KERENDAHAN HATI DAN KESEDERHANAAN DALAM CERPEN MBOK JAH

KARYA UMAR KAYA

I.       Pendahuluan

Umar Kayam adalah seorang penulis yang dapat dibilang cukup produktif dalam menghasilkan sebuah karya. Kepiawaiannya menulis dan begelut dalam bidang kesenian di mulai sejak masih mahasiswa di Universitas Gajah Mada tahun lima puluhan. Karya-karyanya terutama cerita pendek dimuat antara lain dalam majalah Horison.

Dalam pembahasan ini kita memebahas salah satu cerpennya yang berjudul Mbok Jah. Dalam cerpen ini umar kayam ingin memberikan pesan bahwa sebuah kesederhanaan dan kerendahan hati sangat diperlukan. Karya sastra memang tidak pernah terlepas oleh realitas. Kentalnya nuansa jawa termasuk di dalamnya nuansa Yogyakarta dan Gunung Kidul muncul sebagi latar tempatn ini.

Sehingga sangat menarik bagaiman umar kayam melukiskan sebuah pesan moral dengan sangat sederhana namun dapat memeberikan kesan yang mendalam tentang pesan yang akan disampaikan melalui cerpen ini.

II.    Sistematika

Cerita berawal dari bagaimana Mbok Jah menceritakan keadaannya saat masih mengabdi di keluarga Mulyono di kota.

“Sudah dua tahun, baik pada Lebaran maupun Sekaten, Mbok Jah tidak “turun gunung” keluar dari desanya di bilangan Tepus, Gunung Kidul, untuk berkunjung ke rumah bekas majikannya, keluarga Mulyono, di kota. Meski pun sudah berhenti karena usia tua dan capek menjadi pembantu rumah, Mbok Jah tetap memelihara hubungan yang baik dengan seluruh anggota keluarga itu. Dua puluh tahun telah dilewatinya untuk bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga yang sederhana dan sedang-sedang saja kondisi ekonominya. Gaji yang diterimanya tidak pernah tinggi, cukup saja, tetapi perlakuan yang baik dan penuh tepa slira dari seluruh keluarga itu telah memberinya rasa aman, tenang dan tentram.

Buat seorang janda yang sudah selalu tua itu, apalah yang dikehendaki selain atap untuk berteduh dan makan serta pakaian yang cukup. Lagi pula anak tunggalnya yang tinggal di Surabaya dan menurut kabar hidup berkecukupan tidak mau lagi berhubungan dengannya. Tarikan dan pelukan istri dan anak-anaknya rupanya begitu erat melengket hingga mampu melupakan ibunya sama sekali. Tidak apa, hiburnya. Di rumah keluarga Mulyono ini dia merasa mendapat semuanya. Tetapi waktu dia mulai merasa semakin renta, tidak sekuat sebelumnya, Mbok Jah merasa dirinya menjadi beban keluarga itu. Dia merasa menjadi buruh tumpangan gratis. Dan harga dirinya memberontak terhadap keadaan itu. Diputuskannya untuk pulang saja ke desanya.

…………..”

Klimak dimulai dari perginya Mbok Jah kembali ke kampong halamannya karena sudah merasa tua dan hanya menjadi beban bagi keluarga Mulyono dan sampai pada akhirnya keluarga Mulyono mengetahui bagaimana keadaan yang sebenarnya di kampong halamann Mbok Jah di Gunung Kidul.

“Pokoknya keluarga majikan tidak mau ditinggalkan oleh mbok Jah. Tetapi keputusan mbok Jah sudah mantap. Tidak mau menjadi beban sebagai kuda tua yang tidak berdaya. Hingga jauh malam mereka tawar-menawar. Akhirnya diputuskan suatu jalan tengah. Mbok Jah akan “turun gunung” dua kali dalam setahun yaitu pada waktu Sekaten dan waktu Idul Fitri.

Mereka lantas setuju dengan jalan tengah itu. Mbok Jah menepati janjinya. Waktu Sekaten dan Idul Fitri dia memang datang. Seluruh keluarga Mulyono senang belaka setiap kali dia datang. Bahkan Kedono dan Kedini selalu rela ikut menemaninya duduk menglesot di halaman masjid kraton untuk mendengarkan suara gamelan Sekaten yang hanya berbunyi tang-tung-tang-tung-grombyang itu. Malah lama kelamaan mereka bisa ikut larut dan menikmati suasana Sekaten di masjid itu.

……………………..
Setiap dia pulang ke desanya, mbok Jah selalu kesulitan untuk melepaskan dirinya dan pelukan Kedono dan Kedini. Anak kembar laki-perempuan itu, meski sudah mahasiswa selalu saja mendudukkan diri mereka pada embok tua itu. Ndoro putri dan ndoro kakung selalu tidak lupa menyisipkan uang sangu beberapa puluh ribu rupiah dan tidak pernah lupa wanti-wanti pesan untuk selalu kembali setiap Sekaten dan Idul Fitri.

…………………………….

Tetapi begitulah. Sudah dua Sekaten dan dua Lebaran terakhir mbok Jah tidak muncul. Keluarga Mulyono bertanya-tanya jangan-jangan mbok Jah mulai sakit-sakitan atau jangan-jangan malah….

“Ayo, sehabis Lebaran kedua kita kunjungi mbok Jah ke desanya,” putus ndoro kakung.

…………………………..

Dan waktu untuk bertanya kesana kemari di daerah Tepus, Gunung Kidul, itu ternyata lama sekali. Pada waktu akhirnya desa mbok Jah itu ketemu, jam sudah menunjukkan lewat jam dua siang. Perut Kedono dan Kedini sudah lapar meskipun sudah diganjal dengan roti sobek yang seharusnya sebagian untuk oleh-oleh mbok Jah.

Desa itu tidak lndah, nyaris buruk, dan ternyata juga tidak makmur dan subur. Mereka semakin terkejut lagi waktu menemukan rumah mbok Jah. Kecil, miring dan terbuat dan gedek dan kayu murahan. Tegalan yang selalu diceriterakan ditanami dengan palawija nyaris gundul tidak ada apa-apanya.

……………………..

Tanpa menunggu pendapat ndoro-ndoronya mbok Jah langsung saja menyibukkan dirinya menyiapkan makanan. Kedono dan Kedini yang ingin membantu ditolak. Mereka kemudian menyaksikan bagaimana mbok Jah mereka yang di dapur mereka di kota dengan gesit menyiapkan makanan dengan kompor elpiji dengan nyala api yang mantap, di dapur desa itu, yang sesungguhnya juga di ruang dalam termpat mereka duduk, mereka menyaksikan si mbok dengan sudah payah meniup serabut-serabut kelapa yang agaknya tidak cukup kering mengeluarkan api. Akhirnya semua makanan itu siap juga dihidangkan di meja. Yang disebutkan sebagai semua makanan itu nasi tiwul, daun singkong rebus dan sambal cabe merah dengan garam saja. Air minum disediakan di kendi yang terbuat dari tanah.”

Diatas adalah penggalan-penggalan cerpen Mbok Jah, yang menceritakan bagaimana sebuah kesederhanaan dan kerendahan hati seorang pembantu rumah tangga.

III. Pembahasan Teori

Dalam pembahasan teori mengenai Mata Yang Indah ada beberapa teori pendukung dalam analisis ini. Yaitu moral itu sendiri, moral yang sangat mendasari pada kandungan isi sebuah novel baik dari segi sikap, tingkah laku dan ceritanya. Istilah Moral berasal dari bahasa latin. Moral merupakan sesuatu yang ingin disampaiakan oleh pengarang kepada pembaca, yang merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra dan makna yang disarankan lewat cerita (Nurgiyantoro,2003:321).

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pragmatik. Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung nenilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya (Pradopo, 1994). Karena karya satra tidak lepas dari sebuah pelajaran dan permasalahan kehidupan. Sehingga sering sekali karya sastra disebut dengan realitas yang difiksikan dengan mengambil berbagai nilai atau pelajaran yang ada.

IV. Hasil Analisis

Diketahui bahwa kehidupan dalam kultur jawa adalah kehidupan yang penuh dengan adat dan kebiasaan yang santun, selain itu kebudayaan jawa mengajarkan bagaimana kita berperilaku dan bermartabat baik, jujur, dan ihklas dalam menjalani kehidupan dan pekerjaan.

Dalam cerpen Mbok Jah ini digambarkan bagaimana kerndahan hati dan kesederhanaan berdampingan dengan rasa tidak ingin menyusahkan orang lain yang diperankan oleh Mbok Jah. Rasa ngrumangsani atau melihat diri sendiri, mengabdi secara iklas tanpa minta imbalan yang lebih-lebih memberikan pelajaran moral yang sangat berharga bagi kita.

Pada jaman sekarang, rasa ngrumangsani dan rendah diri sudah mulai pudar dan hilang. Sekarang sudah menilai sesuatu dengan ukuran benda atau materi. Rasa iklas dan setia sudah mulai hilang dari masyrakat kita, khususnya para pekerja dalam pemerintahan. Pengabdian kepada pemerintah, bangsa dan Negara hanya sebagai kedok atau topeng untuk memperkaya diri sendiri.

Rasa rendah diri dan kesederhanaan aganya harus mulai dibangun dalam pola piker masyarakat sehingga menumbuhkan adanya kepekaan terhadap lingkungan sekitar khususnya kepentingan bersama.