CERPEN MATA YANG INDAH

KARYA BUDI DARMA

I.       Pendahuluan

Jika kita membahas tentang karya-karya Budi Darma, baik novel maupun cerpen, pasti kita akan dihadapkan oleh bagaimana kepahitan hidup dan suramnya kehidupan. Dalam sebuah kehdupan kita pasti akan menemukan berbagai macam hal dan kejadian, baik susah maupun senang, dan Budi Darma memandang sebuah kehidupan dengan nuansa yang berbeda. Bagaimana cara penulisan dan penyampaian gagasan tentang kehidupan dan kepahitan hidup di kemas dengan teknik penceritaan kolase.

Seperti dalam karya-karyanya seperti Olenka, Rafilus, ataupun Ny. Talis yang menceritakan kesuraman hidup, cerpen yang berjudul Mata Yang Indah ini memberikan tentang bagaimana seharusnya kita bersikap dan bagaiman sebuah balasan akan semua sikap kita saat ajal akan menjemput.

Menarik jika kita membaca karya Budi Darma yang hampir sebagian besar bertemakan kesuraman, kepahitan, dan kepedihan hidup, namun didalam sebuahv karya sastra adalah bagaimana pencerita memberikan sebuah nilai-nilai dan pesan moral untuk pembaca. Sehingga dalam pembahasan cerpen Mata Yang Indah karya Budi Darma ini diharapkan dapat menemukan morl dan pesan cerita yang ingin disampaikan oleh penulisnya.

II.    Sistematika

Cerita berawal dari Haruman yang mendapatkan petuah atau nasihat dari ibunya sebelum meninggal.

Beberapa saat sebelum meninggal, ibu mengelus-elus kepala saya, kemudian berkata: “Haruman, lihatlah mata saya baik-baik.”Tampak ada nyala lembut dalam mata ibu, nyala lilin yang hampir padam.Lilin sudah hampir habis, demikian pula sumbunya. Namun tampak, nyala lilin itu tenang, tidak sama dengan nyala lilin yang berjuang untuk tetap hidup pada saat berhadapan dengan angin yang akan membunuhnya.

Saya tahu ibu akan meninggal, meninggal dengan benar-benar pasrah.

Dengan mendadak ada bau, entah datang dari mana, amat lembut, namun amat segar. Saya diam, namun saya ingat cerita ibu ketika saya masih kecil dahulu: “Haruman, pada saat saya akan meninggal kelak, akan ada bau dari sorga dikirim ke dunia.”

“Siapa yang mengirim?” tanya saya, dulu, ketika saya masih kecil.

“Malaikat. Ketahuilah, Haruman, ada masa awal dan ada masa akhir, demikian juga kehidupan manusia. Menjelang saat kehidupan seseorang berakhir, pasti ada malaikat melayang-layang tidak jauh dari dia yang akan meninggal. Kadang-kadang malaikat tidak membawa apa-apa, kadang-kadang membawa petaka, kadang-kadang pula membawa bunyi-bunyian atau bau yang tidak pernah terbayangkan oleh manusia sebelumnya.Lakukanlah tindakan-tindakan mulia dengan hati yang bersih dalam kehidupanmu, Haruman, agar kelak, sebelum kamu meninggal, malaikat akan membawakan kamu pertanda-pertanda yang agung.”

Dan setelah mendapatkan sebuah petuah dari ibunya maka seperti permintaan ibunya, haruman pergi mengembara,dan pada saat mengembara ia ingat tentang petuah ibunya yang lain.

“Haruman,” demikianlah kata ibu dahulu, ketika saya masih kecil.“Orang-orang suci pernah berkata, sebagaimana yang sering saya katakan dahulu, bahwa para pengembara besar ditakdirkan untuk tinggal di suatu tempat tidak lebih dari tiga hari. Kalau tidak, akan timbul kekacauan. Ingat-ingatlah kembali kisah para pengembara besar, sebagaimana yang sudah sering saya ceritakan.”

Dan pada akhirnya penyesalan ibu Haruman pun di ungkapkan kepadanya saat meregang nyawa.

“Haruman, dengarlah pengakuan dosa saya.Dahulu saya pernah memperkosa seorang laki-laki, entah siapa.Saya tertarik oleh matanya, mata yang terus berkilat, mengirimkan cahaya-cahaya indah.Mata dia jauh lebih indah daripada kelereng mainan para dewa.Malam harinya saya tertidur pulas, dan bermimpi.”

Dalam mimpi, menurut ibu, ibu merasakan beban dosa yang amat berat, karena dia sedang mengandung bayi tanpa ayah yang akan hidup tanpa mata. Tampaknya, ada bidadari yang merasa iba kepada ibu.Bidadari ini segera terbang entah ke mana, dan dalam waktu singkat sudah kembali dengan membawa sepasang mata indah.

……………………

Tepat pada saat ibu akan mendesahkan nafas terakhir dalam hidupnya, saya berkata, “Ibu, pergilah dengan damai. Sudah sejak dahulu saya memaafkan ibu.Bidadari yang selama ini ibu harapkan, telah datang menjemput saya.”

Saya yakin, ibu tidak sempat mendengar kalimat saya terakhir.

III. Pembahasan Teori

Dalam pembahasan teori mengenai Mata Yang Indah ada beberapa teori pendukung dalam analisis ini. Yaitu moral itu sendiri, moral yang sangat mendasari pada kandungan isi sebuah novel baik dari segi sikap, tingkah laku dan ceritanya. Istilah Moral berasal dari bahasa latin. Moral merupakan sesuatu yang ingin disampaiakan oleh pengarang kepada pembaca, yang merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra dan makna yang disarankan lewat cerita (Nurgiyantoro,2003:321).

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pragmatik. Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung nenilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya (Pradopo, 1994). Karena karya satra tidak lepas dari sebuah pelajaran dan permasalahan kehidupan. Sehingga sering sekali karya sastra disebut dengan realitas yang difiksikan dengan mengambil berbagai nilai atau pelajaran yang ada.

IV. Hasil analisis

Dalam kehidupan bermasyarakat sering adanya penilaian seorang yang lain dengan yang lainnya, baik seara langsung maupun tidak langsung. Tingkah laku seseorang dalam ajaran agama juga menentukan amal dan ibadah yang kelak nantinya akan dihitung setelah kita meninggal.

Kita tidaklah boleh melakukan hal yang hanya didasarkan oleh hawa nafsu karena akan menimbulkan penyesalan dan rasa berdosa setelah mendapatkan hasil atau akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan kita. Seperti ibu Haruman yang dulu pernah memeperkosa seorang laki-laki karena matanya yang indah, namun setelah itu ia bermimpi ia mengandung anak tanpa ayah yang tidak mempunyai mata sehingga seorang bidadari memberikan mata yang indah yang dimabil dari seseorang entah siapa dan ibu merasa dosa yang amat sangat berat.

Sehingga kita sebisa mungkin bertingkah laku dan bertindak yang mulia, dengan hati yang bersih dalam menjalini kehidupan ini. Sehingga nantinya bagaimana saat kita pergi atau mati selalu ditemani oleh malaikat yang selalu mendoakan dan memberikan sesuatu hal yang baik  yang mungkin kita tidak tau akan kehadirannya.

Daftar Pustaka

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Wiyatmi. 2006. Pengantar kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Penerbit Buku Kompas. 2001. Mata yang Indah: Cerpen Pilihan Kompas. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.