NOVEL HARIMAU! HARIMAU!

KARYA MOCHTAR LUBIS

 

I.                   PENDAHULUAN

            Novel Harimau! Harimau! merupakan novel yang di dalamnya mengandung pesan moral yang sangat menarik untuk di baca dan di apresiasikan. Karena didalamnya tercermin perilaku moral pemimpin yang disegani masyarakat suatu kampung namun semua keahlian yang di umbar tidaklah berguna saat dalam keadaan genting. Dalam novel ini juga digambarkan kepercayaan seorang hamba Tuhan kepada Tuhannya dan tidak mempercayai hal – hal yang berhubungan dengan jimat dan mantra manusia biasa. Karena pada dasarnya semua kejadian yang menimpa setiap manusia adalah kehendak Tuhan.

            Novel Harimau! Harimau!  menghubungkan realita yang ada dalam novel tersebut juga berdasarkan realita yang ada di dunia. Sebab banyak fakta yang menggambarkan seorang pemimpin yang mementingkan kepentingan diri sendiri dan tidak memikirkan rakyatnya. Keegoisan yang dilakukan pemimpin yang tamak akan berbalik buruk pada pemimpin itu sendiri.

Novel Harimau! Harimau karya Mochtar Lubis yang  lebih mengangkat  tentang dunia kepemimpinan ini, sangat menarik untuk dibaca oleh semua kalangan, lebih khususnya adalah  para pemimpin dan anak buah dalam suatu organisasi atau perkumpulan. Penceritaan dalam novel ini juga tertuju pada hubungan manusia dengan Tuhannya. Kepercayaan pada unsur selain Tuhan tidak akan membuat hidup kita berhasil. Tidak segampang membalikkan tangan, masalah yang dihadapi perlu diselesaikaan dengan kejujuran. Novel Harimau!harimau sebagai penggambaran sistem kepemimpinan dibumbui kekufuran yang sering dilihat pada dunia nyata kita.

II.                SISTEMATIKA

Tujuh orang pencari damar telah berada ditengah hutan selama seminggu. Mereka adalah Pak Haji Rahmad,Wak Katok, Sutan, Talib, Buyung,Sanip dan Pak Balam. Wak Katok sebagai pemimpin rombongan, dia pandai bersilat, berburu, dan dikenal sebagai dukun. Sutan, Talib, Sanip dan Buyung adalah murid – murid pencak silat Wak Katok, sedangkan Pak Haji orang tertua di antara mereka.Selama di hutan mereka tinggal di pondok Wak Hitam, seorang tua yang konon memiliki ilmu gaib dan berilmu tinggi. Pondok itu dibangun Wak Hitam sebagai tempat peristirahatannya bersama keempat istrinya yang dibawa secara bergiliran. Ketika para pencari damar itu datang ke pondok Wak Hitam, ia sedang bersama istri termudanya yang sangat cantik yaitu Siti Rubiyah. Tak heran ketujuh pencari damar itu secara sembunyi – sembunyi menggoda Siti Rubiyah.

            Suatu hari perjalanan pulang  setelah mengumpulkan hasil banyak, Buyung berhasil menembak seekor rusa. Rupanya rusa itu juga diincar oleh harimau. Pak Balam adalah orang pertama yang dimangsa harimau itu hingga luka parah. Pak Balam merasa ajalnya sudah dekat. Menurutnya harimau itu sengaja dikirim Tuhan untuk menghukum mereka yang berdosa. Oleh karena itu ia meminta agar teman – temannya mau mengakui semua dosa yang pernah mereka lakukan. Pak Balam sendiri telah mengakui kesalahannya karena telah membiarkan Wak Katok membunuh teman seperjuangannya yang terluka pada saat perang melawan Belanda dahulu. Selain itu ia juga merasa berdosa karena membiarkan Wak Katok memperkosa istri Demang, membunuh keluarganya dan membawa kabur harta bendanya. Pengakuan itu membuat resah dan saling mencurigai diantara mereka.

            Korban kedua adalah Talib yang disergap harimau. Beruntung ia sempat berteriak hingga teman – temannya segera datang dan mengusir harimau itu. Keadaan Talib sangat mengkhawatirkan. Rombongan yang masih sehat membuat tandu untuk membawa kedua korban dan damar yang diperoleh ditinggalkannya. Sementara itu pak Balam masih mengingatkan agar mereka mengakui kesalahannya. Kemudian Talib yang keadaannya parah mengakaui bahwa ia telah mencuri, setelah itu Talib meninggal. Namun, pengakuan Talib membuat Sanip dan Sutan bertengkar. Sanip ingin mengakui bahwa ia bersama Sutan dan Talib pernah mencuri kerbau Pak Haji serdang, berdusta serta berzina.

            Setelah penguburan Talib, Buyung mengusulkan untuk memburu harimau. Lalu diputuskan, Wak Katok, Buyung dan Sanip yang memburu harimau, sedangkan Sutan dan Pak Haji menjaga pak Balam yang keadaanya semakin mengkhawatirkan. Karena pak Haji dan Sutan tidak merasa tenang, kemudian mereka menyusul ketiga temannya. Akan tetapi. Nasib sial menimpa Sutan, ia menjadi korban ketiga harimau itu tanpa diketahui teman – temannya.

            Sementara itu, Pak Balam meninggal karena keadaannya yang semakin parah. Setelah menguburkan pak balam, rombongan melanjutkan pencarian Sutan. Namun, Wak Katok berniat meninggalkan hutan dan pulang kekampung. Tetapi Pak Haji dan Buyung berhasil menahannya. Pak Haji berpendapat bahwa hidup mereka adalah hidup mereka, hidupnya adalah hidupnya sendiri. Pak Haji tidak percaya pada ilmu,mantra – mantra jimat Wak Katok. Perjalanan di hutan itu memang memaksa mereka untuk banyak memikirkan keselamatan dirinya sendiri, untuk dapat keluar dari hutan. Belum lagi ancaman harimau yang sewaktu – waktu bisa memangsa mereka. Disaat seperti itu, ternyata Buyung masih mau menyelamatkan  Pak Haji dari ancaman ular berbisa. Hal itu menggugah kesadaran Pak Haji bahwa dalam saat – saat sulit seperti itu masih ada orang yang mau menyelamatkan orang lain tanpa memikirkan bahaya.

            Perburuan harimau itu masih masih terus dilakukan. Dalam kesempatan itu, kembali Wak Katok memaksa Pak Haji dan Buyung untuk mengakui dosa – dosa nya yang pernah dilakukan. Buyung menolak perintah Wak Katok. Wak Katok geram dan mengancam muridnya akan ditembak. Tepat saat itu, harimau tua tiba – tiba muncul dihadapan mereka. Buyung segera mengingatkan Wak Katok agar segera menembak harimau. Senapan Wak Katok tidak juga meletus karena masih basah. Buyung menakuti harimau dengan api, binatang itu pun kabur.

            Dampak peristiwa itu adalah terbukanya kedok Wak Katok. Orang tua itu ternyata seorang pengecut. Mantra dan jimatnya hanya untuk menutupi kebohongannya sebagai dukun palsu. Merasa rahasianya terbongkar, Wak Katok marah dan menyuruh teman – temannya pergi. Buyung, Sanip dan Pak Haji terpaksa pergi namun, kembali lagi untuk merampas senjata dari Wak Katok. Dalam kemelut itu Pak Haji tertembak Wak Katok, sedangakan Wak Katok dapat dilumpuhkan oleh Buyung, kemudian dijadikan umpan harimau.

            Rencana itu ternyata berhasil. Harimau yang ditakuti datang dan menerkam Wak Katok, saat itu juga senapan yang digenggam Buyung menyemburkan peluru tepat kekepala harimau hingga tewas. Sanip dan Buyung memutuskan segera meninggalkan hutan dan menyerahkan Wak Katok kepada polisi, karena telah membunuh Pak Haji.

III.             PEMBAHASAN TEORI

Penedekatan Sosiologi Sastra merupakan perkembangan dari pendekatan mimetik yang memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan (wiyatmi, 2006). Dalam karya sastra tidak dapat kita pisahkan dengan kehidupan masyarakat yang ada, pada dasarnya penulis adalah bagian dari sebuah struktur masyarakat.

Dalam sebuah karya sastra memang mempunyai tujuan, dan berbagai macam tujuan itu pasti ada sebuah realitas yang menjadi dasar ekspresi pengarang menciptakan sebuah karya sastra, sehingga karya sastra tidak akan jauh antara sastrawan, karya sastra dan masyarakat.

IV.             HASIL ANALISIS

 Dalam pembahasan mengenai dunia pengarang seperti Mochtar Lubis ini, saya mencoba menganalisis dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Penerapan sosiologi sastra yang saya kaji  dari tiga sisi yaitu sosiologi pengarang dan sosiologi yang berkaitan dengan masalah sosial serta  sosiologi pembaca. Dalam novel Harimau!Harimau! ini berkaitan dengan sosiologi pengarang yaitu dengan latar belakang sosial pengarang yang berasal dari daerah yang memprioritaskan adanya sistem kepemimpinan. Sistem kepemimipinan yang terjadi adalah sistem kepemimpinan yang menuju pada arah ketidakadilan dan kekuasaan penuh. Dalam hal ini, rakyat atau anak buah sebagai pesuruh dalam konteks pelaksanaannya. Tidak jaraang seorang pemimpin bertindak semaunya sendiri dalam menjalankan kewenangannya. Mochtar Lubis mencerminkannya pada novel Harimau!Harimau! ini.

Penerapan sosiologi karya sastra dalam hubungannya dengan masalah sosial adalah mengkaji novel Harimau!Harimau! dengan mengaitkannya dengan realitas kehidupan yang terjadi dalam masyarakat. Novel tersebut dipahami dalam hubungannya dengan masalah kepercayaan masyarakat dan pimpinan  kepada hal-hal yang bersifat takhayul, yang terwujud dalam pemujaan pada roh orang yang telah meninggal, bahakan mempercayai akan keberadaan mantra dan jimat-jimat pelindung.

Penerapan sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra. Novel Harimau!Harimau! sebagai karya sastra yang tergolong banyak dibaca dan ditanggapi oleh masyarakat. Ketertarikan pembaca pada novel ini karena ceritanya tentang kebersamaan dalam suatu organisasi dan perkumpulan dengan hubungan seks yang ada di dalamnya serta unsur kepemimpinan yang dominan di dalamnya.

Dalam karya sastra terdapat beberapa unsur intinsik yang berada di dalamnya. Dalam melakukan analisis ini, saya mengulas unsur penokohan, tema, alur, dan latar. Penokohan dalam novel ini yaitu: Wak Katok mempunyai watak yang jahat dan percaya akan hal-hal gaib  serta tak bertanggung jawab, Balam juga mempunyai watak yang sama yaitu jahat dan tidak mau mengalah, Talib adalah anak buah yang ternyata mempunyai sikap yang licik juga, Pak Haji Rahmad yang mempunyai sikap baiok hati dna tidak mempercayaai hal-hal yang berbau aliran sesat. Sutan mempunyai sikap yang jahat pula. Sanip dan Buyung mempunyai sikap yang berbeda, sebagai anmak buah mereka mempunyai sikap yang baik hati dna tidak mempunyai pikiran yang sam dengan Wak Katok.

Tema dalam cerita ini adalah kepemimpinan yang salah.Alur yang digunakan adalah alur maju, karena menceritakan dari awal mereka di hutan dan akhirnya satu-satu meninggal diterkam harimau. Latar tempatnya adalah hutan.

DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Mochtar. 1989. Harimau!Harimau!. Jakarta : Pustaka Jaya.

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Univesity Press

Wiyatmi, 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.