KEIKHLASAN DALAM CERPEN PADA HARI KEMATIAN KERBAU

KARYA KUNTOWIJOYO

I.            PENDAHULUAN

            Hidup adalah sebuah anugerah, dalam hidup kita pasti akan mendapatkan sesuatu yang berharga. Dalam kehidupan yang dirasa sangat menyenangkann pasti akan ada pula kesedihan. Dalam cerpen pada hari kematian kerbau karya kuntowijoyo ini, terdapat berbagai macam nilai tentang kehidupan, dan menyangkut tentang keikhlasan.

            Dalam cerpen ini pula diceritakan tentang bagaimana kita berusaha menepati janji. Kita sering mendengar bahwa janji adalah sebuah hutang dan pada akhirnya nanti janji itu akan dimintai pertanggung jawaban. Sehingga bilamana seseorang berjanji maka haruslah ia menepatinya.

II.            SISTEMATIKA

Dalam cerpen ini diceritakan bagaimana tokok aku yang merelakan janji kakeknya karena demi kelancaran kakeknya yang sudah sakaratulmaut. Cerita berawal dari aku mendapatkan kabar bahwa kakenya sakit keras.

Ketika pagi-pagi aku sedang mengeluarkan sepeda mau berangkat sekolah, seorang utusan dari desa ayah datang.Dia mengatakan bahwa Kakek sakit keras — yang belakangan aku tahu itu artinya bahwa Kakek sedang sekarat, menuju kematian.Kakek jadi lurah di desanya.

……..

Pulang sekolah siang itu aku ke desa Kakek, 12 kilometer dari sekolah dan tiga kilometer dari desaku.Orang-orang sudah berkumpul.Kakek terbujur di dimpil, sedang lelaku, menghadapi sakaratul maut.Dimpil adalah sayap tambahan sebelah kanan rumah.Tujuh orang membaca Surat Yasin di dekatnya.Ibu membawaku ke belakang untuk makan dan shalat.Aku tahu matanya sembab karena menangis.

……..

Dalam bagian ini sudah mulai bagaimana permasalahan di tampilkan .

Aku mengambil buku Yasin yang tersedia dan ikut membacanya.Berulang-ulang.Sampai Ashar tiba, sampai Maghrib tiba, sampai Isya’ tiba.Kakek masih terbaring, tak sadar kanan-kiri.

Orang-orang tua lalu berkumpul di pendapa.Mereka prihatin karena Kakek tidak mati-mati.Menurut mereka, mati yang sempurna ialah yang cepat, sederhana, dan tidak menyusahkan orang.

“Ada yang ditunggunya?” tanya seorang.

“Ya, Si Bungsu belum datang.”Yang dimaksud adalah Paman, anak yang konon paling dicintainya.Ia bekerja di pemboran minyak lepas pantai. Maka ketika Paman datang menjelang tengah malam, orang-orang berharap bahwa Kakek akan dengan sukarela meninggalkan dunia ini. Tetapi tidak.Tetap saja Kakek terbaring lelaku.Kata ustadz di surau itu tanda mati yang tidak sempurna.Aku jatuh kasihan pada Kakek.Menurut ingatan saya Kakek adalah orang yang saleh, peramah, dan tidak pernah menyakiti hati orang.

……

Begitu banyak orang ingin menyaksikan bagaimana Kakek menghembuskan napas yang penghabisan, sehingga dimpil jadi panas, orang-orang yang mengaji berhenti, ingin tahu apa yang kemudian terjadi. Orang-orang terdiam, hanya napas Kakek yang terdengar.Mereka menunggu lama, tapi tak ada perubahan.Orang mulai meninggalkan kamar, satu per satu.

………

Kembali gelengan kepala dan “tidak” terdengar. Kemudian mata orang pintar itu menatap saya.
“Kaulah yang belum bicara, cucu,” katanya.

Semua yang hadir memandang aku. Dengan jujur kukatakan:

“Ya, sebenarnya ada.Tapi sudah lama sekali.”

Orang-orang bergumam.“Katakan, nak.Katakan, cucu,” desak orang.

Sebentar aku melihat wajah-wajah yang penuh harap.
“Kau sudah siap mengatakan, cucu?” tanya orang pintar.
Pertanyaan itu kujawab dengan anggukan.

“Kalau begitu katakan.”

Aku pun bilang, “Kakek pernah berjanji padaku, akan membelikan seekor kerbau.”

Terdengar gumam panjang.

            Akhirnya akupun merelakan janji kakeknya yang akan memebelikan ia seekor kerbau, sehingga bisa mengantarkan kakek pergi dengan tenang ke alam baka.

 III.            PEMBAHASAN TEORI

Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung menilai karya satra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya (Pradopo, 1994).

Dalam pembahasan teori mengenai cerpen Pada Hari Kematian Kerbau ada beberapa teori pendukung dalam analisis ini. Yaitu moral itu sendiri, moral yang sangat mendasari pada kandungan isi sebuah novel baik dari segi sikap, tingkah laku dan ceritanya. Istilah Moral berasal dari bahasa latin. Moral merupakan sesuatu yang ingin disampaiakan oleh pengarang kepada pembaca, yang merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra dan makna yang disarankan lewat cerita (Nurgiyantoro,2003:321).

 IV.            HASIL ANALISIS

            Menarik jika kita membaca cerpen Kuntowijoyo ini karena bagaimana ia menulis judul pada hari kematian kerbau, padahala dalam cerpen di ceritakan yang meninggal adalah kakenya. Kematian kerbau ini di lihat bukan dalam arti sebenarnya melainkan bagaimana janji kakeknya yang tidak terlaksana dan cucunya merelakan janji kakenya agar bisa mempercepat kematian kakenya.

            Dalam cerpen ini menarik untuk dibahas bagaimana Kuntowijoyo menyampaikan sebuah pesan melalui cerita ini. Kita dapat menemukan pesan bagaimana tentang bagaimana kita harus berusaha menepati sebuah janji walaupun sekecil apapun.

            Dalam masyarakat kita mengenal istulah bahwa janji adalah hutang, bagaimanapun kita harus berusaha menepati janji itu. Dalam cerpen ini diceritaan bagaimana kakek belum tenang meninggalkan dunia ini karena masih mempunyai sebuah janji, yaitu janji kepada cucunya untuk membelikan sebuah kerbau untuk modal jiaka sudah dewasa.

            Kita dapat pelajaran bagaimana harus menepati janji bagaimanapun caranya. Selain itu kita dapat mengambil pesan bagaimana seorang aku merelakan janji kakenya agar supaya kakeknya bisa meninggalkan dunia dengan tenang.

 DAFTAR PUSTAKA

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Wiyatmi. 2006. Pengantar kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Republika, Kumpulan cerpen. Pembisik. 2002.Jakarta : Penerbit Republika