PARA PRIYAYI

Karya: Umar Kayam

Sinopsis

Novel ini menceritakan tentang Wage anak desa yang berasal dari desa Wanalawas. Sejak dalam kandungan ia telah menjadi anak yatim. Sehingga ia hanya tinggal dengan ibunya yang biasa dipanggil “Mbok” oleh Wage. Kehidupan desa Wanalawas yang diliputi kemiskinan membuat Wage menjadi anak yang memiliki kepribadian lugu dan penurut. Ia rajin membantu ibunya yang bekerja sebagai penjual tempe. Ketika Wage berusia enam tahun, Ibunya menyerahkan Wage kepada langganannya yaitu kepada keluarga Sastradarsono yang tinggal di jalan Setenan di desa Wanagalih. Keluarga Sastradarsono adalah kelurga priyayi. Sastradarsono juga berasal dari keluarga yang kurang mampu yang akhirnya Sastradarsono dipelihara dan dirawat oleh keluarga priyayi juga. Hingga akhirnya Sastradarsono bisa menjadi seorang guru sekaligus seorang priyayi. Semenjak tinggal dengan keluarga Sastradarsono secara otomatis derajat seorang Wage yang merupakan anak desa itu menjadi naik. Oleh karena itu Sastradarsono pun mengubah nama Wage, namanya diganti menjadi Lantip, karena nama tersebut dipandang lebih bermakna dan lebih pantas untuk hidup di lingkungan priyayi. Walaupun Lantip hanyalah anak titipan namun Sastradarsono senantiasa memperlakukannya dengan baik. Selain itu mendapat perhatian cukup, Lantip juga dididik dalam keluarga dan di sekolah hingga Lantip bisa menjadi seoran yang berhasil masa depannya. Semua itu adalah berkat budi baik dari keluarga Sastradarsono.

Keluarga Sastradarsono banyak peristiwa suka maupun duka yang telah dirasakan oleh Lantip. Suasana duka dan kenyataan pahit yang ia juga mengetahui bahwa Bapaknya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Sastradarsono. Tetapi Bapaknya bukan seorang priyayi seperti yang ia kira. Justru Bapaknya meninggal dengan menyandang nama buruk karena ia merupakan salah satu anggota perampok. Tetapi kenyataan lain yang yang dirasakannya pada suasana di keluarga besar Sastradarsono membuat Lantip dapat mengobati luka dan kekecewaan di hatinya.

Anak desa Wanalawas itu melihat betapa keluarga besar yang telah merawatnya itu merupakan keluarga yang sangat bahagia. Sastradarsono adalah pemimpin keluarga yang sangat beruntung karena memiliki anak dan istri yang patuh dan taat padanya. Puncak kebahagiaan Sastradarsono di lengkapi dengan hadirnya tiga orang anak yang sangat berbakti dan membanggakannya. Nugroho anak pertamanya yang berhasil menyelesaikan sekolah hingga menjadi guru. Nugroho kemudian menikah dengan Susanti yang dikaruniai tiga orang anak, yaitu: Tiny, Maria dan Tomy. Tak lama kemudian Nugroho diangkat menjadi Opsir Tentara Republik yang ikut dalam peperangan. Ketika itu pula, Nugroho menerima kenyataan pahit karena Tony meninggal. Anak kedua Sastradarsono adalah Hardojo, seperti Nugroho, ia menjadi guru. Meskipun ia sempat gagal menikah, tetapi akhirnya ia menikah lagi dengan Sumarti yang dikaruniai seorang anak yang bernama Harimurti. Kemudian Lantip diangkat menjadi anak Harjono. Anak ketiga Sastradarsono adalah Sumini, ia juga seorang guru. Sumini menikah dengan Harjono yang dikaruniai anak.

Sesungguhnya Sastradarsono telah merawat dan membesarkan banyak anak dari saudaranya yaitu Sri, Darmin, Ngadiman dan Soenandar, ayah kandung Lantip serta Lantip itu sendiri. Lantip yang hanya anak angkat sempat dipandang sebelah mata oleh keluarga Sastradarsono. Namun pengabdiannya yang tulus mampu mematahkan pandangan itu. Keluarga Sastradarsono terkesan dengan anak desa Wanalawas itu karena Lantip mampu membantu menyelesaikan persoalan dalam keluarga selain ia tulus mengabdi dan berbakti keluarga Sastradarsono.