KECOA COMBERAN

Tiga kali tiga hasilnya Sembilan.

Apakah yang kau rasa ?

Jika hasilnya sama antara empat kali dua delapan, begitu pula dengan dua pangkat tiga sama hasilnya; apakah yang kau rasa akan sama?. Hah..haTidak !! namun begitulah yang aku rasakan.

Ehhh ada yang berbeda denganmu?, tapi apa? Apakah yang berbeda?

Ahh itu tak penting dan tak amat dipentingkan, diriku, ataupun dirimu; ahh itu sungguh tidak penting.

Lagu lama ada yang enak didengar, lagu lama denganmu masih dikuncikan dalam hatiku. Tak semua lagu baru sama lakunya dengan lakon baru, tak hayal sama dengan lakon lama.

Ingatlah lagu lama tak selamanya merdu, namun tak dipungkiri masih bersenandung didalam lubang kinci hatiku.

….

Dibawah jembatan di sudut gedung tua itu, terdiam anak kecil menangis duduk di dekat tong sampah. Kenapa masih ada orang hidup yang hitam dari kehitaman wajahnya yang kotor, masih ada hitam paling hitam di dalam kuku yang hitam, kenapa? Masih terheran Edued Adler .I. melihat fenomena yang sangat sendu; indahnya lagu sendu di atas tangisan anak itu, alangkah indahnya.

Tak heran lagi jika memandang hal semacam itu, pikiran Edued masih bergerak; ternyata mereka masih mempunyai perasaan di dalam sebuah kehitaman perasaan kehidupan. Dapat dirasakan kesadaran akan dirinya “sekian lama mencari sebuah pengharapan, sendiri”, dalam perasaan yang dialami anak itu. Dia mengadu “apakah salah jika sudah lama menanti sebuah pengharapan, dan menemukannya dan tanpa terlalu lama menyatakan harapannya?, apakah terlalu cepat jika aku ingin keluar dari kehidupan yang seperti ini ?, hitam!”.

Tidak sepenuhnya apa yang dirasakan adalah sebuah kebenaran, begitu pula sebuah harapan tidak sepenuhnya sebuah kenyataan. Dia kembali berkata “aku hanya anak comberan, namun aku hanya inginkan sebuah ketulusan mengalir dari diriku; tubuhku tak berarti dan mungkin akan berarti saat kepalaku melebur bersama kencangnya kereta api yang melaju, barulah tubuhku hidup dan berarti, aku hanya inginkan itu, sebuah harapan”; terkadang harapan dang keinginan itu rumit, dan terkadang kenyataan itu tak sesulit yang dibayangkan, tak hayal seseorang terjabak dalam lubang itu.

Sakuku kecil, sempit

            Tak muat untuk menyimpan barang yang banyak

            Aku ingin menyimpan seukupnya, asalkan aku bisa, aku senang

Sakuku masih kecil, sempit

 

Pengharapan memang sesuatu yang wajar dalam sebuah kehidupan, impian adalah sebuah kewajiban dalam hidup; tak ada seseorang yang tak bermimpi untuk hidup, walaupun ia ingin mati tetaplah dia bermimpi bagaimanakah caranya untuik mati, bermimpi adalah sebuah pemikiran dalam dan lebih dalam.

Sambil berlalu dari sudut gedung itu “apakah salah sebuah harapan datang; menggenggam sebuah aliran ketulusan yang ingin keluar, apakah selmanya waktu berkuasa di atas yang Maha Kuasa?, ungkapan ketulusan apakah mempunyai waktu untuk keluar?”, masih tergerak dan berdering poros otak Edued A.I. “lagu lama masih berdendang pelan, apakah aku salah memelankan suara lagu lama dengan lakon lama yang telah usai untuk mendengarkan lagu baru?”, dalam benak kecil yang terselip dalam lipatan baju “apakah sama tiga pangkat dua dengan satu ditambah dua?, apakah sama? Apakah kau tau maksudku?” pertanyaan yang sama ditujukan pada poros otak Edued Adler .I.

 

/E.I/

04mar

yogyakarta