Sajak Semar dan Sebotol Bir

Sebotol Bir

1

Disiang hari tanpa alang atap

sebotol bir teronggok,

kecoa pun mabuk,

cicak pun tidur pulas terlentang.

Aku duduk menatap wajahmu

………………..

Kita bersua,

menatap tajam pandangan mata.

Tanpa ragu kau ulurkan tanganmu,

aku tahu apa maksudmu.

………………..

Disiang hari tanpa atap,

sebotol bir tergeletak muntahkan isi perutnya.

Kau masih terduduk,

menggendong anakmu yang minta susu,

namun aku tak hendak bersua,

apalagi memandangmu.

2

Sebotol bir yang memabukkan,

menelanjangi sanubari.

Aku telanjang dan kau,

kita sama-sama telanjang.

3

Dibawah gerimis aku melihatmu,

terkantuk-kantuk mabuk,

kita berjumpa dalam gelora.

Satu juta rakyat kelaparan,

tong sampah bersih

dijamahi tangan-tangan kotor minta makan

dan kau masih mabuk

terkantuk-kantuk

kita bersua dalam birahi dunia.

4

Bunga merah terpajang dalam pot kecil

hujan gerimis menitik daun-daun kerdil,

anak gadis kecil menggigil di atas trotoar

siapakah yang punya tubuhnya,

hanya tuhan yang menjadikannya.

5

Tuan berdasi putih,

memakai jas rapi berjalan.

Bidadari kecil bercermin

membasuh wajah, hilangkan titik-titik kecil

dikamar gelap berkelakar birahi nafsu

 

Kau telanjangi diriku dalam dunia

bagai cicit tikus-tikus alit,

tergetar karena memuncak birahi;

Putra-putra dewa memandang,

teteskan air mani ke bumi.

Tanganmu menjamah tubuhku,

tuan mendesah, akupun mendesah

menikmati bau gelora jiwa.

6

Kita bersua dikala kemacetan melanda.

dari Jakarta pindah ke Yogyakarta,

jalan penuh sesak

kita berjumpa

dibawah lampu kota

berkelakar tentang kenyataan

di dalam peradaban semu

mengantung mimpi-mimpi

dalam desah berontak, berkata;

“digedung sana banyak orang-orang gila !;

Dunia !”

Semar

7

Ratapmu sendu, gontai melihat

tanganmu gemetar,

diatas bokong dan gelengkan kepala.

Kau pergi dari sini

berjalan tanpa peduli.

 

Balada tentangmu,

abadi dalam buku usang dalam lemari,

berdebu, koyak-moyak;

Dihimpit tangan-tangan alit waktu.

 

Kekuasaan adalah permainan birahi,

menjamah dada dengan nafsu;

Menggeliatkan manusia dalam kasur sutra,

gemerlapan berlian,

dari puting sampai pusarnya.

 

Mari kita baca bersama,

balada tentangmu.

Bulan tersipu menutup wajahnya,

matahari pun mengenakan celana dan mengancing bajunya,

kalian tahu siapa dia,

kalianpun malu dengannya

dalam buku ini tertulis

Semar Badranaya.

8

Di bumi pertiwi ini hidup adalah aturan,

yang dibuat di gedung reot !

Katanya;

Sambil terkantuk-kantuk membuatnya,

di setujui dengan air liur, dimulutnya.

9

Kesatria berkuda kehilangan kudanya,

hanya birahi yang dibawa.

Nyata tak bisa lindungi rakyatnya;

Karena Naya1 hilang jiwa.

 

Kesatria semua telanjang,

Swadana Maharjeng-tursita2 tak dipainya,

monyet tertawa, bersama anak-anak kecil

mainan ketapel.

 

Kesatria berkuda kehilangan pakaianya,

telanjang, terlentang dibawah kudanya

nyata tertawa.

Dua belibis pun tenggelam menahan tawa,

sakit perutnya.

Bahni-bahna Amurbeng-jurit3 tercantol

di tiang lampu jalan sana.

 

Kesatria berkuda kehilangan pedangnya

ditukar dengan uang receh di pasar sana,

Rukti-setya Garba-rukmi4 hanya jadi pajangan

tontonan para gelandangan.

10

Kau pergi ke dapur

ambil susu dan pergi tidur

“aku lelah !” katamu;

Berbaring benarkan selimutmu.

 

Berpuluh kepala menjadi beribu nyawa,

mengais TPU-TPU bersihkan kotoran-kotoran.

kau masih tertidur,

mendengkur.

11

Aku masih menyimak buku usang,

berdebu dan bau.

Jika kau bangun bimbinglah kami,

Jawa yang hilang sukma;

Jika kau terjaga, berilah kami,

Jawa yang kehilangan leluhurnya;

Dalam bumi yang telanjang

penuh fatamorgana.

Kami kehilangan Badra5.

 

Yogyakarta, 2011

 

NB :

1 Naya berarti kebijaksanaan.

2 “Swadana Maharjeng-tursita”, seorang pemimpin haruslah sosok intelektual, berilmu, jujur dan pandai menjaga nama, mampu menjalin komunikasi atas dasar prinsip kemandirian

3 “Bahni-bahna Amurbeng-jurit”, selalu berada di depan dengan memberikan keteladanan dalam membela keadilan dan kebenaran.

4 “Rukti-setya Garba-rukmi”, bertekad bulat menghimpun segala daya dan potensi, guna kemakmuran dan ketinggian martabat bangsa.

5 Badra yang berarti kebahagiaan.