Dalam kamar tamu yang tak begitu luas, mendekam wajah kosong yang terduduk diantara sela-sela meja dan kursi yang saling berdekatan, menjalin sebuah ikatan dalam ruang. Sebuah ruang yang cukup luas untuk beberapa kursi dan sebuah meja itu. Sebelah kiri dan kanan ruang itu terdapat sebuah jendela, dan di muka ruang itu terdapat juga sebuah jendela yang dibawahnya tersandar sebuah perabotan sederhana, sebuah almari yang di atasnya terpampang sebuah foto yang usang tentang seorang wanita.

Jika kita lihat lebih jauh keluar jendela maka akan kita dapati sebuah gambar yang besar dan jelas, berwarna biru dan di sela-sela gambar itu terdapat beberapa anak kecil bermain. Pintu terbuka, dan terlihatlah seorang yang menepuk lamunan. diantara sela udara yang memisahkan pandangan, terdengar beberapa langkah kaki menyusul.

“cobalah terka, apa yang ada dan terlihat dari panca indra !”, sembari menghujamkan badan bungkuknya kedalam kursi yang sedang menikmati keindahan.

“tak usah banyak cakap, kau sudah tua !!, tinggal menunggu hitungan hari saja !”

“ahaha, kau amat lucu . seperti wajah yang tersenyum, dalam batu nisan itu .. !!” sambil membakar cerutu di mulutnya.

“sepertinya umurmu ada dalam asap yang kau keluarkan .” melihat asap yang mengisi seluruh ruangan.

Setelah lama tak ada suara dan hanya helaian nafas, maka dikeluarkannya sebuah kertas kecil, tanda bukti bebas.

“ternyata ada juga surat seperti ini untukmu ?!”.

“hmmm”, hanya menggumam.

“apakah kau ingat saat kau tumpahkan air saat menjamu dia ?!”

“saat itu aku tak sengaja, dan aku tak sadar akan hal itu .”

“bagaimana kau sadar ?, haaahh !!”

“tak usah kau menghardik seperti anjing !!”, sambil tetap mengepulkan asap dari mulutnya.

Untuk menenangkan diri aku beranjak dari lamunanku dan akupun keluar, mencoba melihat warna biru yang menenangkan. Biarkanlah anak-anak pergi bermain dan biarkanlah ibu memarahi anaknya, aku hanya dapat bertanya “bagaimana ?”.

Tiba-tiba bahuku seperti tertekan oleh sebuah beban yang berat, melebihi bulan yang mengitari matahari, atau tujuh permasuri baginda Raja Babillonia. Suara lirih bergesekan di luar telingaku.

“bagaimana cara mengembalikan air yang tumpah katamu?, Janganlah dilawan, menyeberanglah dengan perlahan mengikuti arus, akan sampailah kau ke tepi.”

Dan sepi menyelimuti, bersama kepulan asap yang masih tersisa dan anak-anak berlari mengambil baju dan pergi, begitupa dengan ibu yang sudah tak teriak memarahi anaknya dan sudah hilang suara gonggongan anjing. Aku melihatnya pergi, pelan, sejenakΒ  berpaling dan berteriak :

“dia masih secantik dahulu, seperti dalam foto itu !!”, sambil berlalu diantara bayangan pepohonan.