KETULUSAN DALAM NOVEL PARA PRIYAYI

KARYA UMAR KAYAM

I.            PENDAHULUAN

            Kesusahan serta kesulitan memang bukan suatu pengahalang bagi seseorang untuk bisa mendapatkan sebuah kemuliaan. Dalam novel yang berjudul Para Priyayi karya Umar Kayam ini, ketulusan ditunjukkan oleh Lantip. Kesusahan serta kesulitan dalam hidup ini bukanlah sesuatu yang sangat buruk, dengan sebuah ketulusan pasti akan ada jalan yanglebar dalam menghadapi kehidupan dan kesukaran yang dialami.

            Menarik jika membaca novel ini, bagaimana sebuah konstruksi yang sangat baik ditunjukkan oleh Umar Kayam dan menunjukkan bahwa ia adalah pengarang besar Indonesia. Dalam novel ini dapat dilihat pula bagaimana Umar Kayam menunjukkan jiwanya dalam merasakan dan melihat sisi lain dari setiap detail kehidupan dan membuat sebuah kontruksi pesan moral dalam sebuah cerita.

            Dalam mengkaji setiap karya sastra kita pasti akan mendapatkan berbagai macam pesan moral atau pun kita akan melihat berbagai ralitas kenyataan dalam pandangan yang berbeda, dan dengan nuansa yang berbeda pula. Sehingga sangat menarik jika kita membaca dan mengkaji buku ini. Menarik bahwa Umar Kayam sering menampilkan dan menonjolkan sisi kesederhanaan dan juga nuansa jawa yang kental dalam setiap karyanya.

II.            SISTEMATIKA

Novel ini menceritakan tentang Wage anak desa yang berasal dari desa Wanalawas. Sejak dalam kandungan ia telah menjadi anak yatim. Sehingga ia hanya tinggal dengan ibunya yang biasa dipanggil “Mbok” oleh Wage. Kehidupan desa Wanalawas yang diliputi kemiskinan membuat Wage menjadi anak yang memiliki kepribadian lugu dan penurut. Ia rajin membantu ibunya yang bekerja sebagai penjual tempe. Ketika Wage berusia enam tahun, Ibunya menyerahkan Wage kepada langganannya yaitu kepada keluarga Sastradarsono yang tinggal di jalan Setenan di desa Wanagalih. Keluarga Sastradarsono adalah kelurga priyayi. Sastradarsono juga berasal dari keluarga yang kurang mampu yang akhirnya Sastradarsono dipelihara dan dirawat oleh keluarga priyayi juga. Hingga akhirnya Sastradarsono bisa menjadi seorang guru sekaligus seorang priyayi. Semenjak tinggal dengan keluarga Sastradarsono secara otomatis derajat seorang Wage yang merupakan anak desa itu menjadi naik. Oleh karena itu Sastradarsono pun mengubah nama Wage, namanya diganti menjadi Lantip, karena nama tersebut dipandang lebih bermakna dan lebih pantas untuk hidup di lingkungan priyayi. Walaupun Lantip hanyalah anak titipan namun Sastradarsono senantiasa memperlakukannya dengan baik. Selain itu mendapat perhatian cukup, Lantip juga dididik dalam keluarga dan di sekolah hingga Lantip bisa menjadi seoran yang berhasil masa depannya. Semua itu adalah berkat budi baik dari keluarga Sastradarsono.

Keluarga Sastradarsono banyak peristiwa suka maupun duka yang telah dirasakan oleh Lantip. Suasana duka dan kenyataan pahit yang ia juga mengetahui bahwa Bapaknya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Sastradarsono. Tetapi Bapaknya bukan seorang priyayi seperti yang ia kira. Justru Bapaknya meninggal dengan menyandang nama buruk karena ia merupakan salah satu anggota perampok. Tetapi kenyataan lain yang yang dirasakannya pada suasana di keluarga besar Sastradarsono membuat Lantip dapat mengobati luka dan kekecewaan di hatinya.

Anak desa Wanalawas itu melihat betapa keluarga besar yang telah merawatnya itu merupakan keluarga yang sangat bahagia. Sastradarsono adalah pemimpin keluarga yang sangat beruntung karena memiliki anak dan istri yang patuh dan taat padanya. Puncak kebahagiaan Sastradarsono di lengkapi dengan hadirnya tiga orang anak yang sangat berbakti dan membanggakannya. Nugroho anak pertamanya yang berhasil menyelesaikan sekolah hingga menjadi guru. Nugroho kemudian menikah dengan Susanti yang dikaruniai tiga orang anak, yaitu: Tiny, Maria dan Tomy. Tak lama kemudian Nugroho diangkat menjadi Opsir Tentara Republik yang ikut dalam peperangan. Ketika itu pula, Nugroho menerima kenyataan pahit karena Tony meninggal. Anak kedua Sastradarsono adalah Hardojo, seperti Nugroho, ia menjadi guru. Meskipun ia sempat gagal menikah, tetapi akhirnya ia menikah lagi dengan Sumarti yang dikaruniai seorang anak yang bernama Harimurti. Kemudian Lantip diangkat menjadi anak Harjono. Anak ketiga Sastradarsono adalah Sumini, ia juga seorang guru. Sumini menikah dengan Harjono yang dikaruniai anak.

Sesungguhnya Sastradarsono telah merawat dan membesarkan banyak anak dari saudaranya yaitu Sri, Darmin, Ngadiman dan Soenandar, ayah kandung Lantip serta Lantip itu sendiri. Lantip yang hanya anak angkat sempat dipandang sebelah mata oleh keluarga Sastradarsono. Namun pengabdiannya yang tulus mampu mematahkan pandangan itu. Keluarga Sastradarsono terkesan dengan anak desa Wanalawas itu karena Lantip mampu membantu menyelesaikan persoalan dalam keluarga selain ia tulus mengabdi dan berbakti keluarga Sastradarsono.

III.            PEMBAHASAN TEORI

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pragmatik. Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung nenilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya (Pradopo, 1994). Karena karya satra tidak lepas dari sebuah pelajaran dan permasalahan kehidupan. Sehingga sering sekali karya sastra disebut dengan realitas yang difiksikan dengan mengambil berbagai nilai atau pelajaran yang ada.

Penedekatan Sosiologi Sastra merupakan perkembangan dari pendekatan mimetik yang memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan (wiyatmi, 2003). Dalam karya sastra tidak dapat kita pisahkan dengan kehidupan masyarakat yang ada, pada dasarnya penulis adalah bagian dari sebuah struktur masyarakat.

Dalam sebuah karya sastra memang mempunyai tujuan, dan berbagai macam tujuan itu pasti ada sebuah realitas yang menjadi dasar ekspresi pengarang menciptakan sebuah karya sastra, sehingga karya sastra tidak akan jauh antara sastrawan, karya sastra dan masyarakat.

IV.            HASIL ANALISIS

Novel ini menonjolkan makna sosial. Makna itu tercermin dalam kehidupan masyarakat Jawa yang kental dengan tradisi dan budaya. Novel ini mengisahkan tentang kehidupan keluarga priyayi. Priyayi merupakan suatu tingkatan sosial dalam masyarakat Jawa. Sehingga seorang priyayi senantiasa dipandang terhormat dan agung dalam masyarakat Jawa. Kesan priyayi justru ditunjukkan oleh Lantip yang bukan berasal dari keluarga priyayi. Sehingga ide cerita dalam novel ini terletak pada peranan Lantip yang merupakan anak yang berasal dari desa dan jauh dari kehidupan priyayi.

Dalam realitasnya keadaan yang dinyatakan dalam berbagai karya Umar kayam adalah sebuah keadaan yang sangat nyata, dan juga dalam keadaan yang nyata pula walaupun dalam tokoh-tokoh yang ada dalam novel itu kemungkinan adalah sebuah rekaan. Namun dalam sebuah kebudayaan yang digambarkan adalah sebuah budaya jawa yang sangat kental, latar atu setting pun terdapat dalam kisah yang nyata.

Dalam ralitasnya seseorang seperti lantip banyak dan mudah di jumpai, hanya masalah dan kesukaran dalam memenuhi kebutuhan hidup menjadikan kehidupan seseorang itu merasa terbelenggu oleh jaman. Namun dalam tokoh lantip menggambarkan bagaimana ketulusan dan keikhlasan yang diberikan kepada keluarga sastrodarsono menjadikan lantip menjadi seorang yang pandai, cerdas dan dihormati. Dan berkat keluarga itupun lantip juga dapat menjadi seorang priyayi, namun perilaku kepriyayiannya itu adalah hasil dari kesantunan, ketulusannya mengabdi dengan keluarga sastrodarsono. Dengan mengkaji karya sastra kita mendapatkan berbagai macam pelajaran moral yang banyak seperti dalam novel sastra ini.


DAFTAR PUSTAKA

Wiyatmi, 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Kayam, Umar. Cetakan III. 2010. Para Priyayi. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti.