengan layar terkembang mengarungi samudera kehidupan. Dan Tuti yang kian sibuk dengan buku-bukunya, diam-diam mendamba kehangatan cinta seperti yang tengah dirasa Yusuf dan Maria.

Tuti teringat pada Supomo. Lelaki itu pernah berkirim surat cinta kepadanya. Namun, Tuti belum memberi jawaban kepadanya. Pada saat Maria jatuh sakit, adik Supomo datang menagih jawaban dari Tuti untuk kakaknya. Tuti menjadi bimbang. Meskipun sesungguhnya gadis itu tengah mendamba cinta kasih dari seorang lelaki, Supomo bukanlah lelaki yang didambanya.

Penyakit Maria kian parah. Ia mulai menyerahkan segalanya pada Yang Kuasa. Pada suatu ketika, Tuti pergi bersama Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di pedesaan. Ia melihat betapa kedua pasangan itu, meski hidup di desa dengan bercocok tanam, tetapi mampu menanamkan pentingnya pendidikan pada masyarakat di sekitarnya. Tuti menyadari, bahwa untuk menjadi berguna bagi masyarakat, tak harus di kota sibuk dengan berbagai oraganisasi. Hubungan Tuti dan Yusuf pun menjadi kian karib. Sedang kondisi Maria bertambah semakin parah. Pada ketika itulah, Maria mengucap pesan kepada keduanya. Adapun pesan Maria kepada Tuti ialah Alangkah bahagianya saya di akhirat nanti, kalu saya tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya beberapa dalam beberapa hari in. Inilah permintaan saya yang penghabisan, dan saya, saya tidak rela selama-lamanya, kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain. Dan mengakibatkan Tuti dan Yusuf yang bersatu.

 III.                      PEMBAHSAN TEORI

Dalam menganalisis novel bergenre serius ini, saya mencoba mempergunakan dua pendekatan yaitu pendekatan psikologi sastra dan pendekatan feminisme. Yang pertama adalah pendekatan psikologi sastra. Pendekatan psikologi sastra adalah pendekatan mengenai karakter atau bahkan kondisi psikologis para tokoh di dalamnya. Yang kedua, saya mempergunakan pendekatan feminisme. Pendekatan feminisme menyatakan adanya kritik terhadap feminisme perempuan di dalamnya.

Untuk mendukung teori di atas ada beberapa teori pendukung yaitu pendekatan psikologi sastra. Dalam penciptaan karya sastra  memang kadang-kadang ada teori psikologi tentu yang dianut pengarang secara sadar atau samar-samar, dan teori tersebut ternyata cocok untuk menjelaskan tokoh-tokoh dan situasi cerita (Wellek & Warren, 1990). Sehingga sangat dimunginkan kita menemukan pesan moral yang sangat jelas dengan menilai bagaimana tokoh dalam mengahdapi situasi yang ada.

IV.                      HASIL ANALISIS

Dalam novel ini, saya mencoba mengkaji karakteristik tokoh Tuti dan Maria dua saudara yang karakternya berbanding terbalik. Tuti yang selalu aktif  bergelut dalam kegiatan organisasi dan cencerung pendiam, serta Maria yang menyukai kegiatan di rumah dan cenderung periang. Dalam novel ini, feminisme yang menjadi idealis Tuti tidak serta merta harus membuat ia menutup diri dari kehidupan cinta yang terdapat di sekelilingnya.

Dalam novel ini digunakan alur maju. Di mana dimulai dengan perkenalan tokoh yaitu Tuti, Maria dan yusuf yang bertemu di pasar ikan ketika melihat-lihat akuarium dan perkenalan antara Maria dan Yusuf kian berlanjut.  Kemudian penanjakan cerita tokoh yaitu di mana Maria dan Yusuf berpacaran sedangkan Tuti sibuk dengan kegiatan aktivitas kampusnya. Dilanjutkan dengan konflik yaitu Tuti merasa ingin ada seorang laki-laki yang ada bersamanya dan Maria sakit TBC yang tak kunjung sembuh yang mengakibatkan Tuti dan Yusuf saling dekat. Dan ketika mereka berlibur ke desa Tuti menyadari kalau memperjuangkan gender dan mengangkat derajat wanita tidak hanya dengan berorganisasai tapi juga harus mampu bersosialisasi dengan sekitarnya. Dan bagian terakhir alur ini yaitu adanya resolusi atau penyelesaian di mana Maria meninggal dan berpesan pada ke duanya untuk bersatu.

Yusuf, Maria, dan Tuti merupakan tiga tokoh sentral cerita novel ini. Tuti dan Maria kakak beradik yang memiliki sifat yang sangat berbeda. Tuti yang memiliki sifat yang dingin, penderian teguh serta aktif berorganisasi namun kurang bergaul dengan lawan jenis dan bercita-cita memajukan kaumnya. Maria merupakan adik Tuti yang merupakan gadis lincah dan periang. Serta Yusuf mahasiswa sekolah tinggi kedokteran berasal dari martapura dan bersifat baik. Namun dengan mudah bias langsung mencintai Tuti setelah ditinggal pergi Maria.

Adapun tema dalam novel Layar Terkembang yaitu cinta dan semangat seorang wanita yang inggin menyatarakan kaumnya dengan laki-laki dan memajukan kaumnya. Seperti tokoh Tuti. Penggunaan latar novel ini tidak begitu banyak dan di gambarkan secara sederhana namun jelas. Diantaranya ialah di pasar ikan yang ada akuariumnya, di jalan, di depan rumah Maria dan Tuti, Martapura kampung halaman Yusuf,  di Bandung dengan pedesaan serta di rumah sakit tempat Maria di rawat karena sakit TBC.

Kepribadian atau karakter masing-masing tokoh perempuan dalam Layar Terkembang berlainan. Kedua tokoh: Maria dan Tuti, sama-sama memiliki karakter berbeda. Tokoh Tuti cenderung berorientasi ke depan. Artinya, semangat feminisme dan cita-citanya selalu diperjuangkan untuk mencapai tujuannya. Akan tetapi, tokoh Maria cenderung mengalami stagnasi dan pasrah terhadap keadaan, baik sebagai perempuan maupun sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Tujuan hidup antartokoh perempuan dalam novel Layar Terkembang juga sudah berbeda. Tokoh Tuti ingin selalu memperjuangkan hak-hak perempuan yang selama ini ditindas oleh kaum laki-laki. Namun, Maria mengalami berbagai kelemahan dengan masalah kehidupan yang dihadapi. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap tujuan hidupnya.

Adapun nilai moral dan nilai yang dapat diambil bagi pembaca yang terdapat dalam novel ini ialah saling menghargai dan harus menyeimbangkan antara kepentingan pribadi dan kepentingnan umum. Dan cara meyetarakan gender tidak hanya dengan berorganisasi namun juga dengan bersosialisasi dan mengerjakan sesuatu secara bersamaan dan saling membantu antara pria dan wanita.

Kehidupan manusia seperti layar yang senantiasa harus berkembang untuk menjalankan roda-rodanya. Antara cinta dan pekerjaan posisinya juga haarus seimbang. Tidak ada yang lebih diprioritaskan atau lebih dipentingkan dari keduanya. Apabila cinta tidak berjalan dengan mulus, jalan satu-satunya adalah kita harus rela berkorban untuk menjalankan semua itu. Kehidupan manusia juga tak ubah hanya rencana Tuhan, tidak selalu berjalan dengan mulus.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alisjahbana, S. Takdir. 1990. Layar Terkembang. Jakarta : Balai Pustaka.

Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gama Press

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta : Pustaka.