NOVEL PENGAKUAN PARIYEM

KARYA LINUS SURYADI, Ag

 

I.                   Pendahuluan

Pengakuan Pariyem adalah sebuah novel yang menggambarkan dunia batin seorang wanita jawa yang berisi segala pengakuan Pariyem tentang kehidupan di sekitarnya. Novel ini menggambarkan potret kehidupan masyarakat Yogyakarta, di lingkungan tempat tinggal Pariyem beserta kebiasaan dan tata caranya, serta tentang kehidupan keluarga yang diwarnai oleh sebuah pola kultur, yakni kultur jawa yang tenang namun terus mengalir mengikuti zaman.

Diketahui bahwa kehidupan dalam kultur jawa adalah kehidupan yang penuh dengan adat dan kebiasaan yang santun, ini ditunjukkan dalam novel Pengakuan Pariem yang di dalamnya terdapat berbagai macam contoh kebiasaan yang sangat identik dengan kultur jawa yaitu nrimo ing pandum atau menerima dengan ikhlas. Dalam kehidupan sekarang kebanyakan kita merasa kurang dengan apa saja yang sudah kita punya, jika kita melihat masih banyak orang-orang yang lebih tidak punya apa-apa dibanding dengan diri kita yang kebanyakan sudah berkecukupan, sehingga kata nrimo ing pandum seperti sudah mulai pudar dalam masyarakat di jawa khususnya.

Dengan adanya novel tersebut kita dapat mengambil sebuah nilai-nilai yang dapat menjadi perenungan sekaligus perbandingan antara perilaku dalam kehidupan yang berkembang, sehingga kita dapat menilai bagaimana nilai-nilai yang ada di dalam kultur jawa dalam perkembangan kehidupan dan jaman sekarang ini.

II.                Sistematika

Dalam novel ini disusun dengan alur maju (progresif) yaitu disusun secara maju dan berkesinambungan (awal-tengah-akhir). Pengenalan tokoh (eksposisi) dalam novel Ini di jelaskan bahwa Pariyem berasal dari Wonosari dan bekerja sebagai pembantu dikediaman Raden Cokro Sentono. Konflik pertentangan terjadi ketika Pariyem dan Raden Aryo melakukan hubungan yang seharusnya tidak di lakukan oleh pasangan yang belum menikah. Klimaks terjadi ketika Pariyem mengandung anak Den Aryo dan keluarganya mengetahui hal tersebut. Penyelesaian cerita (resolusi) adalah dengan menjadikan Pariyem selir dari Den Ario. Tokoh sentral dalam novel ini adalah Pariyem yang dipanggil Iyem dalam kesehariannya dan Maria Magdalena Pariyem sebagai nama lengkapnya. Ia seorang yang lugu tetapi energik. Ia berpegang teguh terhadap budayanya. Ia menganut prinsip ngelmu krasan, yang berpegang pada orientasi, krasan pada negeri dan tradisi. Ia adalah seorang perempuan jawa yang pasrah dalam menghadapi hidup, namun ia tetap menyimpan kebijaksanaan dalam hidup. Iyem adalah babu yang ikhlas, sampai-sampai ikhlas menyerahkan tubuhnya pada anak majikannya.

Dalam Novel tersebut diceritakan bahwa seorang pariyem, wanita berumur 25 tahun yang tinggal di Wonosari, Yogyakarta. Nama lengkapnya Maria Magdalena Pariyem. Masa kecilnya cukup menyenangkan. Ibunya seorang sinden dan ayahnya pemain ketoprak. Kini, ia bekerja sebagai babu di rumah seorang priyayi Jawa yang bernama Kanjeng Raden Tumenggung Cokro Sentono yang tinggal di Ndalem Suryomentaraman Ngayogyakarta. Ia mempunyai istri yang bernama Ndoro Ayu Cahya Wulaningsih dan dua orang anak yang bernama Raden Bagus Aryo Atmojo dan Ndoro Ayu Wiwit Setyowati. Masing-masing mempunyai tabiat yang berbeda, Ndoro Putri adalah seorang yang kacau dalam hal penampilan, tidak suka aneh-aneh seperti gadis pada umumnya tetapi pandai menari. Sedangkan Den Bagus adalah pria yang tampan dan pandai, ia menjadi mahasiswa filsafat di UGM.

Dalam melaksanakan tugasnya, Iyem, nama panggilannya, bekerja dengan ikhlas. Ia begitu lilo dan pasrah . Sampai pada suatu ketika ia juga pasrah ketika Den Bagus Aryo menginginkan tubuhnya, Pariyem tak kuasa menolak. Ia malah menikmati dan menghayati semua itu. Pariyem tidak menyesal, norma-norma jawa telah hilang dari dirinya, rasa hormat terhadap harga diri telah runtuh. Itu bukan pertama kalinya Iyem berbuat seperti itu, sebelumnya ia juga rela memberikan keperawanannya kepada Kliwon, teman lelakinya. Begitu juga dengan Den Aryo, ia seorang putra priyayi tulen tetapi tidak pandai mewarisi perilaku orang tua dan leluhurnya. Ia rela menghancurkan tradisi keluarga yang luhur dengan menikmati dan menghirup sekar madu Pariyem.

Beberapa bulan kemudian ia hamil. Ia mengandung anak Den Aryo. Kehamilannya diketahui Ndoro Putri, lalu melaporkan hal ini kepada ayahnya. Setelah melalui sidang keluarga, akhirnya Ndoro Kanjeng memutuskan agar Pariyem dipulangkan ke Wonosari selama satu tahun untuk memelihara kandungannya dan kemudian setelah bayinya lahir, ia boleh kembali bekerja di rumah majikannya. Semua biaya kelahiran dan kebutuhan bayinya kelak di tanggung keluarga Raden Cokro Sentono.

Akhirnya Pariyem kambali ke rumahnya di Wonosari. Ia diantar keluarga Den Aryo. Sebulan sekali dia dijeguk oleh keluarga priyayi itu. Setelah kandungannya berusia 9 bulan, Pariyem melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik sehingga Ndoro Kanjeng memberikan nama Endang Sri Setyaningsih. Setelah Endang berusia 1 tahun, ia di bawa ke Ndalem Suryomentaraman untuk tinggal di sana.

Pariyem sangat bahagia meskipun secara lahir ia adalah pembantu di rumah Raden Cokro Sentono, tetapi di sisi lain ia adalah menantu keluarga tersebut. Iyem adalah ibu dari cucu Raden Cokro Sentono.

III.             Pembahasan Teori

Moral merupakan sesuatu yang ingin disampaiakan oleh pengarang kepada pembaca, yang merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra dan makna yang disarankan lewat cerita (Nurgiyantoro,2003:321).

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pragmatik. Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung nenilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya (Pradopo, 1994). Karena karya satra tidak lepas dari sebuah pelajaran dan permasalahan kehidupan. Sehingga sering sekali karya sastra disebut dengan realitas yang difiksikan dengan mengambil berbagai nilai atau pelajaran yang ada.

IV.             Hasil Analisis

Jika dilihat dari pendekatan pragmatik, maka novel ini akan memiliki citra yang berbeda-beda dari tiap pembaca. Dalam hal ini tujuan dari pendekatan pragmatik dapat berupa tujuan politik, moral, agama, maupun lainnya. Adanya penilaian yang berbeda dari tiap pembaca disebabkan perbedaan pandangan antara pembaca satu dengan yang lain. Pembaca yang memandang Pengakuan Pariyem dari sudut pandang estetika pasti akan mengutarakan pendapatnya secara obyektif dan mengacu pada interprestasinya sendiri, sehingga pembaca akan menganggap bahwa Pengakuan Pariyem adalah sebuah karya sastra yang indah jika dilihat dari struktur penyampaiannya. Bagi pembaca yang melihat novel ini dari segi pendidikan, maka pembaca akan menganggap bahwa novel ini kurang baik, karena adanya penyimpangan nilai norma dan moral yang ada dalam masyarakat. Sebagai contoh, saat Pariyem dengan mudahnya memberikan kesuciannya pada lelaki yang bukan suaminya dimana hal ini sangat bertolak belakang dengan kebudayaan Jawa yang menjadi setting dalam novel ini sehingga novel Pengakuan Pariyem tidak memperoleh citra yang baik dari pembaca yang melihat karya ini dari sudut pandang pendidikan.

Ditinjau dari segi penulisan yang berbentuk prosa lirik, menyebabkan pambaca sulit untuk menafsirkan dan memahami isi yang disajikan, sehingga penafsiran pembaca terhadap karya ini berbeda-beda. Banyaknya penggunaan kosa kata dalam bahasa Jawa dan kata-kata yang vulgar membuat pembaca yang tidak memahami bahasa jawa sangat kesulitan untuk memahaminya, namun sebagian orang justru menganggap kesulitan dalam memahami karya ini merupakan suatu keistimewaan dan keindahan dari karya sastra. Terlepas dari semua itu, pandangan pembaca yang berbeda-beda itu seharusnya tidak menjatuhkan novel ini tetapi semakin memperkaya pandangan kita terhadap suatu karya sastra.

             Melalui pendekatan ekspersif  maka kita harus mengenal terlebih dahulu siapa sebenarnya seorang Linus Suryadi. Pendekatan ekspresif dalam memandang karya sastra dan mengkaji memfokuskan perhatian pada sastrawan selaku pencipta karya sastra. Linus Suryadi adalah pengarang yang menganut kebatinan Jawa. Ia adalah orang Jawa yang bangga akan tradisi nenek moyang. Karena penguasaan dan kebanggaannya menjadi orang Jawa itulah ia membuat buku ini. Ia merefleksikan dirinya sebagai seorang Jawa bernama Maria Magdalena Pariyem, wanita Wonosari yang menjadi babu di Ndalem Suryomentaraman Yogyakarta dan dengan pengakuan-pengakuannya kita di ajak untuk mengetahui kebudayaan Jawa, baik lewat diri Pariyem maupun lewat mulut para ndoronya yang berasal dari keluarga bangsawan.

            Pengakuan Pariyem, sebuah novel yang berhasil mengungkap pola pikiran orang Jawa, sebuah budaya yang di anggap buruk dan lemah oleh bangsa lain, tetapi dibalik itu semua tersimpan sesuatu yang sangat berarti bahwa dalam budaya Jawa sarat akan makna kehidupan. Pariyem, wanita biasa yang akhirnya hamil dengan Den Ario keturunan bangsawan, namun tetap menerima takdirnya, tidak memberontak, bahkan akhirnya kembali mengabdi setelah melahirkan.

Hal menarik dari novel ini adalah penyajian yang berupa prosa lirik, selain itu kemampuan ekspresinya sangat tinggi ditunjukkan dalam kutipan berikut :

”O, Allah, Gusti nyuwun ngapura

Saya lebih patut sebagai biyung emban

Saya lebih patut sebagai Limbuk

Begutulah ledekan tukang becak

Yang biasa saya dengar

O, betapa anyel ati saya dibuatnya

Bila sudah begini, saya suka sewot

Meskipun terhadap saya sendiri jua

Tapi bila sudah eling lagi

Saya ketawa cekikikan pula” (hal. 23)

Linus memang tidak mengarang novel biasa, dengan kemampuan lebih dalam pembuatan puisi ia mampu menciptakan karya yang sangat luar biasa. Novel ini membuat kita memasuki pola pikir orang desa dengan segala filosofinya.

            Kesimpulan

 

            Novel Pengakuan Pariyem merupakan karya sastra yang berbentuk prosa lirik tidak saja menggambarkan dunia batin seorang wanita Jawa, tetapi memaparkan pula kondisi masyarakat di lingkungan Pariyem dengan kebiasaan-kebiasaan dan tata caranya. Salah satu pokok penting yang dikemukakan Linus melalui tokoh Pariyem adalah mengenai pendirian budaya yang akrab disebut Ngelmu Krasan yang berpegang pada negeri dan tradisi sendiri. Walaupun novel ini penuh dengan kata-kata yang vulgar tetapi secara keseluruhan novel ini dapat di sebut sebagai ensiklopedia kebudayaan jawa, sehingga mampu menambah khasanah kebudayaan Nasional.

Daftar Pustaka

Nurgiantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Suryadi, Linus. 2008. Cetakan ke7. Pengakuan Pariyem. Pustaka Pelajar.

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Website internet : http://www.budayajawa.com , pada Tgl 2 April 2011, pukul 20.00 WIB.