GAMBARAN PENDIRIAN HIDUP DALAM NOVEL ATHEIS

KARYA ACHDIAT KARTA MIHARDJA

 

I.                   PENDAHULUAN

Ketertarikan saya menganalisis novel Atheis adalah karena hampir semua unsur dalam novel tersebut sangat menonjol dan menjadi sebuah refleksi dalam kehidupan. Selain itu tokoh utama dalam novel Atheis yaitu Hasan yang mempunyai karakter penuh keragu-raguan, setengah-setengah dalam menyakini segala sesuatu, ikut-ikutan dan sering tak yakin pada pendiriannya, sehingga menambah ketertarikan saya dalam menganalisi novel tersebut.

Atheis merupakan novel pertama dan satu-satunya karya Achdiat Karta Mihardja yang terbit di Indonesia (novel yang kedua, Debu Cinta Bertebaran, terbit di Singapura, 1973). Keberhasilan Atheis terletak pada hampir semua unsurnya yang begitu menonjol. Latar tempat yang terejadi di daerah pasundan yaitu Garut dan Bandung, latar waktu pada masa orde baru latar sosial dengan berbagai tradisi keagamaannya, sangat mendukung perkembangan watak tokoh utamanya, yaitu Hasan.

Berkaitan dengan novel Atheis, bahwa di dalam perkembangan dan pertumbuhan masyarakat yang semakin maju maka semakin pudarnya nilai-nilai agama, sehingga rasa keragu-raguan mudah tumbuh karena kurang kuatnya pendirian apabila sudah menyangkut tentang perasaan. Dalam pembahasan novel Atheis ini kita dapat mengambil sebuah pelajaran tentang bagaimana kita bersikap dan kehati-hatian dalam bertindak, apabila sudah menyangkut hal yang pribadi seperti kepercayaan dan perasaan terhadap lawan jenis.

Dalam perkembangan dan kemajuan zaman ini berbagai macam idiologi dan pemikiran-pemikiran berkembang dengan cepat seiring dengan perembangan teknologi yang canggih. Kemudahan yang dapat diperoleh membuat seorang yang mesih mencari pemikiran dan pandangan hidup seperti cendekia muda dapat dengan mudah terpengaruh oleh kelompok-kelompok tertentu yang ingin menyebarkan paham atau idiologi untuk kepentingan kelompok itu sendiri atau tujuan lain. Dalam permasalahan yang mendasar tentang paham dan ideologi setidaknya ada sebuah nilai-nilai yang mendasari pandangan hidup yang kuat seperti agama, sehingga dapat mengurangi keragu-raguan dan ketidaksiapan oleh datangnya paham dan idiologi baru yang datang dan masuk dalam kehidupan seseorang.

II.                SISTEMATIKA

Alur dalam novel tersebut disajikan dengan alur maju/progresif (awal-tengah-akhir), dimana tahap awal pengenalan tokoh Hasan yang berasal dari Bandung. Tahap tengah terjadi sebuah konflik dimana tokoh Hasan rela berputus hubungan dengan ayahnya, demi mengawini Kartini janda muda. Pandangan yang berbeda dengan Hasan dan tidak kuat pendirian seorang membuat ia terjerumus dalam hitamnya dunia, dia harus merelakan keimanannya. Tahap akhir dari novel tersebut yaitu dimana Hasan yang merasa dendam dengan Anwar, yang dia pikir sebagai penyebab putus hubungnnya dengan istri dan ayahnya, Hasan pun mencari untuk membalaskan dendamnya. Sewaktu Hasan mencari Anwar di kegelapan malam, langkah Hasan terhenti ketika sebuah peluru menembus dadanya. Badannya yang lemah itu berguling-guling sebentar di aspal, bermandi darah. Kemudian dengan bibir bergegas kata “Allahu Akbar”, tak bergerak lagi……..(hlm. 248)

Toko utama dalam novel atheis adalah Hasan yang mempunyai karakter penuh keragu-raguan, setengah-setengah dalam menyakini segala sesuatu, ikut-ikutan dan sering tak yakin pada pendiriannya, digambarkan secara amat meyakinkan, dengan demikian, penokohan dalam novel ini juga terasa begitu kuat. Unsur lain yang menonjol dalam struktur ceritanya yang justru diawali dengan akhir riwayat hidup tokoh utamanya, Hasan. Jadi menyerupai sebagai cerita berbingkai, hanya dalam struktur yang berbeda. Unsur lain yang tak kalah pentingnya adalah bentuk penceritaannya yang menggunakan tiga penceritaan sekaligus, yaitu akuan sertaan, tokoh “Aku Hasan”, akuan tak sertaan; tokoh “saya”, dan diaan.

Keseluruhan unsur itu, secara padu mendukung tema yang pada saat kemunculan novel ini merupakan tema baru; menyangkut sosial kepercayaan (agama) dan tidak lagi soal adat atau kawin paksa sebagaimana yang terdapat dalam novel-novel sebelumnya.

III.             PEMBAHASAN TEORI

Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra berupaya memahami hubungan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Dalam pendekatan ini karya sastra dianggap sebagai tiruan alam atau kehidupan (Abrams, 1981). Untuk dapat menerapkan pendekatan mimetik dalam mengkaji dan memahami karya sastra, dibutuhkan data-data yang berhubungan dengan realitas (kenyataan) yang ada di luar karya sastra, yaitu kenyataan yang dipandang sebagai latar belakang atau sumber penciptaan karya satra yang akan dikaji.

Berbagai macam persoalan yang mendasari seseorang untuk menciptakan sebuah karya sastra, terlepas dari persoalan tersebut fokus pembahasan kita adalah bagaimana kita mengkaji karya sastra dan memahami hubungannya dengan realita yang ada.

Berbagai macam tujuan penulis misalkan mengankat persoalan atau masalah yanga ada dan perlu untuk di ungkapkan guna menyalurkan idea tau gagasan yang dimiliki seorang penulis dalam memandang persoalan dan masalah tersebut, disamping mengungkapkan dan mencari berbagai sisi tentang adanya pesan moral yang terdapat dalam sebuah masalah dan bagaimana pemecahan masalahannya.

IV.             HASIL ANALISIS

Yang menjadi latar realitas bagi novel ini kondisi Bandung, lebih luas lagi Indonesia pada masa penjajahan Jepang di Indonesia. Ada latar yang berupa perkembangan pemikiran dan situasi perpolitikan saat itu, ada juga berupa pelataran tempat berupa suasana kehidupan di kota Bandung waktu itu. Kemudian pelataran lain yang tak perlu dibahas terkait fokus kajian tulisan kali ini ada juga bisa kita sebut berupa keadaan daerah Garut atau bagaimana cara berpakaian orang dan permainan anak-anak tempo dulu.

Pada masa penjajahan Jepang faham-faham barat mulai berkembang sejak zaman kesusastraan pujangga baru, perkembangan faham barat semakin luas di kalangan cendikia-cendikia bangsa. Salah satu yang berkembang sangat cepat saat itu adalah ideologi marxis yang dilahirkan sebagai sebuah konsep pemikiran untuk melawan ketidakadilan cara hidup masyarakat kapitalis oleh seorang Jerman bernama Karl Marx dan kemudian dipraktekkan dengan kejam oleh Lenin setelah melalui perombakan faham komunisme dari Lenin.

Bangsa Indonesia pada zaman itu mempunyai pengaruh dalam perkembangan gerakan komunis yang bercampur dengan pengertian ideologi marxis dengan mengawali gebrakan-nya lewat pemberontakan Madiun 1948. Bisa dipahami bahwa pada masa-masa penjajahan Jepang perkembangan dan pengaruh pemikiran dan idiologi berkembang sangat pesat karena dalam rangka pembebasan bangsa Indonesia dari masa penjajahan, sebagaimana pula cerita novel Atheis ini, merupakan gerakan-gerakan awal dari komunitas-komunitas yang masih berupa aksi kecil dan forum tukar pikiran demi membina kemapanan pemahaman ideologi yang dikembangkan.

Pada masa-masa itu juga, paham keagamaan tradisional masyarakatnya mulai berhadapan dengan gaya hidup barat yang sangat terbatas dikenalkan oleh Belanda dan ideologi komunis, yang sebaliknya sangat merakyat disebarkan oleh pemikir-pemikir muda. Namun, sejarah membuktikan bahwa kemudian komunis dihancurkan  untuk selama-lamanya dari bumi indonesia pada ujung peristiwa G30S/PKI tahun 1965.

Ragam pemikiran yang berkembang lebih variatif dalam beberapa tahun terakhir. Pada sekira tahun 40-an dapat dilihat betapa masih sangat keras benturan yang terjadi antara pemahaman keagamaan tradisional muslim, yang menjadi mayoritas minor di Indonesia begitupula dengan latar belakang pendidikan masyarakat masa itu terhadap arus pemikiran marxis yang seperti aneh dan amat sadis. Namun yang lebih mengemuka masa itu adalah wacana nasionalisme kemerdekaan Indonesia, dan pertentangan tak ada ujung antara kaum religius bangsa dengan kaum komunis pun dibungkus aman dalam ikatan nasionalisme kebangsaan. Suasana kehidupan di kota Bandung waktu itu pun terkait erat dengan suasana umum pergolakan perjuangan bangsa. Modernitas mendapat tempat di kota-kota dibawa Belanda, namun kondisi perang memang tak ada yang baik. Tapi tentu saja sebagian aktifitas harian masyarakat biasa terus berlanjut di tengah-tengah situasi tersebut. Termasuk sarana hiburan grup-grup sandiwara yang pada masa itu mengalami masa keemasan.

Dari segi refleksi sosial budaya dan posisi pengarangnya yaitu pengarang dalam novel ini ditempatkan sebagai orang ketiga yang berhubungan langsung dengan tokoh Hasan sebagai tokoh utama. Maka Hasan pun menjadi pencerita dalam sebagian besar cerita lalu setelah kematiannya, pengaranglah yang meneruskan dengan cara menelusuri berbagai cerita tentang kehidupan Hasan yang tak sempat diketahuinya.

Novel ini menggambarkan situasi sosial (dalam) pada masa itu (sehingga ia juga berupa rekaman sejarah dalam beberapa hal), dan memperlihat suatu kondisi psikologis yang ada pada sebuah individu yang hidup pada masa itu. Diceritakan dalam novel bagaimana tokoh Hasan menderita beban pikiran sebab ia mulai dirasuki pemikiran marxis yang bertentangan dengan keyakinan tradisionalnya selama ini. Juga kemudian bagaimana ia harus pula mewujudkan semai-semai bunga cintanya pada Kartini yang membuat ia memaksakan diri untuk tetap bergabung dalam komunitas tersebut. Lalu, ternyata mendapatkan Kartini pun tak membuat bahagia bagi Hasan. Sebagai makhluk yang ternyata tetap tak bisa menghilangkan cara pikir konservatifnya, Hasan berpisah dengan Kartini. Namun, belum berpisah dengan ke marxis-annya.

Situasi seperti ini menggambarkan pula bagaimana salah satu episode kemelut hidup yang mungkin dihadapi oleh seorang anak bangsa pada masa itu. Sejarah menceritakan bagaimana marxis dihabisi di bumi pertiwi dan kehidupan orde baru tak memberi tempat bagi kekalahan cara pikir tradisional seperti yang terjadi dalam novel ini. Akhir hidup tragis yang dialami oleh tokoh Hasan barangkali dijadikan suatu alasan bagi otoritas ideologi dewasa ini untuk tetap memublikasi karya ini, sebagai peringatan bukan teladan. Dan ideologi marxis tetap jadi masalah hingga dewasa ini bagi pandangan hidup tradisional masyarakat Indonesia yang malah berusaha menuju sistem hidup kapitalis.