Bayang-bayang

Selanjutnya, sore itu aku berjalan di bibir pantai. Mencoba mengingat kembali sebuah cerita lama yang aku tulis dan aku ceritakan kepada anak kecil, teman, dan lainnya.

Pantai itu masih dingin, masih seperti dulu saat aku menggigil basah karenanya. Sore itu aku tak lagi terbayang tentang bayang-bayang lalu, aku hanya menangkap bayang-bayangmu, namun bukan dirimu, lalu ? aku tak tahu. Sering aku melamun, membayangkan bayang-bayang itu. Aku melamunkan dirimu, memikirkan tentang cerita yang tak selesai aku tulis itu. Ternyata aku masih menyimpannya, sampai lamunanku hilang tertegur.

“sedang apa sih ?”

bukannya menjawab namun hanya tersenyum.

“kok palah senyum, agak … “

“ahh, tak apa . bukankah melamun itu boleh ?”

“boleh, melamun dan lamunan adalah sebuah kemerdekaan dalam dunia bayang.”

dengan tersenyum, “mungkin kamu ada benarnya juga”, (sambil berjalan, beranjak dari tempat duduk)

Bukankah bayang-bayang itu adalah dunia abstrak, ataukah lamunan itu tak nyata ?, bukankah melamun itu nyata ?, bisakah kau jelaskan ?. Berbagai macam pertanyaan aku utarakan bukan terhadapnya namun terhadap diriku sendiri, kenapa ada sebuah keadaan seperti ini ?

“kau sadar gak sih ?!”, dengan nada yang berat berbicara padaku.

“aku sadar, sesadar-sadarnya aku ada di sini.”

“owhh !!”

Jika aku katakan, apa yang aku lakukan ?, sebuah pertanyaan yang konyol. Aku tak melihat diriku sendiri, apa yang sebenarnya dan bagaimana keadaanmu. Apakah aku melamun ?, tidak !!. Kau siapa dan aku siapa ?, haruskah aku pergi kedalam hayalan, agar kau nyata. Bukankah kau disini karena aku nyata, namun sekarang kau hanya bayangan. Bayangan bagiku sekarang, dan entah sampai kapan itu akan terjadi.

Semua itu hanya dalam hatiku.

Yogyakarta, 14,08