Judul buku   : Menggoda Kehidupan

Pengarang   : Ahamad Syam’ani, Dwi Putri Ananda, Eza Thabry Husano,dkk

Penerbit       : Tahura Media

Tahun terbit : Cetakan Pertama, 2009

Tebal buku   : xii +90 halaman

Resensi : Edwin Ihsani

 Didalam kehidupan ini memang banyak kejadian-kejadian atau peristiwa yang terjadi, permasalahan yang sering terjadi berbeda satu dengan yang lainnya, disini dalam buku Antologi Puisi yang berjudul Menggoda Kehidupan menggambarkan berbagai kejadian yang dialami semisal, kerinduan, percintaan, dan juga perenungan selain itu masih banyak lagi tema-tema yang lainnya.

Judul puisi yang menarik saat saya baca yaitu Puisi Sedih Seorang Caleg Gagal yang Germo Tua Mantan Pengemis Ibukota dan Telah Menjadi Konglomerat Kota Bakal Calon Walikota, oleh Shah Kalana Azmi, berikut bait dalam judul tersebut :

Dulu,/banyak jalan berlubang/kini,/banyak lubang berjalan/baah!

Bait yang sederhana tersebut mempunyai makna yang sangat luas, penulis ingin menggambarkan seorang caleg yang benar-benar ingin membela kepentingan rakyat harus gagal karena kalah dengan caleg-daleg konglomerat dengan baris Dulu,/banyak jalan berlubang, bahwasanya dulu banyak sarana prasarana yang sangat belum mendukung perekonomian karena memang teknologi masih berkembang perlahan, namun setelah teknologi berkembang pesat maka Kini,/banya lubang berjalan, mungkin yang di maksud adalah banyaknya caleg-caleg yang nantinya terpilih hanya membawa janji-janji ompong, begitulah yang mungkin penulis ingin gambarkan dalam puisi tersebut.

Terlepas dari tema puisi di atas, ada juga puisi yang berjudul Bumi, oleh Lieta Dwi Novianti, berikut bait dalam puisi tersebut :

Bumi itu diibaratkan seperti telur/kalau tidak bisa menjaga/berdampak kepada semuanya

Bumi itu rapuh/bagai kayu/yang sudah dimakan rayap

Bumi itu penting/di dalamnya hidup berbagai macam hewan/dan takut kalau anak cucuku tidak bisa hidup di bumi/dan kalau begitu/maka jagalah bumi seperti menjaga telur

Penulis ingin mengingatkan kita bahwa bumi ini sudah mulai tua yang di gambarkan dalam bait Bumi itu rapuh/bagai kayu/yang sudah dimakan rayap, dan harus benar-benar di jaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya, karena bumi bukan hanya untuk kita namun juga untuk anak cucu kita sehingga sangatlah penting bumi ini.

Senada dengan puisi di atas, Dunia di Ujung Senja oleh Sigit B. Prabowo, yang menceritakan tentang kehidupan dan permasalahan tentang bumi ini, berikut bait-bait puisi tersebut :

Kata mulai melucuti maknanya

 

Sungai yang mencapai laut

Dengan bakau yang menggelatung

Seperti pertanda, bahwa langit bosan

Dan akan terjun ke laut

 

(bumi yang maha sempurna bagi makhluk hidup

Apapun juga yang juga maha sempurna

Bagi makhluk hidup yang cerdas membuat

Kemudharatan semaunya sudah lama

Bosan melihat apa yang terjadi pada

Dirinya dan bermaksud mengakhirinya

Dengan menyuruh langit menabaknya.)

 

Mudah mudahan ada maknanya

Dalam puisi ini penulis ingin menggambarkan kerakusan manusia, bisa dilihat dalam bait Apapun juga yang juga maha sempurna/Bagi makhluk hidup yang cerdas membuat/Kemudharatan semaunya sudah lama, terlihat sekali bahwa penulis sangat kesal dengan kelakuan beberapa pihak yang hanya bisa mengeksploitasi namun tidak diimbangi oleh perbaikan. Adapun dalam bait Bosan melihat apa yang terjadi pada/Dirinya dan bermaksud mengakhirinya/Dengan menyuruh langit menabaknya.), penulis ingin menyampaikan banyak pihak yang bosan melihat dirinya biasa-biasa saja sehingga mengeksploitasi sumberdaya tanpa menghiraukan akibatnya sehingga sama saja dengan membuat sebuah bencana, misalkan banjir, pemanasan global yang berdampak pada sektor luas dan sebagainya.

             Bisa dikatakan antologi puisi ini dalam buku yang berjudul Menggoda Kehidupan ini sangat mempunyai nilai-nilai yang dapat di ambil sehingga dapat bermanfaat bagi pembaca, mengenai kehidupan dan kesadaran akan sekitarnya terutama tentang kehidupan dan makna kehidupan itu sendiri.

Daftar Pustaka

Suminto, A.S. 2000. Berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta : Gama Media

Ahamad Syam’ani, Dwi Putri Ananda, Eza Thabry Husano,dkk. 2009. Menggoda Kehidupan. Jakarta : Tahura Media